There are currently 2793 movies on our website.

Ngentot Kangen Sama Ibu Cerita Dewasa

0
( High Quality )

 

Ngentot Kangen Sama Ibu Cerita Dewasa

s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun 2015 Cerita Dewasa Sex Terlaris dimana anda bisa membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok penis anda…..

Ngentot Kangen Sama Ibu Cerita Dewasa Cerita Dewasa – Telepon yang anda tuju tìdak dapat dìhubungì. Sìlahkan ulangì beberapa menìt lagì . Begìtu yang kudengar setìap kupencet namanya pada memorì HP ku. Lagì ada dì mana sì penjahat seks ìtu sampaì HP nya dìmatìkan? Aku sampaì lupa memìnum es juìce dan menyantap pìsang keju yang terhìdang dì mejaku gara-gara terus mencari jalan menghubungì Ronì, kawanku. “ Tumben sendìrìan. Bìasanya sama Ronì, kata Bu Tìwì, pemìlìk kantìn. “ìya nìh Bu, HP nya dìmatìkan. Nggak bìsa dìhubungì, tuturku sesudah menghìrup es juìce yang terhìdang dan mengunyah pìsang keju. sesungguhnya telah hìlang selera makanku pada makananan dan mìnuman favorìtku ìtu gara-gara tak berhasìl menghubungì Ronì. “Kalau mau dateng ke pesantren kìlat bareng mestìnya janjìan yang mateng. Jadì nggak manyun begìtu, tutur Bu Tìwì lagì sambìl melayanì pembelì yang laìn. Benar juga omongan Bu Tìwì. ìnì memang salahku. Semestìnya, semalam atau tadì sebelum berangkat kontak Ronì dulu hìngga bìsa janjìan. Kalau sudah begìnì, aku yang repot. Mau ngìkut pesantren udah kesìangan dan pastì pìntu pagar udah dìtutup tatkala Ronì tìdak bìsa dìhubungì. Atau bìsa jadì ìa berangkat tanpa bawa HP. Gagasan untuk ngìkut pesantren kìlat ìnì memang murnì ìde kìta darìpada nganggur mendìngan ngìkut and bìsa kenalan ma cewe-cewe pengajar yang katanya darì unìversìtas muslìm, katanya kakak- kakak pengajarnya banyak yang cantìk-cantìk. Lagìan ada juga yang ngìkut darì sekolah laen. manakala mau berangkat, Rìzal, kawanku yang laìn datang ke rumah dan memìnjamkan sebanyak VCD porno yang pernah ìa janjìkan dahulu. Lalu nampak gagasan untuk membolos dan nonton bareng Ronì dì rumahnya. Aku yakìn Ronì pastì tak menangkis. gara-gara sepertì kata Rìzal dìantara fìlm-fìlm yang dìpìnjamkan, ada yang bercerìta tentang jalinan seks antara seorang anak lakì-lakì ìbunya. Thema sepertì ìtu, atau setìdaknya yang menggambarkan jalinan seks antara prìa muda wanìta yang lebìh dewasa bahkan yang lebìh cocok atau sepadan menjadì ìbunya, ialah yang amat dìgemarì Ronì. Bahkan dalam cerita nyata, sepertì kesaksian dan cerìta Ronì, ìa serìng menyetubuhì pembantunya, wanìta yang telah berusìa 43 tahun. Ronì juga berterus terang serìng terangsang waktu mengìntìp ìbunya sendìrì yang tengah telanjang. ìtulah mengapa aku serìng menyebutnya sebagaì penjahat seks. Dì luar ìtu Ronì juga yang mengajarì dan mempromosikanku pada kebìasaan onanì. berbasickan dia, aku mempunyai kelompok prìa purìtan gara-gara hìngga mempunyai umur 18 tahun tidak mengetahuinya dan tìdak pernah melakukan onanì. Dan ketìka ìa menggagas untuk bikin lubang rahasìa untuk mengìntìp aktìvìtas ìbuku darì kamarku yang memang berDibagianan kamar ìbu, aku tak kuasa menangkisnya. berbasickan Ronì, tubuh ìbuku amat menggaìrahkan dan merangsang. Sama sepertì tubuh ìbunya yang memang usìanya tidak jauh tidak sama gara-gara usìa ìbu 47 sedang ìbunya Ronì lebìh muda satu tahun. Dan sepertì ìbunya Ronì, ìbuku juga sudah menjadi janda cukup lama. cuma Ronì punya kakak wanita yang sudah menìkah dan hìdup terpìsah. namun aku, anak tunggal dan cuma hìdup berdua ìbu sejak kecìl. Bahkan konon, sesungguhnya aku bukan anak ayahku yang menìnggal waktu usìaku masìh balìta. Tapì buah perselìngkuhan ìbu pemuda tetangganya sesudah menìkah cukup lama dan tìdak punya anak. Aku gak terlalu percaya ma omongan ìtu gara-gara Familiku ialah Famili muslìm yang taat, ìbuku saja sudah lama memakaì jìlbab begìtu juga denga ìbunya Ronì, kìta jadì dekat darì kecìl gara-gara ìbuku dan ìbunya Ronì sama-sama ngìkut pengajìan dì tempat yang sama, buat ngìsì kesìbukan dan nambah kenalan juga kekayaan batìn gìtu alasan ìbuku. Tapì memang sì Ronì lebìh nekat darìku, kìta sama-sama penasaran ama body wanita-wanita berjìlbab, sapa tahu korengan kalì,ha..ha.. “Sam memek ìbumu besar dan membusung banget. Mau deh aku menjìlatì lubangnya. Ah, pastì enak banget kalau dìentotìn, tutur Ronì berbìsìk ketìka ìa mengìnap dì kamarku suatu malam dan mengìntìp ke kamar ìbu darì lubang rahasìa yang kamì buat. waktu ìtu, ìbu tìdur mengangkang tanpa mengenakan celana dalam dan dasternya tersìngkap. Malam ìtu Ronì menyenangkan dìrì beronanì sambìl sambìl mengìntìp dan memikirkan menyetubuhì ìbuku. Dan lucunya, aku juga melakukan yang sama. cuma aku melakukan dìam-dìam sesudah Ronì tertìdur pulas. Benar sepertì kata Ronì, wanìta seusìa ìbu memang lebìh matang dan merangsang. Sejak ìtu, aku serìng mengìntìp ke kamar ìbu dì waktu terangsang dan hendak beronanì. Aku juga ìngìn merasakan nìkmatnya bersetubuh ìbu kendatì Sampai ìnì belum pernah melakukan sekalì pun wanìta laìn. Satu jam lebìh duduk tercenung sendìrì dì kantìn Bu Tìwì akhìrnya bikinku jenuh. sesudah sekalì lagì mencari jalan menghubungì HP Ronì tak tersambung, akhìrnya kuputuskan untuk pulang. Palìng ìbu sudah berangkat ke Puskesmas tempatnya bekerja hìngga nggak bakalan tahu kalau aku gak jadì ngìkut, pìkìrku. sesudah membayar makanan, aku langsung keluar dan menyetop angkutan kota yang routenya melewatì jalur jalan dekat rumah. Motor memang sengaja tak kubawa gara-gara tadìnya bernìat membolos Ronì. Sampaì dì rumah, sepertì bìasa aku masuk lewat pìntu belakang. Kuncì rumah bagìan depan memang senantiasa dìbawa oleh ìbu gara-gara dìa yang berangkat Buntutnya setìap harì. Aku membawa kuncì pìntu belakang agar tak repot mampìr ke kantor ìbu untuk mengambìl kuncì waktu pulang sekolah. Namun dì dalam, waktu masuk ke ruang tengah, aku dìbuat kaget. sepeda motor Ronì ada dì sana terparkìr dì dekat motorku. tatkala tas hìtam yang bìasa dìbawa ìbu ke kantor teronggok dì atas meja makan. Jadì ìbu belum berangkat? Dan mengapa motor Ronì ada dì sìnì? Aku jadì curìga. Jangan- jangan Ronì juga ada dì sìnì dan lagì berdua ìbuku dì kamarnya. Memìkìrkan kemungkìnan ìtu, kuperlambat jalanku. berjìngkat kumasukì kamarku sendìrì. sesudah menguncì pìntu kamar darì dalam, langsung kutuju lubang rahasìa yang bìasa kugunakan untuk mengìntìp ke kamar ìbu. Dugaanku tìdak meleset. Ronì ada dì kamar ìtu berdua ìbuku. Dì atas ranjang besar tempat tìdur ìbu, ke-2nya tengah melakukan kelakuan yang selayaknya tìdak cocok atau sepadan dìlakukan. Kulìhat ìbu sudah tìdak berpakaìan, tapì masìh mengenakan jìlbabnya, seragam putìh panjang khas puskesmas sudah teronggokdì lantaì dan cuma satu penutup tubuh yang dìkenakan cuma celana dalam warna hìtam, duduk menyandar dì dìndìng kamar. ìa terlìhat amat menìkmatì apa yang tengah dìlakukan Ronì pada dìrìnya. Ya Ronì menghìsapì salah satu pentìl susu ìbu dì bagìan kìrì mulutnya. tatkala buah dadanya yang Dibagian kanan, sesekalì dìbelaì dan dìremas gemas oleh pemuda kawan akrab dan kawan sekolahku ìtu. Sepertì bayì yang kehausan, Ronì menetek lahap dì buah dada ìbu yang besar, 36B, kutahu waktu kulìhat dì jemuran dulu. Pastì hìsapannya amat kuat pada putìng susu ìbu yang coklat kehìtaman hìngga ìbu tampak menggelìnjang menahan nìkmat. Terlebìh tangan Ronì juga tak mau berhentì meremasì buah dwujudnya yang laìn sambìl sesekalì memìlìn putìngnya. “Ah… ah.. terus hìsap Ron, ah enak banget. Tetek tante enak banget kamu begìtukan Ron, ah.. sshh …ahh …aaahhh, nada/suara ìbu terdengar membuat erangan dan melenguh menahan nìkmat. Mungkìn semestinya aku merasa jengah atau stìdaknya memprotes atas apa yang tengah dìlakukan Ronì pada ìbuku. Tetapì tìdak, aku justru menìkmatì permaìnan mereka. Bahkan ìngìn terasa aku menggantìkan peran Ronì. gara-gara sudah cukup lama aku ìngìn menyentuh dan menghìsap tetek ìbu bahkan sekalìgus menyetubuhìnya. Aku memang amat terangsang setìap mengìntìp dan mendapatì ìbu tengah telanjang. cuma selama ìnì aku cuma bìsa menyetubuhì dalam angan-angan yaknì beronanì sambìl memikirkan menyetubuhìnya. Aku makìn terangsang ketìka Ronì mulaì mencìumì kemaluan ìbu darì luar CD hìtam yang dìkenakannya. Kulìhat ujung hìdung Ronì dìsentuhkan dì bagìan tengah memek ìbu yang masìh tertutup CD. Sesekalì Ronì juga memakai mulutnya untuk mengecup. Ah mengapa Ronì tìdak langsung melepas saja CD hìtam ìtu. Terus terang aku jadì tìdak sabar untuk melìhat bentuk sejelasnya vagìna ìbu. Selama ìnì, setìap mengìntìp, aku cuma bìsa melìhatnya sepìntas. Kìnì, posìsì duduk mengangkang sepertì ìtu, kalau CD nya dìbuka pastì memek ìbu bìsa terlìhat detìlnya. terbukti harapanku tìdak sìa-sìa. cuma, bukan Ronì yang mengambìl ìnsìatìf tetapì justru ìbuku. “Kamu sudah kangen sama memek tante ya Ron? Tante buka deh celana dalamnya bìar kamu bìsa melìhat sepuasnya atau melakukan apa saja sesuka kamu. Tetapì baju dan celana kamu dìbuka juga dong, kata ìbu sambìl memelorotkan dan melepas celana dalamnya. waktu ìbuku mau melepas jìlbabnya dìtahan sama Ronì, “Jangan dìlepas tante, tante lebìh cantìk kalo pakai jìlbab, sumpah, rayu Ronì Dan ìbuku senyum-senyum saja mendengar kata-kata Ronì, kìnì ìbuku betul-betul telanjang tanpa sehelaì benang yang menutupìnya sesudah CD warna hìtamnya dìlepas dan dìlemparkan sekenanya, cuma jìlbab yang masìh menutupì kepalanya dan ìtu bikinku lebìh terangsang gara-gara Ronì pernah bìlang pengen ngentotìn cewe yang masìh pakai jìlbab, lebìh bìkìn nafsu katanya dan bener banget gara-gara kurasakan ada sensasì yang luar bìnasa kalo bìsa ngentotìn cewe yang masìh pakai jìlbab. Dan yang bikinku kaget, memek ìbu yang bìasanya terlìhat lebat dìtumbuhì rambut hìtam, telah dìcukur gundul. sesungguhnya tìga harì lalu, waktu aku mengìntìpnya darì kamar seusaì mandì, vagìna ìbu masìh tertutup oleh kerìmbunan rambut hìtam kerìtìngnya. Tetapì memek yang telah tercukur kelìmìs ìtu lebìh merangsang gara-gara seluruh detìlnya jadì terlìhat jelas. Dalam posìsì duduknya yang mengangkang, kemaluan ìbuku memproduksi busungan besar yang terbelah dì bagìan tengahnya. cuma, bìbìr bagìan luarnya yang mempunyai warna coklat kehìtaman terlìhat tebal dan berkerut. Kontras warna dì bagìan dalam yang agak mempunyai warna merah. namun kelentìtnya yang berada dì ujung celah bagìan atas, terlìhat cukup besar ukurannya. Mungkìn sebesar bìjì jagung dan tampak menjadi naik. Ah .. merangsang banget. Bìbìr bagìan luar memek ìbu yang mempunyai warna coklat kehìtaman, tebal dan berkerut ìtu, kemungkìnan terbentuk akìbat serìngnya tergesek kejantanan mìlìk lakì-lakì. Baìk mìlìk almarhum suamìnya semasa hìdup atau mìlìk ayah kandungku yang menjadì kawan selìngkuh ìbu. Bahkan mungkìn kontol beberapa prìa laìn yang pernah sìnggah dalam hìdupnya gara-gara satu tahun lalu sempat pula kudengar kabar ìbu ada maìn salah seorang atasannya hìngga sebagaì PNS ìa sempat dìpìndahtugaskan ke wilayah terpencìl selama beberapa waktu. Ronì menghampìrì ìbuku sesudah melepas baju kokonya dan seluruh yang dìkenakannya. Kontolnya tampak tegak mengacung dan keras. cuma, soal ukuran, kuyakìn setìngkat dì bawah punyaku yang lebìh panjang dan besar,palìngan Cuma 13 cman dìbandìng punyaku yang kalo ngaceng banget bìsa sampaì 17cman. Tadìnya kukìra Ronì akan langsung menìndìh dan menaruh rudalnya dì memek ìbu yang memang telah menanti untuk dìsogok. Namun santaì, bak lelakì dewasa yang sudah mengisahkan wanita, dìrebahkannya tubuhnya dekat tubuh ìbu mengangkang. Posìsì kepalanya persìs berada dìantara ke-2 paha ìbu yang terbuka lebar atau persìs bertemu memek ìbuku. Posìsì ìtu dìpìlìhnya, Rupanya agar ìa dapat amat gampang menatapì memek ìbuku darì jarak amat dekat dan sekalìgus melakukan sentuhan. ìbuku kìan membongkar lebar kangkangan pacuma ketìka tangan Ronì mulaì menjamah bagìan palìng sensìtìf mìlìknya. Dìusap-usapnya bìbìr luar memek ìbu yang tebal dan berkerut telapak tangannya dan sesekalì dìselìpkannya ujung jarì tengah tangan Ronì ke lubang dì antara celahnya. Dìsentuh sedemìkìan rupa oleh tangan Ronì, terlebìh ketìka jarì tengah kawan sekolahku ìtu menyentuh kelentìtnya, mulut ìbu mulaì mendesìs dan melenguh. Ronì tak cuma memakai tangan untuk melakukan sentuhan tetapì mulaì memakai lìdahnya untuk menjìlat dan mengkìlìk lubang kenìkmatannya, maka desahan yang keluar berpindah tempat menjadì erangan. Bahkan tubuh ìbuku terlìhat menggelìnjang dan tergetar ketìka Ronì mengecupì dan menghìsapì kelentìt ìbuku. “Aauuw.. oh.. oh.. Ron kamu apakan memek tante. Ssshh.. sshh oh enak banget Ron. Ya.. ya ahh enak banget Ron, terus sayang ya terus aahhh , erangnya menahan nìkmat. nada/suara yang keluar darì mulut ìbuku, tidaklah bikin Ronì menghentìkan aksìnya. Tetapì justru memberìnya semangat untuk bikin aksì jìlatan dan hìsapan mulutnya lebìh efektìf. Lìdahnya makìn dalam dìjulurkan didalam lubang kemaluan ìtu dan hìsapannya pada kelentìt ìbu dìlakukannya lebìh keras dan gemas. Hìngga tubuh ìbuku berkalì- kalì meronta dan menggelìat namun terlìhat amat menìkmatìnya sambìl meremas sendìrì ujung jìlbabnya. Puncaknya, Ronì tak cuma menjìlatì lubang memek ìbuku. Lìdahnya yang kuyakìn telah terlatìh untuk menjìlatì lubang kemaluan Bìk Sutì, wanìta yang bekerja sebagaì pembantu dì rumahnya yang serìng dìcerìtakannya, mulaì mencarì sasaran laìn. ìtu kuketahuì gara-gara sesudah ìa meremas-remas pantat besar ìbuku dan membongkarnya hìngga lubang anusnya terlìhat, lìdahnya kembalì dìjulurkan dan dìarahkan ke sana. Dan tanpa rasa jìjìk sedìkìtpun ìa mulaì menyapu-nyapukan lìdahnya dì lubang anus yang mempunyai warna seirama memek ìbu yang coklat kehìtaman. Tìdak cuma menyapu dan menjìlat, lìdah Ronì pun dìcolokkan bagìan ujungnya seolah berusaha, lakukan trobosan ke bagìan dalam lubang anus ìtu. Dìperlakukan sepertì ìtu ìbu memekìk keras menahan nìkmat. “ììììhhhh dìapakan lagì tante Ron. Okh.. okh.. sshh … aahh enak banget Ron. Kamu pìntar banget sayang. Tante nggak pernah merasakan yang sepertì ìnì, ungkapnya terbata dì sela-sela rìntìhan dan lenguhan yang keluar darì mulut ìbuku. Mungkìn gara-gara sudah tak tahan menahan gaìrah yang kìan memuncak, ìbu akhìrnya membuat geser tubuh. Melepaskan pantatnya darì mulut Ronì yang terus mencengkeram lakukan serangan anusnya jìlatan lìdahnya. Tadìnya ìbu bermaksud melakukan terjangan gempuran balìk yaknì mengerjaì kontol Ronì mulutnya. Namun Ronì memaksa ìngìn tetap dapat mengerjaì bagìan bawah tubuh ìbu. Hìngga akhìrnya dìsepakatì untuk melakukan posìsì 69 yang memungkìnkan ke-2nya dapat menjìlat dan menghìsap bagìan palìng peka mìlìk ke-2nya. posìsì merangkak dì atas tubuh Ronì yang telentang, ìbu memulaì aksìnya melakukan sapuan dan jìlatan pada kepala penìs Ronì yang tegak mengacung. Lalu, dìkulum dan dìmasukkannya batang penìs Ronì didalam mulutnya sambìl dìhìsap-hìsapnya. Merangsang banget, melìhat ìbuku yang masìh berjìlbab mengeluar masukkan kontol Ronì. Perlakuan serupa dìlakukan ìbu pada ke-2 bìjì pelìr kemaluan Ronì. Maka kìnì Ronì dìbuatnya sepertì cacìng kepanasan. Tubuh Ronì terlìhat mengejang. ìa juga membuat erangan melampìaskan rasa nìkmat yang dìterìmanya meremasì bongkahan pantat besar ìbuku. Menìkmatì adegan panas yang dìlakukan ìbu dan Ronì darì tempatku mengìntìp, tanpa sadar aku melontarkan sendìrì kontolku yang juga telah tegak mengacung dan mulaì meremasìnya sendìrì. Nafasku memburu menahan gaìrah yang kìan membakar. Ah, kapan aku bìsa menyentuh dan menìkmatì keìndahan tubuh ìbu sepertì yang tengah dìlakukan Ronì waktu ìnì, keluhku membatìn. Bahkan sempat pula menyelìnap dalam anganku untuk menìkmatì kehangatan tubuh Tante Romlah, ìbunya Ronì. Kocokan pada penìsku makìn kupercepat ketìka adegan dì kamar ìbu mendekatì klìmaks. Kulìhat ìbu telah dalam posìsì berjongkok dì atas pìnggul Ronì dan membidikkan lubang memeknya ke tonggak kontol Ronì yang tegak mengacung. Maka ketìka pantat ìbu dìturunkan perlahan, masuk dan amblaslah batang kontol ìtu didalam kehangatan kemaluan ìbuku. “Kamu dìam saja Ron, kìnì gìlìran tante yang memberì kenìkmatan, kata ìbu sambìl mulaì menaìk-turunkan pìnggulnya. Tìdak cuma gerakan naìk turun yang dìlakukan ìbu dì atas tubuh Ronì. Sesekalì, sambìl membenamkan lebìh dalam kontol Ronì dì dalam lubang memeknya, pìnggul ìbu memutar-mutar sambìl meremas- remas rambutnya yang berjìlbab sehìngga agak longgar juga jìlbab ìbu dan tangan Ronì kadang-kadang ìkut meremas tetek ìbu yang besar ìtu, hìngga ke-2nya merasakan kenìkmatan yang dìtìmbulkan. “Ah.. sshhh oh.. oh.. memek tante enak banget sepertì menghìsap. Oh.. oh enak banget tante, ah.. ah punya Ronì mau keluar tan, akkhhhh … oouugghhh, “Tahan dulu Ron jangan dìkeluarkan dulu. Kìta gantì posìsì ya? Bìar keluarnya sama-sama enak, tutur ìbu sambìl merubah posìsì. Tanpa menanti lama, sesudah ìbu kembalì dalam posìsì mengangkang, Ronì yang terlìhat sudah tìdak mampu lagì mengontrol gaìrahnya langsung membidikkan ujung kontolnya ke lubang memek ìbuku. Dan entah dìsengaja atau gara-gara tidak mampu menahan gaìrah yang menggebu, Ronì membuat turun pìnggulnya sentakan yang cukup kuat. Akìbatnya, dì sampìng batang kemaluan Ronì langsung amblas terbenam, ìbu jadì memekìk tertahan. “Auw .. pelan-pelan dong sayang, “Maaf tente. Habìs Ronì gemes sìh sama memek tante, kata Ronì sambìl terus menaìk turunkan tubuhnya dì atas tubuh ìbuku. awalannya cuma perlahan. Namun ketìka ìbu mulaì menìngkahì menggoyang-goyang memutar pìnggulnya, hunjaman kontol Ronì dì memek ìbuku semakìn cepat. Akìbatnya peluh nampak berleleran pada pasangan berlaìnan jenìs sekalìgus tidak sama usìa cukup jauh yang tengah melampìaskan hasratnya ìtu. Sesekalì tangan Ronì kulìhat ìkut menarìk, meremas kuat jìlbab ìbu, menjamah dan meremasì tetek ìbuku yang terguncang- guncang. Memìlìn-mìlìn putìngnya serta juga menghìsap mulutnya. Tenda-tanda ke-2nya hendak mencapaì klìmaks terlìhat ketìka gerakan Ronì terlìhat kìan tìdak terkontrol. Begìtu pun ìbu, goyangan pìnggulnya tìdak berìrama lagì. Puncaknya, ke-2nya sama-sama memekìk dan membuat erangan tubuh mengejang. “ Hhaakh..akkhhh..mmm..ssssstt….. nnhhìkkhhmmaaat …… bbhhaannggeetthh…. Rrrhhonn erang ìbuku, “Tante Mmmhhoo ssshhaammmppp….oouugggghhh…… terìak ìbuku sambìl meremas kuat jìlbabnya yang sudah mulaì terlepas. “ ìììyyyaahhh… tttthhaannn… ssshhhaaamm…mmaa…aaahhhh…… tukas Ronì sambìl ngeremes tetek ìbu kuat-kuat. Maka jebolah pertahanan Ronì, manìnya tercurah menyembur dì lubang nìkmat memek ìbuku “ Nnnìkkhmatt… banget tantee.. haakh..hakh..aaaarrrggghhhh …… cccrooottt….crrrooott ……sssssttttt…..hhhooookhhhhh…. ceracau Ronì. namun ìbuku, puncak orgasmenya dìtunjukkan belìtan kakìnya ke pìnggang Ronì dìbarengì tubuh yang mengejang hebat. “Oookkhhhhh……yyyyaaahhhhh ……eemmmmhh……ssssttthhhh…… “ Pagì ìtu, sesudah ìbu kembalì ke kamar seusaì membersìhkan dìrì dì kamar mandì, sesungguhnya Ronì mencari jalan melakukan pemanasan kembalì. waktu ìbu berdìrì dì depan meja rìas dan hendak memakaì celana dalam, Ronì menyetopnya. ìa berjongkok dì depannya dan mulaì mengecupì memek ìbu. Bahkan salah satu kakì ìbu dìangkatnya dan dìletakkannya dì kursì meja rìas hìngga meringankannya menjìlatì memek ìbu. Namun kendatì ìbu terlìhat kembalì terangsang oleh hìsapan mulut Ronì pada kelentìtnya, ìa menangkis meneruskannya lebìh jauh. berbasickan ìbu, harì ìnì ada rapat pentìng dì kantornya yang tìdak dapat dìtìnggalkan. Maka Ronì terpaksa harus menahan dìrì untuk kembalì melampìaskan gaìrah mudanya yang masìh menggebu. ke-2nya menìnggalkan rumah sesudah berdandan rapì. namun aku, terpaksa meneruskan onanìku yang belum tuntas sambìl memikirkan hangatnya tubuh ìbuku. Bagìan ìì Sejak perìstìwa ìtu, aku jadì tahu kemana pergìnya Ronì tìap membolos sekolah tanpa mengajakku. Buntutnya memang Ronì serìng membolos tetapì tìdak memberìtahu dan mengajakku. Rupanya dìa punya acara asyìk ngentot ìbuku. Tetapì yang bikinku kagum dan mengajak rasa ìngìn tahuku, bagaìmana awal mulanya hìngga ìa bìsa berselìngkuh ìbuku? Untuk menanya langsung pwujudnya aku tìdak beranì. Takut dìa jadì tahu bahwa sesungguhnya kelakuannya ìbuku telah dìketahuì olehku dan perkawananku nya jadì renggang. Lagìan terus terang, kalau dìberì peluang, aku juga ìngìn banget bìsa bìsa menìkmatì memek ìbu. Juga ngentot ìbunya Ronì yang bodì dan keseksìannya nyarìs sama juga ìbuku jadì aku harus membìna keakraban Ronì. cuma untuk berjalan ke arah ìtu aku belum beranì dan tìdak punya cerita sepertì Ronì. Buntutnya, sejak mengetahuì antara ìbu dan Ronì ada jalinan spesial, aku serìng memberì peluang agar mereka bìsa menyalurkan hasratnya lebìh leluasa. waktu Ronì maìn ke rumah, aku pura-pura punya acara kawan laìn dan menìnggalkan mereka. sesungguhnya, aku justru ke rumah Ronì berpura-pura pada ìbunya hendak menemuì dìa. Hìngga Buntutnya jalinanku ìbunya Ronì makìn akrab dan aku bebas melakukan apa saja dì rumahnya sepertì halnya Ronì dì rumahku. Sepertì sore ìtu, dì waktu Ronì maìn ke rumah, aku berpura-pura udah janjìan kawan kampungku untuk menghadìrì acara ulang tahun. sesungguhnya aku langsung ke rumah Ronì. “ Tadì katanya ke rumah kamu Dìd? sesungguhnya udah darì tadì lho, kata ìbunya Ronì waktu aku masuk. waktu membongkarkan pìntu, ìbunya Ronì rupanya habìs mandì. Tubuhnya kelìhatan masìh basah, terlìhat darì baju kurung terusan yang dìpakainya, tercetak teteknya yang menggunung. Tetek ìbu Ronì lebìh manteb darì punya ìbu, gara-gara kelìatan lebìh runcìng. Tapì jìlbab yang dìpakainya sudah tampak rapì, kelìatan mau pergì. “Hemm… dengusku agak kesal juga. Sepertì halnya ìbuku, ìbunya Ronì juga berbodì tìnggì besar. Pantatnya besar membusung pìnggul yang mengajak. cuma, kulìt Tante Romlah (nama ìbunya Ronì) agak sedìkìt gelap. Tetapì keseluruh bagìan tubuhnya betul-betul merangsang hìngga bikinku terpana menatapìnya. Namun anehnya, kendatì tatapanku terang-terangan tertuju pada dwujudnya yang agak tercetak dan bagìan laìn tubuhnya yang mengajak selera, ìa sepertì tak menghìraukannya. sesudah mempersìlahkanku masuk dan menutup pìntu, santaì ìa melakukan pemberesan koran dan majalah yang terserak dì ruang tamu. Posìsìnya yang agak membungkuk waktu melakukan aktìvìtasnya ìtu menjadìkan gaìrahku terpacu lebìh kencang. Betapa tìdak, gara-gara baju kurungnya yang lebìh mìrìp kayak daster Cuma ga tìpìs-tìpìs banget bikin bongkahan pantat besarnya kìnì ìkut-ìkutan tercetak dì bajunya dan kelìatan ìbu Ronì belum sempat memakaì CD. “Fìuh… sayang mo pergì.., sìal umpatku dalam hatì Kuyakìn ìtu dìsengaja. gara-gara ìa sepertì berlama-lama dalam posìsì ìtu kendatì koran dan majalah yang dìbereskan cuma sedìkìt. Ah ìngìn terasa meremas pantat besar yang menggunung ìtu. Kalau Ronì, mungkìn ìa sudah nekad melakukan apa yang dììngìnkan. Tetapì aku tìdak memìlìkì keberanìan hìngga cuma jaccountku yang turun naìk meneguk ludah. “Eh Dìd, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagìh ke orang tapì tempatnya jauh dan sulìt kendaraan, tuturnya sesudah seluruh koran dan majalah tertata rapì dì tempatnya. “Eee.. ee bì.. bìsa tante. Nggak ada acara kok, kataku agak tergagap. “Kalau begìtu tante gantì baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambìl sendìrì dì kulkas, mungkìn masìh ada yang bìsa dìmìnum, tuturnya sambìl tersenyum. Senyum yang amat manìs namun amat sulìt kuartìkan. Satu buah teh botol dìngìn yang kuambìl darì kulkas langsung kutenggak darì botolnya. Rupanya, tontonan gratìs yang amat menggaìrahkanku tadì bikin tenggorokanku jadì kerìng hìngga teh botol dìngìn ìtu langsung tandas. Buntutnya baru kusadarì, terbukti Tante Romlah tìdak menutup kembalì pìntu kamarnya. bertelanjang bulat, gara-gara baju kurungnya tadì telah dìlepas, santaì ìa memìlìh-mìlìh baju yang hendak dìkenakan. Maka kembalì suguhan mengajak ìtu tersajì dì hadapanku. Bukan cuma pantatnya yang besar membusung. Buah dada Tante Romlah juga besar tapì kelìatan kencang dan meruncìng, mungkìn 36C lah. Putìngnya yang mempunyai warna coklat kehìtaman, terlìhat menjadi naik. Ah ìngìn banget bìsa lakukan belaanì dan meremasnya atau menghìsapnya sepertì yang dìlakukan Ronì pada tetek ìbuku. sesungguhnya aku ìngìn banget melìhat bentuk memek Tante Romlah jelas. Namun gara-gara posìsìnya lakukan belaankangìku, aku tak dapat melìhatnya. Tetapì benar sepertì kata Ronì, tubuh ìbunya yang berambut sebahu ìtu masìh belum kehìlangan pesonanya sebagaì wanìta. sesudah mendapatkan baju yang dìcarì dan bernìat dìpakaìnya, Tante Romlah berbalìk dan memergokìku tengah menatapì tubuh telanjangnya. Tetapì sepertìnya ìa tìdak marah. Bahkan santaì, ìa kenakan celana dalam dì hadapanku. cuma gara-gara merasa tìdak enak dan takut dìanggap terlalu kurang ajar, aku langsung menìnggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menantinya. ìbunya Ronì meskì telah bergelar hajah dan setìap keluar rumah senantiasa membungkus rapat tubuhnya busana muslìmah, namun masìh menggerakkan usaha yang tercela. Dì sampìng bìsnìsnya sebagaì pedagang perhìasan berlìan, ìa juga memìnjamkan uang bunga tìnggì atau rentenìr, bahkan temenku Ronì sempat beberapa kalì memergokì ìbunya jalan bareng sama lakì-lakì dì luar. cuma kalau dì rumah, pakaìan yang dìpakaìnya agak lebìh santaì dan lebìh tìpìs, berbasickanku lebìh sepertì daster ìbu- ìbu tetangga cuman lebìh panjang dan berlengan dan tìdak sungkan- sungkan menunjukkan tubuh ìndahnya sepertì yang barusan dìlakukan dì hadapanku. Rumah orang yang dìtagìh Tante Romlah terbukti memang cukup jauh dan kondìsì jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhì janjìnya membayar rimbag hìngga Tante Romlah terlìhat amat gembira. waktu pulang, gara-gara sudah malam dan kondìsì jalan amat jelek, beberapa kalì motorku nyarìs tergulìng. gara-gara takut terjatuh, Tante Romlah membonceng memeluk erat tubuhku.

Baca Selengkapnya

Anda Sekarang Dapan Mencoba Ambil Video Menarik Dewasa Ini
Klik Pada Judul Di Bawah Ini Dengan Menekannya… Mantap….

Ngentot Kangen Sama Ibu Cerita Dewasa

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 2 years
Ngentot Kangen Sama Ibu Cerita Dewasa

  Ngentot Kangen Sama Ibu Cerita Dewasa s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun 2015 Cerita Dewasa Sex Terlaris dimana anda bisa membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok penis anda….. Cerita Dewasa – Telepon yang anda tuju tìdak dapat dìhubungì. Sìlahkan ulangì beberapa menìt lagì . Begìtu […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?