There are currently 2793 movies on our website.

Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Dewasa

0
( High Quality )

Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Dewasa

merupakan situs Foto Bokep terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, CCerita Sedarah, Cerita Dewasa Tante, Foto Bokep Terlaris serta Cerita Dewasa ABG Terlaris dan masih banyak lagi.

Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Dewasa

s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun 2015 Cerita Dewasa Sex Terlaris dimana anda bisa membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok penis anda…..

Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Cerita Dewasa – ekspedisi Bisnis ke Surabaya sesungguhnya sungguh menyenangkan, gara-gara akan ketemu sahabat lama yang sudah lama kutinggalkan, sayangnya suamiku Hendra tidak bisa menemaniku gara-gara kesitidaklah. dikawani Andi, salah seorang keyakinanku, kami terbang flight sore supaya bisa istirahat dan besok bisa meeting dalam situasi fresh dan tidak loyo gara-gara harus bangun pagi pagi buta, mengingat meeting besok aku perkirakan akan diadakan cukup alot gara-gara menyangkut negosiasi dan perjanjian, disamping itu meeting Pak Reza, calon clien, jadwalnya jam 10:00 pagi. Pukul 19:00 kami check in di Sheraton Hotel, sesudah menyelesaikan administrasinya kami langsung masuk ke kamar masing masing untuk istirahat. Kurendam tubuhku di bathtub air hangat untuk melepas rasa penat sesudah seharian meeting di kantor menyiapkan bahan meeting untuk besok. Cukup lama aku di kamar mandi hingga kudengar HP ku berbunyi, tapi tak kuperhatikan, paling juga suamiku yang lagi kesepian di rumah, pikirku. sesudah puas merendam diri, kukeringkan tubuhku handuk menuju ke kamar. Kukenakan pakaian santai, celana jeans straight dan kaos ketat full press body tanpa lengan hingga lekuk tubuhku tercetak jelas, kupandangi penampilanku di kaca, dadaku kelihatan padat dan mengajukan tantangan, cukup attraktif, di usiaku yang 32 tahun pasti orang akan mengira aku masih mempunyai umur sekitar 27 tahun. Kutelepon ke rumah dan HP suamiku, tapi ke-2nya tidak ada yang jawab, lalu kuhubungi kamar Andi yang nginap tepat di Dibagian, idem ditto. Aku teringat miss call di HP-ku, terbukti si Rio, gigolo langgananku di Jakarta, kuhubungi dia. “hallo sayang, tadi telepon ya” sapaku “mbak Lily, ketemu yok, aku udah kangen nih, kita pesta yok, ntar aku yang nyiapin pesertanya, pasti oke deh mbak” nada/suara dari ujung merajuk “pesta apaan?” “pesta asik deh, dijamin puas, Mbak Cuma sediakan tempatnya saja, lainnya serahkan ke Rio, pasti beres, aku jamin mbak” bujuknya “emang berapa orang” tanyaku penasaran “rancanganku sih aku dua kawanku, lainnya terserah mbak, jaminan kepuasannya Rio deh mbak” “asik juga sih, sayang aku lagi di Surabaya nih, bagaimana kalo sekembalinya aku nanti” “wah sayang juga sih mbak, aku lagi kangen sekarang nih” “simpan saja dulu ya sayang, ntar pasti aku kabari sekembaliku nanti” “baiklah mbak, jangan lupa ya” “aku nggak akan lupa kok sayang, eh kamu punya kawan di Surabaya nggak?” tanyaku ketika tiba tiba kurasakan gairahku naik mendengar rancangan pestanya Rio. “Nah kan bikin pesta di Surabaya” ada nada kecewa di nada/suaranya “gimana punya nggak, aku perlu malam ini saja” “ada sih, biar dia hubungi Mbak nanti, nginapnya dimana sih?” “kamu tahu kan seleraku, jangan asal ngasih ntar aku kecewa” “garansi deh mbak” Kumatikan HP sesudah memberitahukan hotel dan kamarku, lalu aku ke lobby sendirian, masih sore, pikirku sesudah melihat jam tanganku masih pukul 21:00 tapi cukup telat untuk makan malam. tidak sedikit tamu yang makan malam, kuambil meja agak pojok menghadap ke pintu sehingga aku bisa mengamati tamu yang masuk. Ketika menanti pesanan makanan aku melihat Pak Reza sedang makan seorang kawannya, maka kuhampiri dan kusapa dia. “malam Bapak, apa kabar?” sapaku sambil menyalami dia “eh Mbak Lily, kapan datang, kenalin ini Pak Edwin buyer kita yang akan meng-export barang kita ke Cina” sambut Pak Reza, aku menyalami Pak Edwin hangat. “silahkan duduk, gabung saja kami, biar lebih rame, siapa tahu kita tak perlu lagi meeting besok” kelakar Pak Edwin ramah. “terima kasih Pak, wah nasib baik kita bertemu di sini, kan aku nginap di hotel ini” jawabku lalu duduk berbaur mereka. Kami pun bercakap ringan sambil makan malam, hingga aku tahu kalau Pak Edwin dan Pak Reza terbukti sahabat lama yang senantiasa berbagi dalam suka dan duka, meskipun kelihatannya Pak Reza lebih tua, berbasickan taksiranku sekitar 45 tahun, tatkala Pak Edwin, seorang chinesse, mungkin usianya tidak lebih dari 40 tahun, maximum 37 tahun perkiraanku. sesudah selesai makan malam, aku pesan red wine kesukaanku, tatkala mereka melakukan pesanan minuman lain yang aku tidak terlalu perhatikan. “Bagaimana besok, everything is oke?” Tanya Pak Reza “Untuk Bapak aku siapkan yang spesial, kalau tahu bapak ada disini pasti kubawa proposalku tadi” kelakarku sambil tersenyum melirik Pak Edwin, si cina ganteng itu. Tak terasa jarum jam sudah tunjukkan pukul 22:30, cukup lama juga kita bercakap-cakap dan entah sudah berapa gelas red wine yang sudah melesat membasahi tenggorokanku hingga kepalaku agak berat, tidak pernah aku minum wine sebanyak ini, pengaruh alcohol sepertinya sudah lakukan seranganku. Tamu sudah tidak banyak lagi disekitar kami. Kupanggil waitres untuk menyelesaikan pembayaran yang di charge ke kamarku. Kamipun berpindah tempat hendak pulang ketika tiba tiba kepalaku terasa berat dan badanku terhuyung ke Pak Edwin, Pak Reza sudah duluan pergi ketika Pak Edwin memeluk dan membimbingku ke lift menuju kamar, aku sendiri sudah diantara sadar dan tidak, ketika Pak Edwin mengambil tas tanganku dan mengambil kunci kamar lalu membongkarnya. hati hati Pak Edwin merebahkan tubuhku di ranjang, dilepasnya sepatu hak tinggiku dan perlahan membetulkan posisi tubuhku, aku sudah tak ingat selanjutnya. Kesadaranku tiba tiba timbul ketika kurasakan dadaku sesak dan ada kegelian bergugus-gugus nikmat di antara putingku, kubuka mataku berat dan terbukti Pak Edwin sedang menindih tubuhku sambil mengulumi ke-2 putingku bergantian, tubuhku sudah telanjang, entah kapan dia melepasnya begitu juga Pak Edwin yang cuma memakai celana dalam. tidaklah berontak sesudah kesadaranku timbul tapi justru melakukan desahan kenikmatan, kuremas rambut kepala Pak Edwin yang masih bermain di ke2 buah dadaku. Tangannya mulai mempermainkan selangkanganku, entah kapan dia mulai menjamah tubuhku tapi kurasakan vaginaku sudah basah, aku Cuma melakukan desahan desah dalam kenikmatan. “sshh.. eehh.. eegghh” desahku bikin Pak Edwin makin bergairah, dia kemudian mencium bibirku dan kubalas penuh gairah. Kuraba selangkangannya dan kudapati tonjolan menjadi keras di balik celananya, cukup besar pikirku. Sambil berciuman, kubuka celana dalamnya. Dia menghentikan ciumannya untuk melepas hingga telanjang, terbukti penisnya yang tegang tidak sedasyat yang aku bayangkan, meski diametersnya besar tapi tidak terlalu panjang, paling sepanjang genggamanku, dan lagi belum disunat, ada rasa sedikit kecewa di hatiku, tapi tak kutunjukkan. Dia kembali menindih tubuhku, diciuminya leherku sambil mempermainkan lidahnya sepanjang leher dan pundakku, lalu turun dan melakukan putaran putar di buah dadaku, putingku tak lepas dari jilatannya yang ganas, jilatannya lalu beralih ke perut terus ke paha dan mempermainkan lututku, terbukti jilatan di lutut yang tidak pernah kualami menimbulkan kenikmatan tersendiri. wilayah selangkangan ialah terminal terakhir dari lidahnya, dia mempermainkan klitoris dan bibir vaginaku sambil jari tangannya mulai mengocok vaginaku. “sshh.. eegghh.. eehhmm.. ya Pak..truss Pak” desahku merasakan kenikmatan dari jilatan dan kocokan jari Pak Edwin. Pak Edwin kembali ke atasku, kakinya dikangkangkan di dadaku sambil menyodorkan penisnya, biasanya aku tak mau mengulum penis pada peluang pertama, tapi kali ini entah gara-gara masih terrpengaruh alcohol atau gara-gara aku terlalu terangsang, maka kuterima saja penisnya di mulutku. Kupermainkan ujung kepalanya lidah lalu turun ke batang penis, kemudian tak lupa kantung bolanya dan terakhir kumasukkan penis itu didalam mulutku, cukup kesulitan juga aku mengulum penisnya gara-gara batang itu memang besar. Dia mengocok mulutku penisnya selama beberapa waktu, cukup kewalahan juga aku menghadapi kocokannya untung, tidak diadakan lama. Pak Edwin kembali berada diantara kakiku, disapukannya penisnya ke bibir vaginaku lalu menyorong tanpa kesulitan berarti hingga melesaklah penis itu ke vaginaku seluruh, aku merasa masih banyak ruang kosong di bagian dalam vaginaku meski di bagian luarnya terasa penuh oleh besarnya batang penis Pak Edwin. “ehh.. sshh.. eeghghgh” aku mulai melakukan desahan ketika Pak Edwin mulai mengocokkan penisnya, cepat dia mengocokku seperti piston pada mesin mobil yang tancap gas, ada perbedaan rasa atas kocokan pada penis yang tidak disunat itu, gesekan pada dinding vaginaku kurang greger, tapi tak mengurangi kenikmatan justruan menambah cerita, tanpa ampun pantatnya turun naik di atas tubuhku sambil menciumi leher jenjangku, kurasakan kenikmatan dari kocokannya dan kegelian di leherku. Pak Edwin menaikkan tubuhnya dan bertumpu pada lutut dia mengocokku, posisi seperti ini aku bisa melihat expresi mukanya yang mempunyai warna merah dibakar nafsu, tampak sekali rona merah dimukanya gara-gara kulitnya yang putih tipikal orang cina, muka gantengnya bersemu mempunyai warna merah. Kutarik mukanya dan kucium bibirnya gara-gara gemas, kocokannya makin cepat dan keras, keringat sudah membasahi tubuhnya meski belum terlalu lama kami bercinta. Kugoyangkan pantatku mengimbangi gerakannya, terbukti itu bikin dia menjadi tinggi ke atas dan menyemprotlah spermanya di vaginaku, kepala penisnya kurasakan membesar dan menghimpit dinding vaginaku, denyutnya sampai terasa di bibir vaginaku, lalu dia terkulai lemas sesudah menyemprotkan spermanya hingga habis. Agak kecewa juga aku dibuatnya gara-gara aku bahkan belum sempat merasakan sensasi yang lebih tinggi, terlalu cepat bagiku, tak lebih dari 10 menit. “sorry aku duluan” bisiknya di telingaku sambil tubuhnya ditengkurapkan di atas tubuhku. “nggak apa kok, ntar lagi” kataku menghibur diri sendiri, kudorong tubuhnya dan dia rebah disampingku, dipeluknya tubuhku, tetap telanjang kami berpelukan, napasnya masih menderu deru. Aku berdiri mengambil Marlboro putih dari tas tanganku, kunyalakan dan kuhisap dalam dalam dan kuhembuskan keras untuk menutup kekesalan diriku. “i need another kontol” pikirku kalut Kulihat di HP ada SMS dari Rio pesan “namanya Rino, akan menghubungi mbak, dari Rio” Jarum jam sudah tunjukkan 23:20, berarti cukup lama aku tadi tidak sadarkan diri sampai akhirnya “dibangunkan” Pak Edwin, kulihat Pak Edwin sudah terlelap kecapekan, kupandangi dia, postur tubuh yang cukup atletis dan muka yang ganteng sungguh sayang dia tidak bisa bertahan lama, pikirku. Kunyalakan Marlboro ke-2 untuk membuat turun birahiku yang masih tinggi sesudah sesudah mendapat rangsangan yang tidak tuntas, lalu kucuci vaginaku dari sperma Edwin, kalau tidak ingat menjaga wibawa seorang boss, sudah kuminta si Andi menemaniku malam ini, tapi ketepis angan itu gara-gara akan mengakibatkan mengakibatkan kerusakan jalinan kerjaku nya. Kulayangkan melihat mataku keluar, gemerlap lampu Kota Surabaya masih kukenali meski sudah bertahun tahun kutinggalkan. Kalau tidak ada Pak Edwin mungkin sudah kuhubungi Rio untuk langsung mengirim Rino kemari, tapi aku jadi nggak enak sama dia. Ketika akan kunyalakan batang rokok ketiga, kudengar bel pintu berbunyi, agak kaget juga ada tamu malam malam begini, kuintip dari lubang intip di pintu, berdiri sosok laki laki tegap muka ganteng seganteng Antonio Banderas, maka kukenakan piyama dan kubuka pintu tanpa melepaskan rantai pengamannya. “mbak Lily? saya Rino kawannya Rio” sapanya Agak bingung juga aku, disatu sisi aku membutuhkannya apalagi penampilan dia yang begitu sexy tatkala di sisi lain masih ada Pak Edwin di ranjang. “Sebentar ya” kataku menutup pintu kembali, terus terang aku nggak tahu bagaimana menjadi penentu sikap, sesungguhnya aku nggak keberatan melayani mereka berdua justru itu yang aku harapkan tapi bagaimana Pak Edwin, rekanan bisnis yang baru beberapa jam yang lalu aku kenal, tentu aku harus menjaga citraku sebagai seorang bisnis women professional, aku bingung memikirkannya. “kudengar ada bel pintu, ada tamu kali” kata Pak Edwin dari ranjang “eh..anu..enggak kok Pak” jawabku kaget agak terbata “jangan panggil Pak kalau suasana begini, apalagi apa yang baru saja terjadi, panggil Edwin atau Koh Edwin saja, toh cuma satu tahun lebih tua” “iya kawan lama, nggak penting sih, tapi kalau bapak keberatan aku suruh dia pulang biar besok dia kesini lagi” kataku “ah nggak pa pa kok, santai saja” jawabnya ringan. Aku kembali membongkar pintu tapi aku yang keluar menemui dia di depan pintu, kini kulihat jelas postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, usia paling banter 26 tahun, makin bikin aku kepanasan. “di dalam ada rekanku, bilang aja kamu kawan lama dan serta apa pun yang terjadi nanti suka atau nggak suka kamu harus terima bahkan kalau aku memintamu untuk pulang tanpa melakukan apa apa kamu harus nurut, besok aku telepon lagi, aku mohon pengertianmu” kataku pada Rino tegas. “Nggak apa mbak, aku ikuti saja permainan Mbak Lily, aku percaya sama Rio dan aku orangnya easy going kok mbak, pandai membawa diri” katanya lalu kupersilahkan masuk. Kulihat Edwin masih berbaring di ranjang bertutupkan selimut. Aku jadi kikuk diantara dua laki laki yang baru kukenal ini sampai lupa mengetahuikan mereka berdua, basa basi kutawari Rino minuman, tiba tiba Edwin bangkit dari ranjang dan tetap telanjang dia ke kamar mandi. Aku kaget lalu melihat ke Rino yang cuma dibalas senyuman nakal. “wah ngganggu nih” celetuk Rino “ah enggak udah selesai kok”jawabku singkat “baru akan mulai lagi, kamu boleh tinggal atau ikutan atau pergi terserah kamu, tapi itu tergantung sama Lily” teriak Edwin dari kamar mandi, entah basa basi atau bergurau atau serius aku nggak tau. “Rio udah cerita sama aku mengenai mbak” bisik Rino pelan supaya tidak terdengar Edwin. Edwin keluar dari kamar mandi tetap telanjang, dia mendekatiku menarikku dalam pelukannya lalu mencium bibirku, tanpa mempedulikan eksistensi Rino dia melorotkan piyamaku hingga aku telanjang di depan mereka berdua. Kami kembali berpelukan dan berciuman, tangan Edwin mulai menjamah buah dadaku, meraba raba dan meremasnya. Ciumannya turun ke leherku hingga aku mendongak kegelian, kemudian Edwin mengulum putingku bergantian, kuremas remas rambutnya yang terbenam di ke2 buah dadaku. Kulihat Rino masih tetap duduk di kursi, entah kapan dia melepas baju tapi kini dia cuma mengenakan celana dalam mini merahnya, benjolan dibaliknya sungguh besar seakan celana dalamnya tidak mampu memuat kebesarannya. Badannya begitu atletis tanpa lemak di perut menambah ke-sexy-annya. Melihat potongan tubuhnya berahiku menjadi cepat naik disamping rangsangan dan serbuan dari Edwin di seluruh tubuhku, kupejamkan mataku sambil menikmati cumbuan Edwin. Ketika jilatan Edwin mencapai selangkanganku, kuraskan pelukan dan rabaan di ke2 buah dadaku dari belakang, kubuka mataku terbukti Edwin sedang sibuk di selangkanganku dan Rino berada di belakangku. Sambil meraba raba Rino menciumi tengkuk dan menjilati telingaku bikin aku menggelinjang kegelian mendapat rangsangan atas bawah depan belakang an, terlebih yang dari Rino lebih menarik konsentrasiku. Mereka merebahkan tubuhku di ranjang, Edwin tetap berkutat di vaginaku tatkala Rino beralih mengulum putingku dari kiri ke kanan. Kugapai penis Rino yang menegang, agak kaget juga mendapati kenyataan bahwa penisnya lebih panjang, hampir dua kali punya Edwin meski batangnya tidak sebesar dia, tapi bentuknya yang lurus ke depan dan kepalanya yang besar bikin aku semakin ingin cepat menikmatinya, kukocok kocok untuk memperoleh ketegangan maximum dari penisnya. Edwin membalikkan tubuhku dan memintaku pada posisi doggie, Rino otomatis letakkan dirinya di depanku hingga posisi penisnya tepat menghadap ke mukaku persisnya ke mulutku. Untuk ke-2 kalinya Edwin melesakkan penisnya ke vaginaku dan langsung menyodok keras hingga penis Rino menyentuh pipiku. Kuremas penis itu ketika Edwin gairahnya mengobok obok vaginaku. Tanpa sadar gara-gara be affected kenikmatan yang diberikan Edwin, kujilati Penis Rino dalam genggamanku dan akhirnya kukulum juga ketika Edwin menghentakkan tubuhnya ke pantatku, meski tidak sampai menyentuh dinding terdalam vaginaku tapi kurasakan kenikmatan demi kenikmatan pada setiap kocokannya. Kukulum penis Rino gairah segairah kocokan Edwin padaku, Rino memegang kepalaku dan menghimpit dalam dalam sehingga penisnya masuk lebih dalam ke mulutku meski tidak semuanya tertanam di dalam. Sambil mengocok tangan Edwin meraba raba punggungku hingga ke dadaku, tatkala Rino tidak pernah memberiku peluang untuk melepaskan penisnya dari mulutku. “eegghhmm.. eegghh” desahku dari hidung gara-gara mulutku tersumbat penis Edwin. Tak lama kemudian Edwin menghentikan kocokannya dan mengeluakan penisnya dari vaginaku meski belum kurasakan orgasmenya, Rino lalu menggantikan posisi Edwin, amat gampangnya dia melesakkan penisnya hingga masuk seluruh gara-gara memang batangnya lebih kecil dari penis Edwin, kini ini kurasakan dinding bagian dalam vaginaku tersentuh, ada perasaan menggelitik ketika penis Rino melakukan sentuhan. Dia langsung mengocok perlahan penuh perasaan seakan menikmatai gesekan demi gesekan, makin lama makin cepat, tangannya memegang pinggangku dan menariknya berlawanan gerakan tubuhnya sehingga penisnya makin masuk didalam mengisi rongga vaginaku yang tidak berhasil terisi oleh penis Edwin. Ada kenikmatan yang tidak sama antara Edwin dan Rino tapi ke-2nya menghasilkan sensasi yang luar biasa padaku waktu ini. Cukup lama Rino menyodokku dari belakang, Edwin entah kemana dia tidak ada di depanku, mungkin dia meredakan nafsunya supaya tidak orgasme duluan. Rino lalu membalikku, kini aku telentang di depannya, ditindihnya tubuhku tubuh sexy-nya lalu kembali dia membuat masuk penisnya, sekali dorong amblaslah tertelan vaginaku, cepat dan keras dia mengocokku, penisnya yang keras kepala besar seakan mengaduk aduk isi vaginaku, aku melakukan desahan tak tertahan merasakan kenikmatan yang kudapat. “eehh..yess..fuck me hard..yess” desahku mulai ngaco menerima gerakan Rino yang eksotik itu. Sambil melakukan desahan kupandangi muka tampan Antonio Banderas-nya yang berbasickan taksiranku tidak lebih dari 26 tahun, bikin aku makin kelojotan dan tergila gila dibuatnya. Kulihat Edwin berdiri di samping Rino, tatapan mataku tertuju pada penisnya yang terbungkus kondom yang berbasickanku aneh, ada asesoris di pangkal kondom itu, sepertinya ada kepala lagi di pangkal penisnya. Kulihat dia dan dia membalas tatapanku melihat mata dan senyum nakal. Ditepuknya pundak Rino sebagai isyarat, agak kecewa juga ketika Rino menarik keluar penisnya diwaktu waktu aku menikmatinya penuh nafsu. Tapi kekecewaan itu tak diadakan lama ketika Edwin menggantikan posisinya, begitu penisnya mulai melesak masuk kedalam tak kurasakan perbedaannya dari yg terlebih dahulu tapi begitu penisnya masuk seluruh mulailah efek dari kondom berkepala itu kurasakan, terbukti kepala kondom itu langsung menggesek gesek klitorisku waktu Edwin menghunjam tajam ke vaginaku, klitorisku seperti di gelitik gelitik waktu Edwin mengocok vaginaku, suatu cerita baru bagiku dan kurasakan kenikmatan yang aneh tapi begitu penuh gairah. Edwin merasakan keberhasilan menang ketika tubuhku menggelinjang menikmati sensasinya. Rino kembali mengulum putingku dari satu ke satunya, lalu tubuhnya naik ke atas tubuhku dan mekangkangkan kakinya di kepalaku, disodorkannya penisnya ke mulutku, aku tak bisa menangkis gara-gara posisinya tepat membidik ke mulut, kucium aroma vaginaku masih menempel di penisnya, langsung kubuka mulutku menerima penis itu. tatkala kocokan Edwin di vaginaku makin menggila, kenikmatannya tak terkirakan, tapi aku tak sempat melakukan desahan gara-gara disibukkan penis Rino yang keluar masuk mulutku. Aku menerima dua kocokan an di atas dan dibawah, bikinku kewalahan menerima kenikmatan ini. sesudah cukup lama mengocokku kondom kepalanya, Edwin menarik keluar penisnya dan melepaskan kondomnya lalu dimasukkannya kembali ke vaginaku, tak lama kemudian kurasakan denyutan dari penis Edwin yang tertanam di vaginaku, denyutannya seakan memelarkan vaginaku gara-gara terasa begitu membesar waktu orgasme bikinku berusaha untuk menjadi sejajar atau menyalip beberapa detik kemudian, dan kugapailah kenikmatan puncak dari permainan sex, kini aku bisa memperoleh orgasme dari Edwin. Tahu bahwa Edwin telah memperoleh kepuasannya, Rino berpindah tempat menggantikan posisi Edwin, tapi itu tak lama, dia memintaku untuk di atas dan kuturuti permintaannya. Rino lalu telentang di sampingku, kunaiki tubuhnya dan kuatur tubuhku hingga penisnya bisa masuk ke vaginaku tanpa kesulitan berarti. Aku langsung mengocok penisnya gerakan menaik turunkan pantatku, buah dadaku yang menggantung di depannya tak lepas dari jamahannya, diremasnya penuh gairah seiring kocokanku. Gerakan pinggangku mendapat perlawanan dari Rino, makin dia melawan makin dalam penisnya menancap di vagina dan makin tinggi kenikmatan yang kudapat. gara-gara gairahku belum turun banyak waktu menggapai orgasme Edwin, maka tak lama kemudian kugapai lagi orgasme berikutnya dari Rino, denyutanku seolah meremas remas penis Rino di vaginaku. “OUUGGHH.. yess.. yess.. yess” teriakku Rino yang belum mencapai puncaknya makin cepat mengocokku dari bawah, tubuhku ambruk di atas dwujudnya, sambil tetap mengocokku dia memeluk tubuhku erat, kini aku Cuma bisa melakukan desahan di dekat telinganya sambil sesekali kukulum. Tak berapa lama kemudian Rino pun mencapai puncaknya, kurasakan semprotan sperma dan denyutan yang keras di vaginaku terlebih kepala penisnya yang membesar hingga mengisi seluruh vaginaku. “oouuhh..yess..i love it” teriakku waktu merasakan orgasme dari Rino. Kurasakan 8 atau sembilan denyutan keras yang disusul denyutan lainnya yang melemah hingga menghilang dan lemaslah batang penis di vaginaku itu. Kami berpelukan beberapa waktu, kucium bibirnya dan akupun berguling rebahan di sampingnya, Rino memiringkan tubuhnya menghadapku dan menumpangkan kaki kanannya di tubuhku sambil tangannya ditumpangkan di buah dadaku, kurasakan hembusan napasnya di telingaku. “mbak Lily sungguh hebat” bisiknya pelan di telingaku. Aku cuma memandangnya dan tersenyum penuh kepuasan. Cukup lama kami terdiam dalam keheningan, seolah merenung dan menikmati apa yang baru saja terjadi. Akhirnya kami dikagetkan bunyi “beep” satu kali dari jam tangan Rino yang berarti sudah jam 1 malam. “Rino, kamu nginap sini ya nemenin aku ya, Koh Edwin kalau nggak keberatan dan tidak ada yang marah di rumah kuminta ikut nemenin, gimana?” pintaku “ gembira hati” jawabnya gembira, Rino cuma membuat ganguank sambil mencium keningku. Kami bertiga rebahan di ranjang, kumiringkan tubuhku menghadap Edwin, kutumpangkan kaki kananku ke tubuhnya dan tanganku memeluk tubuhnya, tatkala Rino memelukku dari belakang, tangannya memegang buah dadaku tatkala kaki kanannya ditumpangkan ke pinggangku.Tak lama kemudian kami tertidur dalam kecapekan dan penuh kenangan, aku berada ditengah diantara dua laki laki yang baru kukenal beberapa jam yang lalu. Entah berapa lama kami tidur posisi seperti itu ketika kurasakan ada sesuatu yang menggelitik vaginaku, kubuka mataku untuk menepis kantuk, terbukti Rino berusaha, membuat masuk penisnya ke vaginaku dari belakang posisi seperti itu. Kuangkat sedikit kaki kananku untuk memberi kemudahan pwujudnya, lalu kembali dia melesakkan penisnya ke vaginaku, aku masih tidak melepaskan pelukanku dari Edwin tatkala Rino mulai mengocokku dari belakang perlahan sambil meremas remas buah dadaku. Tanganku pindah ke penis Edwin dan mengocoknya hingga berdiri, tapi anehnya Edwin masih memejamkan matanya, 10 menit kemudian Rino kurasakan denyutan kuat dari penis Rino pertanda dia orgasme, tanpa menoleh ke Rino aku melanjutkan tidurku, tapi terbukti Edwin sudah bangun, dia memintaku menghadap ke Rino ganti dia yang mengocokku dari belakang seperti tadi sambil aku memeluk tubuh Rino dan memegangi penisnya yang sudah mulai melemas. tidak sama juga kocokan Rino yang pelan pelan, Edwin melakukan kocokan keras disertai remasan kuat di buah dadaku sampai sesekali aku menjerit dalam kenikmatan, cukup lama Edwin mengocokku hingga aku mengalami orgasme lagi beberapa detik sebelum dia mengalaminya, kemudian kami melanjutkan tidur yang terputus. Kami terbangun sekitar pukul 8 ketika telepon berbunyi, kuangkat dan terbukti dari Andi. “pagi bu, udah bangun?” tanyanya dari seberang “pagi juga Andi, untung kamu bangunin kalau tidak bisa ketinggalan meeting nih, oke kita ketemu di bawah pukul 9, tolong di atur tempat meetingnya, cari yang bagus” jawabku memberi perintah “beres bu” jawabnya “Edwin, aku ada meeting Pak Reza jam 10, kamu bagaimana?” tanyaku “lho meetingnya kan juga sama sama aku” jawab Edwin “oh ya? dia tidak pernah cerita tuh, dia Cuma bilang meetingnya antara aku, dia dan satu orang lagi rekannya” “oke anyway, aku tak mau datang ke tempat meeting pakaian yang sama juga kemarin” “Ayo mandi lalu kita cari pakaian di bawah” kataku “Rino, kamu boleh tinggal disini atau pergi, tapi yang jelas aku nanti membutuhkanmu sesudah meeting” kataku sambil menuju ke kamar mandi berusaha untuk menjadi sejajar atau menyalip Edwin yang mandi duluan. Kami berdua mandi dibawah pancuran air hangat, kami saling menyabuni satu sama lain, dia memelukku dari belakang sambil meremas remas buah dadaku dan menjilati telingaku, kuraih penisnya dan kukocok, tubuh kami yang masih berbusa sabun saling menggesek licin, terbukti bikinku lebih erotis dan terangsang. Tanpa menanti lebih lama kuarahkan angkat kaki kananku dan membidikkan penisnya ke vaginaku, ketegangannya ditambah air sabun maka mudah baginya untuk masuk didalam, Edwin langsung menaruh sedalam dia bisa. Pancuran air panas membasahi tubuh kami berdua lebih romantis terasa, tapi itu tak diadakan lama ketika Edwin menyemprotkan spermanya di dalam vaginaku, tidak banyak dan tidak kencang memang tapi cukuplah untuk memulai hari ini penuh gairah. sesudah mandi aku mengenakan pakaian kerja resmi, entah mengapa kupilih pakaian yang resmi tapi santai, mungkin gara-gara be affected perasaanku yang lagi bergairah maka tanpa bra kukenakan tank top dan kututup blazer untuk menutupi putingku yang menonjol di balik tank top-ku, lalu kupadu rok mini sehingga cukup kelihatan resmi, aku merasa sexy dibuatnya. Kutinggalkan amplop berisi uang di meja dan kucium Rino. “Kalau kamu mau mau keluar ada uang di meja, ambil saja ntar aku hubungi lagi, kalau mau tinggal up to you be my guest” bisikku yang dibalas ciuman dan remasan di buah dadaku. Pukul 9:15 kami keluar kamar, an Andi keluar dari kamarnya tepat ketika aku keluar Edwin dan Rino memberiku ciuman di depan pintu, dia menoleh ke arah kami tapi langsung memalingkan mukanya ke arah lain seolah tidak melihat, tapi aku yakin dia melihatnya.

Baca Selengkapnya

Nah itu merupakan sebagian Cerita Kampungan Pembantuku Cerita Dewasa yang kami bagikan khusus untuk Anda penggila bokep sejati, tunggu Cerita Dewasa menarik di Sini s9s9.biz. Terima kasih atas kunjungannya di website ini s9s9.biz.

Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Dewasa

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 3 years
Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Dewasa

Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Dewasa merupakan situs Foto Bokep terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, CCerita Sedarah, Cerita Dewasa Tante, Foto Bokep Terlaris serta Cerita Dewasa ABG Terlaris dan masih banyak lagi. Ngentot Sungguh Menyenangkan Cerita Dewasa s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?