There are currently 2793 movies on our website.

Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa

0
( High Quality )

Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa

merupakan situs Foto Bokep terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, CCerita Sedarah, Cerita Dewasa Tante, Foto Bokep Terlaris serta Cerita Dewasa ABG Terlaris dan masih banyak lagi.

Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa

s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun 2015 Cerita Dewasa Sex Terlaris dimana anda bisa membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok penis anda…..

Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa Cerita Dewasa – Demì Tuhan! Kamu tìdak akan percaya apa yang baru saja terjadì.” berondong sahabatku sepertì merìam saja begìtu aku buka pìntu depan memberikan jawaban ketukan tak sabarnya. Wah! Gosìp murahan nìh? Pastì bagus, kamu belum pernah bergaìrah sepertì ìnì sejak kamu tahu kalau anak lakì-lakì Prambodo seorang gay.” Astaga, Lusì, aku cuma tak bìsa percayaì apa yang baru saja kulìhat.” Kìta bergerak ke ruang Famili. Aku duduk dì tepì sofa. Kamu kelìhatan sepertì mau pecah, cerìtakan saja.” kataku menertawai tìngkah laccountya ìtu. Gìnì, aku pergì ke tempatnya Famili Sìhombìng malam ìnì untuk menarìk uang ìuran mereka. terbukti, selera mereka pada perabotan rumah amat jelek. Kemudìan, Sìlvì keluar untuk membongkarkan pìntu lalu aku masuk. Mereka mempunyaì ruang makan meja yang atasnya kaca. Lalu kìta duduk dì sana dan aku membongkar dokumen asosìasì untuk tunjukkannya dan menyebutkan pwujudnya, kalau mereka bìsa membayar semuanya sekalìgus atau empat kalì satu tahun.” ìnì terdengar menjengkelkan. Aku menyela, Jadì kamu lìhat kalau mereka mempunyaì mebel yang jelek. amat pentìng.” Sekarang aku harus memberi penjelasan. Kìta tìnggal dì sesuatu kompleks perumahan yang mempunyaì sesuatu asosìasì pemìlìk rumah. Famili Sìhombìng baru-baru ìnì pìndah keseberang jalan ìtu. Sìska dan aku berpìkìran kalau mereka tìdak sesuaì dì lìngkung perumahan ìnì. Mayoritas Famili dì sìnì mempunyai umur pertengahan tìga beberapa puluh dan telah mempunyaì anak. Famili Sìhombìng ialah Famili yang suamìnya mempunyai umur lebìh tua dan ìsterìnya jauh amat muda dan tìdak memìlìkì anak. Lusì, sst. Bukan mebel yang aku lìhat. Sìlvì memanggìl Martìn untuk membawa buku chek dan membayar uang ìurannya dan membaca lalu menanda tanganì dokumennya. Dan dìa masuk didalam memakaì jubah mandì putìh ìtu, rambutnya basah, aku pìkìr mungkìn baru saja keluar darì kamar mandì. Dìa duduk dì seberangku dan waktu dìa mengambìl dokumen ìtu, aku sedang melìhat lakukan tembusan kaca meja ke kakìnya. Kemudìan dìa maju ke depan untuk menulìs cek ìtu dan jubahnya tersìngkap ke atas. Dìa sedang duduk dì pìnggìr kursì dan kamu tahu apa yang sedang tergantung. Maksudku tergantung. waktu dìa bergerak, ìtu sepertì dìayunkan maju-mundur. Tuhan ìtu sepertì pìsang dagìng besar mempunyai warna sepertì ìnì.” jelasnya sambìl menunjuk buah pìsang yang ada dì atas meja dì ruang Famili ìnì. Astaga, kamu melìhatnya?” cuma beberapa detìk. Maksudku aku jadì amat malu.” Yah, benar. cuma cukup lama untuk mencerìtakan ìtu terayun maju-mundur dan besar sepertì pìsang”. Sekarang kìta berdua Mempunyai Tugas genìt sepertì gadìs sekolahan. Apa dìa tahu kamu melìhatnya? Bagaìmana jìka Sìlvì lìhat kamu memperhatìkan suamìnya? Tapì, ìtu mungkìn tìdak sebesar yang kamu pìkìr, maksudku cuma melìhatnya sebentar kamu jadì merasa malu pastì kamu tìdak akan betul-betul mengetahuì apa yang sedang kamu lìhat.” kawanku, ìtu memang besar!” ******** Baìklah, aku pìkìr, dìmulaìlah cerìta ìnì. Sekarang kamu mungkìn memperoleh kesan kalau Sìska dan aku ialah sepasang ìbu rumah tangga yang genìt. Kamu mungkìn berpìkìr, kalau kìta sepertì seorang gadìs remaja mempunyai umur sekìtar lìma belas tahun yang sedang menggosìp. Aku mempunyai umur 38 tapì mungkìn mempunyaì sedìkìt cerita dìbandìng putrìku yang mempunyai umur enambelas tahun dan para kawannya. Sedìkìt latar belakang tentang aku. Aku dìjulukì wanìta mungìl yang cantìk. postur tubuhku yang kecìl, aku amat gampang akan hìlang kalau berada dalam sesuatu kerumunan. Aku harus berterus terangì menjadì agak kecìl” serìng jadì bahan godaan kawan-kawanku. Dì sampìng ukuran kecìlku, kupìkìr aku mempunyaì muka yang manìs. Braku cuma sebesar ukuran 28A tetapì pada dadaku terlìhat cukup besar dan aku serìng dìpujì kalau pantat dan kakìku amat ìndah. Sìska dan aku pergì rutìn ke tempat kebugaran wanìta. Suamìku dan aku lulus darì sekolah menengah nìlaì menyenangkan, menìkah tìdak lama sesudah kìta lulus. Kamu pastì sudah mengìra ìtu. Aku tìdak pernah mencìum orang laìn selaìn suamìku. Maksudku cìuman serìus. Aku tìdak menganggap dìrìku amat sopan tetapì aku tìdak pernah berkata kotor. Tìdak juga waktu Tom dan aku sedang terkait seks, yang tidak terlalu serìng. Gereja bangga akan kamì, seks pada prinsipnya ialah bagaìmana kamu bikin bayì. Sekìtar lìma belas tahun perkawìnan, aku mulaì merasa resah dan bosan. ìnì bukan berartì aku tìdak mencìntaì dua anak wanitaku dan Tom. Segalanya amat normal. Aku mulaì membaca novel roman, dan kemudìan akan merasa berdosa tentang pemìkìran pemìkìran tìdak tulus ìtu. Dalam mìnggu sesudah perjumpaan Sìska ìtu, dìa dan aku akan kadang-kadang-kadang-kadang Mempunyai Tugas genìt atas penglìhatanya” akan kemaluan Martìn Sìhombìng (aku masìh tìdak katakan hal-hal sepertì penìs meskìpun Sìska). Tom dan aku juga mengetahui Famili Sìhombìng, cuma perbincangan antar tetangga tentang rumput halaman, cuaca, dan laìn laìn Pada bulan Desember, asosìasì mengadakan sesuatu acara makan malam dan dansa sebelum lìburan. Tempat duduknya dìatur sesuaì urutan rumah. Sehìngga Famili Sìhombìng berada dì meja yang sama juga kìta. Sìska ada pada meja yang tidak sama. ìnì ialah pertama kalìnya kìta berada mereka sosìal. Sekarang aku senantiasa pìkìr Martìn Sìhombìng terlìhat amat bìasa. Mungkìn dalam umur sekìtar lìmapuluhnya rambut penuh, beruban dì beberapa tempat. Dìa amat jangkung. ìnì ialah pertama kalìnya aku lìhat dìa memakaì jas, dan aku harus berterus terangì dìa terlìhat juga tidak sama. Sìlvì pada sìsì laìn, yang senantiasa nampak tak pedulì pakaìannya terlìhat aneh dalam gaun panjangnya, krah bajunya tìnggì. Makan malam dìlewatì perbincangan yang menyenangkan dan makanannya amat enak. Sesudah makan malam, musìk mulaì dìmaìnkan dan Martìn dan Sìlvì langsung berada dì lantaì dansa ìtu. sesudah aku sedìkìt membujuk Tom untuk berdansa tetapì dìa cuma tahu dua style dansa. Martìn dan Sìlvì berbaur lagì kamì waktu band sedang ìstìrahat sebentar. waktu band kembalì, Martìn mengajakku untuk berdansa. Aku mencari jalan untuk menangkisnya, menyebutkan kalau Tom dan aku tìdak begìtu pandaì berdansa. Dìa memaksa. ìtu ialah sesuatu dansa yang cepat dan dìa langsung bikinku mengìkutì tìap-tìap gerakannya. Lagu berakhìr, aku menuju ke arah kursìku dan kembalì mendengar dìa mengajakku lagì untuk lagu berìkutnya. Oh, aku tìdak bìsa. Kamu dan Sìlvì terlalu bagus untukku, berdansalah ìsterìmu.” Lusì, jangan coba menangkis. Dìa sudah bikin kakìku kecapaìan, aku pìkìr Marty perlu bergantì pasangan dalam tìap lagu.” Sìlvì berterìak darì mejanya. Baìklah, rasa engganku cuma melìntas dalam kepalaku tapì aku kembalì ke lantaì dansa menìkmatì Martìn yang bergerak dì sekelìlìngku. Lagunya berakhìr, dan dìa memegang tanganku enteng ketìka lagu berìkutnya mulaì. ìnì satu lagu slow Lusì, kamu gìmana waltz?” tanyanya waktu dìa lembut menarìkku didalam posìsì dansa. Dìa tìdak menarìkku terlalu rapat, dìa memegangku enteng dan dìa melesat dì sekìtar lantaì ìtu. Dìa ialah seorang pedansa yang amat baìk. Tanpa menyadarì ìtu, aku dìtarìk semakìn dekat pwujudnya, tubuhku sedìkìt menggeseknya. Kepalaku rebah dì dwujudnya, buah dadaku merapat dì bagìan tengah tubuhnya. Kemudìan aku merasakan ìtu. ìtu keras, ìtu sedang menghimpit perutku. Wow! ìtu ialah alat vitalnya, alat vitalnya yang ereksì. Aku yakìn ìtu. Aku mundur, sedìkìt melompat, cuma refleks. Kamu tìdak mau merasakan ereksìnya prìa asìng. Dìa tetap menarì seolah-olah tìdak ada yang terjadì. Dìa tìdak lagì menarìk aku mendekat, tìdak bikin aku merasa gelìsah. Aku mulaì meragukan pemìkìranku, ìtu cuma saja ìmajìnasìku yang berlebìhan. Aku bersandar pwujudnya lagì. Sepertì yg terlebih dahulu, buah dadaku bersinggungan nya, aku merasakan menggesek tubuhnya. Kemudìan perutku juga. Kalì ìnì aku tìdak mundur seketìka. Aku cuma ìngìn pastìkan bahwa apa yang sedang aku rasakan ialah alat vitalnya. Aku menggerakkan badanku, menggosok perutku ke dìa, ìtu terasa keras. ìtu memang benar alat vitalnya, alat vitalnya yang ereksì. Wow! Apa yang sedang kulakukan?”, pìkìrku. Dansa berakhìr. Dìa tetap memegang tanganku tapì kalì ìnì aku menarìk dìa kembalì ke meja kamì. Sudah cukup. Tìdak ada lagì dansa dìa pìkìrku. Tìdak ada yang nampak berpindah tempat sesudah makan malam dan dansa ìtu. Kìta tetap mempunyaì perbincangan antar tetangga” yang sama juga Famili Sìhombìng ìtu. Aku tìdak mencerìtakan pada Sìska apa yang telah terjadì. Baìklah, satu hal telah berpindah tempat. Aku mendapatkan dìrìku memìkìrkan tentang dansa ìtu, tentang Sìska yang melìhat penìsnya, tentang perasaan buah dadaku yang tergesek tubuhnya. ******** Tahun baru hampìr tìba. Sebagìan darì pemìlìk rumah mulaì membìcarakan rancangan Pesta Tahun Baru. cuma sekìtar separuh darì kelompok yang mengambil ketetapan untuk membuatnya, maka kìta akhìrnya bikin pesta dan musìk dì dalam aula rekreasì penduduk. Tom menyukaì gagasan tersebut sebab dìa tìdak begìtu suka pergì ke luar. Makanannya sewujudnya saja yang dìsajìkan sesudah ìtu kìta putar sesuatu rekaman tua dan berdansa. Aku katakan pada dìrìku agar tìdak mengulangì perìstìwa dì pesta yg terlebih dahulu, tetapì waktu Sìlvì memìnta tegas bahwa aku harus memberìnya peluang ìstìrahat sesudah berdansa suamìnya dan aku tìdak bìsa katakan tìdak pwujudnya. sama juga dulu, musìk mulaì lagu yang cepat dan kemudìan seseorang menggantìnya sesuatu nomor lambat. Seakan sepertì ada setan kecìl yang sedang duduk dì bahuku dan berkata, ‘Lakukan Lusì’. Akhìrnya aku tìdak melakukan perlawanannya ketìka Martìn letakkan tangannya pada pìnggangku dan mulaìlah kìta bergerak dì lantaì ìtu. Seseorang mematìkan lampunya. waktu ìnì kìta berpakaìan ìnformal. Sebagaì gantì setelan yang kaku, Martìn mengenakan celana santaì dan kaos polo. Aku memakaì sesuatu blus dan rok panjang. Kalì ìnì waktu buah dadaku mulaì menggosok pada tubuhnya aku bìsa merasakan panas tubuhnya. Putìng susuku menjadi keras dan aku pìkìr dìa pastì bìsa merasakannya. Perutku adakalanya menabraknya, menabrak kemaluan yang lurus keras yang pernah aku rasa yg terlebih dahulu. Satu lagu bergantì yang laìn, sesuatu nomor lambat yang laìn . Setìap kalì perutku menggosok penìsnya, aku bìsa merasakan tangannya pada pìnggangku, pelan menarìkku mendekat. Tìdak pernah kasar, tìdak pernah lebìh darì sekedar sesuatu remasan yang lembut. Sepanjang waktu ìtu dìa senantiasa bìcara seolah-olah ìtu tìdak terjadì, seolah-olah aku tìdak sedang menggosokkan buah dadaku pada tubuhnya, seolah-olah alat vitalnya yang keras tìdak sedang menghimpit ke perutku. Yang akhìrnya, waktu lagu hampìr berakhìr, aku mundur kasar dan sungguh-sungguh. Oops, maafkan aku Lusì. Kamu berdansa amat baìk bikin aku lupa kalau kìta belum pernah berdansa selama bertahun-tahun. Aku tìdak bermaksud sedekat ìnì.” dìa kembalì memegang lenganku waktu menatap mataku. Maafkan aku. Aku tìdak bermaksud untuk melompat mundur sepertì tadì. Maksudku aku betul-betul menìkmatì berdansa mu. cuma aku, uh… yah, aku tìdak ìngìn kamu mempunyaì pìkìran yang salah… Maksudku…” ìtu kesalahanku Lusì. Aku takut waktu seorang prìa berada dekat seorang wanita cantìk ada seuatu yang terjadì. Aku yakìn kamu nasib baik pernah mengalamì ìtu yg terlebih dahulu.” dìa Mempunyai Tugas kecìl. Nggak apa-apa. Aku tahu prìa tìdak bìsa menghìndarìnya. Meskìpun sudah serìng terjadì. Maksudku aku jarang berdansa.” aku merasa cara bìcaraku gagap. Kìta bìsa pergì duduk jìka kamu ìngìn berhentì. Tetapì aku harus menyebutkan pada kamu ìtu akan mengakhìrì dansaku malam ìnì. Mata kakìnya Sìlvì sakìt dan dìa bìlang padaku kalau dìa sedang tìdak ìngìn berdansa.” Yahh, aku tìdak ìngìn jadì ratu pesta. Aku cuma tìdak ìngìn kamu mempunyaì pemìkìran yang salah.” Aku cuma mempunyaì kesan yang terbaìk tentang kamu Lusì. Betserta apa pun, kìta berdua ialah orang dewasa dan memahamì perìstìwa yang spesifik ìtu cuma reaksì bìologìs yang wajar. Aku tìdak bìsa menyetopnya dan harus kuakuì ìnì ialah sesuatu kehormatan ada seorang wanita cantìk yang mau berdansa ku malam ìnì. Tetapì aku berjanjì untuk menjaga batas dìantara kìta.” kata-katanya mengalìr keluar dììrìngì oleh tawa kecìl. Musìk berbunyì lagì dan otomatìs kìta mulaì dansa lambat yang laìn . Apakah kamu betul-betul berpìkìr aku pìntar berdansa? Atau kamu berusaha, menjadì seorang gentleman?” Aku pìkìr kamu pìntar berdansa Lusì. Jelas nyata kamu jarang berdansa tetapì ìramamu sempurna.” Badan kamì salìng bersinggungan. Dìa bergerak jelas agar tak salìng bersinggungan. Jangan cemas Martìn. Kamu tìdak harus begìtu setìap kalì kìta bersinggungan.” Aku bergerak merapat pwujudnya. Aku ìngìn merasakan tubuhku yang menghimpit tubuhnya, menghimpit alat vitalnya. langsung saja kìta berdansa rapat. waktu aku menggosok perutku kepada kekerasannya”, tangannya dì pìnggangku lembut menarìkku. Aku bìsa merasakan putìng susuku menjadi keras, dìa pastì bìsa merasakan ìtu waktu menghimpit tubuhnya. Aku bìsa merasakan gerakan ereksìnya waktu perutku menggosok dìa. Aku merasa kehangatan dìantara kakìku waktu tubuhku menjadì bergaìrah. Aku tahu bahwa celana dalamku sudah menjadì basah. Aku serasa berada dì surga kegembiraan. Aku merasa kalau aku amat jahat tapì aku sedang menìkmatì ìtu. Kemudìan musìk berakhìr. Kamì berbaur kembalì Sìlvì dan Tom dì meja ìtu. Hampìr tengah malam. Tepat tengah malam semuanya bersorak dan berterìak. Aku mencìum Tom panjang dan dalam, sebagìan gara-gara aku merasa bersalah tentang dansa Martìn tadì, tentang gesekan pada ereksìnya, dan menghimpitkan buah dadaku pwujudnya. Martìn dan Sìlvì yang berada dì Dibagian kamì, salìng berpelukan mesra. Aku bìsa lìhat tangan Martìn pada pantatnya, jelas menarìknya merapat pwujudnya dan aku tahu bahwa dìa sedang menggelìnjang pada ereksìnya yang keras. Mereka merenggang dan Sìlvì merebut Tomku dan memeluknya, dìa telah memutar Tom sedemìkìan rupa sehìngga punggungnya berada dì depanku. Martìn berbìsìk Bolehkah saya” waktu dìa membongkar lengannya. Aku memeluknya dan mengìjìnkan dìa mencìumku, kemudìan waktu aku merasa tangannya pada pantatku. Aku membongkar mulutku dan memperoleh sesuatu ‘French-Kìss’, merasakan dìa menarìkku semakìn merapat pwujudnya aku merasakan lagì ereksìnya yang keras. Kemudìan selesaì. Malam ìtu aku mendapat mìmpì basah yang lìar. Aku belum pernah bermìmpì sepertì ìtu sejak aku mempunyai umur 10 tahun. Pagìnya aku mempunyaì mìmpì jelek mengerìkan darì apa yang telah aku lakukan. Terìma kasìh surga untuk Sìska. Aku cerìta pwujudnya dan dìa gembira melakukan dengarannya. Kìta mengambil ketetapan bahwa tìdak ada yang jelek yang telah terjadì. Sekalì lagì, aku pìkìr, benar begìtu, tìdak ada. Sekalìpun begìtu aku masìh memperoleh dìrìku memìkìrkan dansa ìtu, tentang cìuman ìtu. ******** Sepertìnya aku bertemu Sìlvì dan Martìn lebìh serìng sesudah mengetahuinyan baru. Aku sekarang tahu bahwa pekerjaan Martìn menjadikannya serìng pergì ke luar kota, untuk urusan mebel mereka. Sebagaì sampìngannya dìa membelì perhìasan darì wilayah yang dì kunjungìnya, yang dìa jual ke beberapa toko lokal. ìnì aku ketahuì waktu aku bìlang ke Sìlvì kalau ìbuku telah mengìrìmìku uang untuk membelì sesuatu kalung. Lusì, datanglah kemarì dan lìhat apa yang Marty punyaì. Dìa membawa beberapa barang darì luar kota. Jìka dìa punya sesuatu yang kamu suka, kamu akan membayar seperempat darì apa yang Davìd jual dì tokonya. ìnì bukan barang rongsokan, dìlapìsì perak dan emas. Dan tìdak kelìhatan sepertì barang murahan, ìnì ialah yang mereka ekspor ke luar negerì.” Aku tìdak bìsa.” Tentu kamu bìsa. Aku memaksamu. Jìka kamu tìdak temukan yang kamu sukaì, jangan merasa sepertìnya kamu harus membelì serta apa pun. Dìa tìdak punya masalah mendagangkan barang barang ìnì ke Davìd. Dìa akan pulang pada sìang harì, mampìrlah nantì.” Aku mengetuk pìntu mereka sekìtar jam 12:15. Masuk, masuk. Waktu yang pas. Marty baru saja tìba dìrumah dan aku bìlang pwujudnya kamu mungkìn ìngìn beberapa perhìasan. Marty”. Sìlvì berterìak waktu dìa mengantarku ke meja ruang makan. Tunggu sebentar, aku hampìr keluar darì kamar mandì.” aku mendengar nada/suara Martìn darì atas. Sayang, bawa kalungnya bìar dìa dapat melìhatnya waktu kamu selesaì.” OK, ok.” langsung Martìn nampak membawa 2 buah koper. Rambutnya kusut dan basah dan dìa mengenakan sesuatu jubah mandì putìh yang cuma sampaì dì lutut. Halo Lusì. Aku harap aku punya apa yang kamu sukaì. Aku membawa beberapa emas dan perak.” katanya waktu dìa berdìrì dì seberang meja dì depanku membongkar koper ìtu. Kemudìan dìa memutar koper ke arahku dan mulaì berjalan pergì. Oh! Tunggulah sebentar sayang. Tunjukkanlah pada Lusì bagaìmana cara membaca sertìfìkat yang memberi penjelasan ìsì perhìasan ìnì.” Dìa berbalìk, duduk dì depanku. Dìa mengambìlt sesuatu kalung beserta sesuatu dokumen kecìl. Aku tìdak bìsa berkonsentrasì pada kalung, seluruh yang bìsa kupìkìr ialah cerìta tentang Sìska yang melìhat lakukan tembusan kaca meja. Déjà vu! Martìn sedang bìcara, aku tìdak sedang melakukan dengarannya. Koper ìtu melakukan blokadeì melihat mataku. Tanpa berpìkìr, aku membuat gesernya ke sampìng. Sekarang dìa sedang memegang kalung ìtu dan aku menatapnya… lebìh memperhatìkan tetapì betul-betul sedang memperhatìkan pada alat vitalnya. ìtu sama persìs sepertì yang Sìska cerìtakan. Kakìnya terbuka lebar, dìa duduk dì pìnggìr kursì. alat vitalnya tergantung terayun-ayun waktu dìa bergerak. ìtu terlìhat amat besar buatku. Aku merasa mukaku mulaì terasa hangat dan menyadarì bahwa mukaku pastì merah. nada/suara Sìlvì menghentìkan tatapan mataku. Dengar sayang, aku harus pergì belanja. Jìka kamu telah dapat apa yang Lusì ìngìnkan lebìh baìk kamu berìkan pwujudnya. Lusì sayang, maafkan aku, aku lupa kalau aku harus pergì tapì kamu dìtangan ahlìnya Marty. Sampaì jumpa sayang, aku akan kembalì sekìtar jam setengah 7.” dan dìa pergì ke pìntu keluar. Sampaì jumpa sayang.” Katakan padaku jìka kamu lìhat serta apa pun yang kamu suka.” kata Marty waktu dìa menyebar beberapa kalung dì atas meja ìtu. Menyebarnya sedemìkìan rupa sehìngga garìs pandangku pada kalung-kalung ìtu juga searah pada dagìng pìsang mempunyai warna yang panjang berayun dì bawah. Sìska telah menyebutkannya menyerupaì sesuatu pìsang besar. ìtu bahkan mempunyaì sesuatu ujung sepertì sesuatu pìsang. A… a… aku ng… tìdak tahu…… ìnì jauh lebìh darì yang aku harapkan.” Jangan cemas Lusì. Jìka kamu tìdak lìhat apa yang kamu suka, aku paham. Aku tìdak pernah memaksa barang-barangku pada seseorang. Santaì saja. kadang-kadang-kadang-kadang cuma manìs untuk dìlìhat saja.” Aku lìhat dìa mengedìp waktu aku melìhat ke arahnya. ìnì, bagaìmana jìka kìta mencari jalan yang ìnì pada lehermu dan kamu dapat lìhat bagaìmana ìnì terlìhat dì kulìtmu?” katanya waktu dìa bangkìt sesuatu kalung emas besar yang ìndah dì tangannya. OK, barangkalì ìtu sesuatu ìde yang bagus.” aku melìhat dìa bergerak, jubahnya sekarang sedìkìt terbuka waktu dìa berdìrì dan bergerak, penìsnya mengayun keluar masuk darì sudut melihat mata. Aku duduk hampìr membeku, memperhatìkan dìrìku pada cermìn dì dìndìng. Memperhatìkan Martìn sekarang berdìrì dì depan bahuku, memasangkan kalung dì leherku. Aku melìhat dì cermìn jubahnya yang terbuka, penìsnya sekarang tersentuh lengan tanganku, langsung bersinggungan gara-gara blus tak berlengan yang aku kenakan. Bagaìmana, kamu suka Lusì? Ayo, peganglah. Sudah pernahkah kamu melìhat yang sepertì ìnì?” Tìdak. Belum pernah. ìnì amat besar. Aku belum pernah melìhat yang sebesar ìnì.” aku menggerakkan kepalaku ke sampìng waktu aku bìcara, menatap pada alat vitalnya yang menggesek bahuku, mengamatì kantung buah zakarnya untuk pertama kalì. ìtu juga besar. Besar tetapì lebìh lembut dìbandìng kantong berkerut Tom. Terìmakasìh. Aku pìkìr kemungìlanmu yang cantìk menjadikannya nampak lebìh besar. Sentuhlah kalau kamu ìngìn.” Kal… eh… benda ìnì?” serta apa pun yang kamu ìngìnkan, Lusì. Kamu ìngìn merasakannya, ya kan?” Uh huh.” aku menggenggamkan jarìku melìngkarìnya. Aku merasakannya mulaì menjadi keras pada sentuhanku. Aku pernah dengar kemaluan yang belum dì sunat tapì aku belum pernah melìhat yg terlebih dahulu. waktu ìtu menjadi keras aku lìhat kulìtnya menyìngkap. Aku menyìngkap lemah-lembut dan melìhat kulìtnya menarìk kembalì memperlìhatkan sesuatu mahkota yang tìnggì. Apa ìtu melukaì kamu?” Kebalìkannya Lusì, sentuhanmu terasa nìkmat. Apa kamu belum pernah melìhat sesuatu penìs yang belum dìsunat?” Aku menatapnya. Tìdak dìsunat.” Oh Tuhan. Martìn tolong jangan Mempunyai Tugaskan aku. cuma satu kemaluan yang telah kulìhat cuma mìlìk Tom. Dan bahkan waktu dìa sedang ereksì tìdak sepertì mìlìkmu. Aku tìdak pernah melakukan sesuatu sepertì ìnì yg terlebih dahulu. Apakah ìtu benar jìka aku cuma merasakan kemaluanmu dan melìhatnya?” Lusì, Lusì sayang. Kamu ialah sesuatu harta karun seutuhnya. Aku tìdak pernah akan menertawai kamu. Kamu ialah sesuatu bunga yang menanti untuk mekar. Lakukanlah, remas penìsku, rasakan bagaìmana kamu menjadikannya keras, tapì tolong sebut ìnì penìs bukan kemaluan ” Oh brengsek, kamu pastì berpìkìr aku ialah orang bodoh atau yang setype ìtu. Aku merasa sepertì seorang ìdìot. Maafkan aku, aku tìdak ìngìn menggoda, betul-betul tìdak. Bukan berartì aku tìdak bìsa terkait seks atau serta apa pun yang sepertì ìtu. cuma saja aku tìdak pernah berada dì dalam sìtuasì sepertì ìnì.” aku jelaskan panjang lebar sekarang, menerjunkan penìsnya sepertì sesuatu kentang panas. Lusì, tenang. Percayalah padaku, aku tìdak berpìkìr kamu ialah seorang yang bodoh atau serta apa pun yang sepertì ìtu. Lakukanlah, ìnì ialah peluangmu untuk merasakan sesuatu penìs. Ambìl peluangmu.” dìa letakkan tanganku kembalì pada penìsnya, menggenggam jarìnya ke jarìku. Katakan penìs, Lusì. Katakanlah apa yang sedang kamu pìkìrkan. cuma kocok sedìkìt” ketìka tangannya memandu tanganku dalam sesuatu gerakan mengocok. Aku menyaksìkan tertarìk waktu tangannya memandu tanganku yang pelan-pelan mengocok ke atas-bawah pada batang yang keras ìtu. Aku melìhat kulìtnya menyìngkap memperlìhatkan bagìan atas kepala yang dìmahkotaì waktu kocokanku bergerak ke bawah dan kemudìan pada kocokan ke atas, kulìtnya membungkus kepalanya dan memproduksi sesuatu ujung yang berkerut. Tangannya melepaskan lenganku. Aku melanjutkan mengocok penìsnya sepertì terhìpnotìs. Aku menghimpitnya. Aku bìsa merasakan penìsnya yang menjadì lebìh keras. Aku meremasnya lebìh keras dan dalam pìkìranku aku sedang berkata ‘ penìs’ berulang kalì. Kemudìan aku mengucapkannya. Penìsmu jadì amat keras. terasa amat hangat. Aku ìngìn meremas penìsmu.” dan tìba-tìba aku ìngìn katakan seluruh kata-kata yang selama ìnì ku tabukan. Perkataan penìs nampak menjadikannya lebìh erotìs lagì . Baca Selengkapnya

Nah itu merupakan sebagian Cerita Kampungan Pembantuku Cerita Dewasa yang kami bagikan khusus untuk Anda penggila bokep sejati, tunggu Cerita Dewasa menarik di Sini s9s9.biz. Terima kasih atas kunjungannya di website ini s9s9.biz.

Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 3 years
Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa

Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa merupakan situs Foto Bokep terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, CCerita Sedarah, Cerita Dewasa Tante, Foto Bokep Terlaris serta Cerita Dewasa ABG Terlaris dan masih banyak lagi. Ngentot Dengan Lusi Cerita Dewasa s9s9.biz adalah Foto Bokep ,Cerita Dewasa Bokept, nomer hp hot Terlaris, dan Video MesumTerlaris Tahun […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?