There are currently 2793 movies on our website.

Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa

0
( High Quality )

Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa

merupakan situs Foto Bokep terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Sedarah, Cerita Dewasa Tante, Foto Bokep Terlaris serta Cerita Dewasa ABG Terlaris dan masih banyak lagi.

Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa

s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun 2015 Cerita Dewasa Sex Terlaris dimana anda bisa membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok penis anda…..

Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa Cerita Dewasa – sesuatu kisah bercinta atau ngentot (ML) pekerja salon (terapis) yang mana menyediakan jasa pijat dan lalu gara-gara nafsu berakhir jalinan seks. Simak kisah lengkapnya berikut ini!
Jakarta yang panas bikinku kegerahan di atas angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meters lagi. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Angin lakukan trobosan dari jendela. Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih melimpah. Kerjaan yang melimpah sama merangsangnya seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain, tetapi mampu bikin seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.
Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.
Aku tersentak. Masih melongo.
itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.
ini..?” kataku.
Ya itu.”
Ya ampun, aku memikirkan nada/suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya tersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, sesudah mengejar angkot ini semata-mata untuk dapat secuil tempat duduk.
Terima kasih,” tuturnya ringan.
Aku sesungguhnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dwujudnya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.
Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.
Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot seorang wanita, separuh baya lagi. Kalau kini aku berani pasti gara-gara dwujudnya terbuka, pasti gara-gara peluhnya yang membasahi leher, pasti gara-gara aku terlalu terbuai lamunan. ia justru melengos. Sial. Lalu asyik membongkar tabloid. Sial. Aku tidak dapat lagi memandanginya.
Kantorku sudah terlewat. Aku masih di atas angkot. wanita paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Masih menutupi diri tabloid. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sesuatu salon. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. ia tersenyum. mengajukan tantangan mata genit sambil mendekati pintu salon. ia kerja di sana? Atau mau gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, an masuknya mobil lain di belakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.
Bang, Bang kiri Bang..!”
seluruh penumpang menoleh ke arahku. Apakah nada/suaraku membuat ganguan ketenteraman mereka?
Pelan-pelan nada/suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.
Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua. Yes.., akhirnya. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Datang-Datang jari tanganku dingin seluruh. mukaku merah padam. Lho, salon kan tempat umum. seluruh orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Come on lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salon kubuka.
Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”
Massage, boleh.” tuturku sekenanya.
Aku dibimbing ke sesuatu ruangan. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, cuma pura-pura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.
Dulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengganti keberanianku.
Buka bajunya, celananya juga,” tutur wanita tadi manja menggoda, Nih pakai celana ini..!”
Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku berbasickan saja. membongkar celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecil panjangnya dua meters, lebarnya cuma muat tubuhku dan lebih sedikit. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.
Tunggu ya..!” tutur wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima Datangnyaku.
Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” tuturnya dari ruang Dibagian. Aku jelas mendengarnya dari sini.
Kembali ruangan sepi. cuma nada/suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.
Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai berdegup lagi. mukaku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku makin membenamkan muka di atas tulisan majalah.
Halo..!” nada/suara itu mengagetkanku. Hah..? nada/suara itu lagi. nada/suara yang kukenal, itu kan nada/suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah kujawab sapaan itu? Oh.., aku cuma dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam. Aku tidak ingat motifnya, cuma ingat warnanya.
Mau dipijat atau mau baca,” tuturnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, Ayo tengkurep..!”
Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. ia membuat turun sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. ia menghimpit-nekan agak kuat. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.
Balik badannya..!” pintanya.
Aku membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak berani menatap mukanya. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. ia tidak bercerita apa-apa. Aku pun segan memulai cerita. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.
ia berlalu ke ruangan Dibagian sesudah melakukan pemberesan cream. Aku cuma ditinggali handuk kecil hangat. Kuusap sisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.
Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarin terulang. Jam berapa aku berangkat. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam. sesungguhnya, muka wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hari esok.
Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Jendela kubuka. Mobil melesat. Angin lakukan trobosan kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi mukanya terganggu.
Mas Tut..” hah..? nada/suara itu lagi, nada/suara wanita setengah baya yang kali ini gara-gara mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Aku tersenyum. ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tidak pasang muka perangnya.
Kayak kemarinlah..,” tuturnya sambil mengangkat tabloid menutupi mukanya.
Begitu nasib baikkah ini? Kebernasib baikankah? Atau kesialan, gara-gara ia masih mengangkat tabloid menutupi muka? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot nya. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.
Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.
Perlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi mukanya begitu. itu artinya ia tidak mau diganggu. Mbak Wien sudah turun. Aku masih termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Mengapa kancing baju cuma 7?
Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di Dibagianku juga bisa. Begini saja daripada repot-repot. Anggap saja tiap-tiap baju sama juga jumlah kancing bajuku: 7. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali 7, 42 hore aku turun. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. paling utamanya turun.
Kiri Bang..!”
Aku lalu menuju salon. Alamak.., jauhnya. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.
Mau pijit lagi..?” tutur nada/suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.
Ya.”
Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudah lebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak perlu diantar. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Kemudian memberikan celana pantai.
Mbak Wien, pasien menanti,” katanya.
Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara pwujudnya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. nada/suara pletak-pletok mendekat.
Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.
Aku tengkurap. ia memulai pijitan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang betul-betul pegal, sehingga terbuai pijitannya.
Telentang..!” katanya.

Baca Selengkapnya

Nah itu merupakan sebagian Cerita Kampungan Pembantuku Cerita Dewasa yang kami bagikan khusus untuk Anda penggila bokep sejati, tunggu Cerita Dewasa menarik di Sini s9s9.biz. Terima kasih atas kunjungannya di website ini s9s9.biz.

Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 3 years
Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa

Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa merupakan situs Foto Bokep terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Sedarah, Cerita Dewasa Tante, Foto Bokep Terlaris serta Cerita Dewasa ABG Terlaris dan masih banyak lagi. Ngentot Di Kantorku Cerita Dewasa s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?