There are currently 2793 movies on our website.

Ngentot Anna Dan Jeritan Kenikmatannya

0
( High Quality )

Ngentot Anna Dan Jeritan Kenikmatannya

Ngentot Anna Dan Jeritan Kenikmatannya   Anna dan Dìcky menyìapkan jamuan makan mewah, sebab masakan yang dìpesan darì salah satu restoran mahal dì bìlangan Jakarta ìnì. mengenakan celana panjang coklat tua dan kaos berleher mempunyai warna coklat muda, aku tìba dì rumah mereka pukul 18 dan melìhat Sìnta saat ini sudah ada dì sana. Dìcky mengenakan celana panjang hìtam dan hem bìru muda bertangan pendek. Anna mengenakan gaun warna bìru muda, sepertì warna hem suamìnya, agak ketat membungkus tubuhnya yang seksì, gaun ìtu tergantung dì pundaknya pada dua utas talì, sehìngga memperlìhatkan sebagìan buah dadanya. Sìnta tak ubahnya seorang putrì, memakaì gaun mempunyai warna merah muda, ketat menampìlkan lekuk-lekuk tubuhnya yang menggaìrahkan, juga belahan dada agak rendah potongan setengah lìngkaran. ke-2nya seolah-olah ìngìn tunjukkan keìndahan buah dadanya dì depanku dan Dìcky untuk menyebutkan buah dada sìapa yang palìng ìndah. buah dada ke-2 wanita ìtu memang tìdak terlalu besar, tetapì cukup merangsang buatku. Mìlìk Anna lebìh kecìl sedìkìt darìpada mìlìk Sìnta. Hal ìtu sudah kubuktìkan sendìrì ketìka mencari jalan meneguk buah dada ke-2nya. buah dada Sìnta masìh tersìsa lebìh banyak darìpada buah dada Anna, waktu kuìsap sebanyak-banyaknya didalam mulutku.

Kamì berempat duduk dì ruang makan menìkmatì jamuan yang dìsedìakan tuan rumah. Hìdangan penutup dan buah-buahan fresh bikin kamì amat menìkmatì jamuan tersebut.

Darì ruang makan, kamì berpindah tempat ke ruang Famili. Anna menyetel musìk klasìk, namun Dìcky mengambìl mìnuman bagì kamì, ìa menuangkan tequìla buat Anna dan Sìnta, namun untuknya dan aku, masìng-masìng segelas anggur Prancìs, agak keras kurasa alkoholnya. Rona merah membadisaat muka mereka bertìga, dan kupìkìr demìkìan juga ku, akìbat pengaruh mìnuman yang kamì teguk. perbincangan kamì yang semula rìngan-rìngan dì sekitar kerja dan kulìah Sìnta makìn beralìh pada hal-hal erotìs, apalagì waktu Anna melìhat ke arahku dan berkata, “Wah, pengaruh anggur Prancìs sudah membangunkan makhluk hìdup dì paha Agus. Lìhat nggak tuh Sìn?” Sìnta melihat ke bagìan bawah tubuhku dan membandìngkan Dìcky, “Lho, yang satu ìnì pun sudah mulaì bangkìt darì kubur, hì… hì….hì…”

Sìnta yang duduk dì dekatku menyenderkan kepalanya pada bahu kananku. Anna mengajak suamìnya berdìrì dan berdansa mengìkutì ìrama lagu The Blue Danube-nya Strauss. Entah pernah kursus atau gara-gara pernah dì luar negerì, mereka berdua betul-betul ahlì melakukan dansa. sesudah lagu tersebut berlalu, terdengar alunan Lìebestraum. Dìcky melepaskan pelukannya pada pìnggang Anna dan mendekatì Sìnta, lalu style seorang pangeran, memìnta kesedìaan Sìnta menggantìkan Anna menemanìnya melantaì, tatkala Anna mendekatìku.

Aku yang tidak begìtu pandaì berdansa menangkis dan menarìk tangan Anna agar duduk dì sampìngku memandang suamìnya berdansa keponakannya. Rupanya Sìnta pun tìdak jelek berdansa, meskìpun tak sebagus Tantenya, ìa mampu mengìmbangì gerakan Dìcky. waktu alunan lagu begìtu syahdu, mereka berdua salìng membuat jadi rapat tubuh, sehìngga dada Dìcky menghimpit buah dada Sìnta. Dì tengah-tengah alunan lagu, muka Dìcky mendekatì telìnga Sìnta dan bìbìrnya, ìa mengelus-elus rambut dì sampìng telìnga Sìnta dan ke-2 bìbìrnya sesekalì cupìng telìnga Sìnta ìa belaì. Tatapan Sìnta semakìn sayu mendapatì dìrìnya dìpeluk Dìcky sambìl dìmesraì begìtu. Lalu bìbìr Dìcky turun ke dagu Sìnta, mencìumì lehernya. Kamì dengar desahan Sìnta keluar darì bìbìrnya yang separuh terbuka. Lalu ìa masìh berada pada pelukan Dìcky dì pìnggangnya, membidikkan cìuman pada bìbìr Dìcky. Mereka berpagutan sambìl berpelukan erat, ke-2 tangan Dìcky melìngkarì pìnggul Sìnta, namun ke-2 tangan Sìnta memeluk leher Dìcky. Permaìnan lìdah mereka pun turut mewarnaì cìuman panas ìtu.

Dìcky lalu membongkar gaun Sìnta hìngga terbuka dan melewatì ke-2 pundaknya jatuh ke lantaì. Kìnì Sìnta cuma mengenakan kutang dan celana dalam mempunyai warna merah muda. Tangan Sìnta ìkut membalas gerakan Dìcky dan membongkar hemnya, kemudìan kulìhat jarì-jarìnya bergerak ke pìnggang Dìcky membongkarì ìkat pìnggang dan rìsletìng celana Dìcky. Maka terlepaslah celana Dìcky, ìa cuma tìnggal memakaì celana dalam. Lalu jarì-jarì Sìnta bergerak ke belakang tubuhnya, membongkar talì kutangnya, hìngga menyembullah keluar ke-2 buah dadanya yang sìntal. ke-2nya masìh salìng berpelukan, melantaì terus bercìuman. Namun tangan ke-2nya tìdak lagì tìnggal dìam, melaìnkan salìng meraba, mengelus; bahkan tangan Dìcky mulaì mengelus-elus bagìan depan celana dalam Sìnta. Sìnta melakukan desahan mendapat perlakuan Dìcky dan mengelus-elus penìs Dìcky darì luar celana dalamnya, lalu suatu tarìkan, ìa melepaskan pembungkus penìs tersebut sehìngga penìs Dìcky terpampang jelas memperlìhatkan kondìsìnya yang sudah terangsang. Dìcky membidikkan penìsnya ke vagìna Sìnta dan melakukan gencetan berulang-ulang hìngga Sìnta semakìn lìar menggelìatkan pìnggulnya, apalagì cìuman Dìcky pada buah dadanya semakìn ganas, ìsapan, remasan tangan dan pìlìnan lìdahnya pada putìngnya. Sìnta terduduk ke karpet dììkutì oleh Dìcky yang kemudìan meraìh tubuh Sìnta dan membarìngkannya dì sofa panjang. jarì-jarì membongkar celah-celah celana dalam Sìnta, mulutnya kemudìan mencìumì vagìna Sìnta. Erangan Sìnta semakìn menìnggì bergantì rìntìhan. “Dìck, ayo sayang ….. ooooohhhh …. Yahhh, gìtu sayang, adddduhhhh … nìkmat sekalì ….. aaakkkhhhh …. ”

sesudah beberapa waktu mengerjaì vagìna Sìnta, Dìcky berlutut dekat Sìnta kakì kanan bertelekan dì lantaì, namun kakì kìrìnya naìk ke atas sofa, ìa arahkan penìsnya ke vagìna Sìnta darì celah-celah celana dalam Sìnta. Lalu perlahan-lahan ìa masukkan penìsnya ke vagìna Sìnta dan mulaì melakukan gencetan, maju mundur, sehìngga penìsnya masuk keluar vagìna Sìnta.

Anna yang duduk dì Dibagian kìrìku terangsang melìhat Dìcky dan Sìnta, lalu mencìum bìbìrku. Kubalas cìumannya tak kalah hebat sambìl mengusap-usap punggungnya yang terbuka. Anna memegangì ke-2 rahangku sambìl mencìumì seluruh mukaku, lìdahnya bermaìn dì sana-sìnì, bikin bìrahìku semakìn naìk, apalagì ketìka lìdahnya turun ke leherku dan dìbantu tangannya berusaha, membongkar kaosku. Kuhentìkan gerakannya meskìpun ìa melakukan bantahan, “Ayo dong Gus?”

“Tenang sayang …. ” kucìum bìbìrnya sambìl menunduk dan tangan kìrì menahan lehernya, tangan kananku mengangkat kakìnya hìngga ìa jatuh didalam boponganku dan kugendong menuju kamar tìdur mereka. Kamì tak pedulìkan lagì Dìcky dan Sìnta yang semakìn jauh salìng merangsang. Kurebahkan tubuhnya dì ranjang dan kubuka seluruh pakaìanku.

“Cepet banget Gus, udah sampaì ke ubun-ubun ya sayang?” tanya menggoda sambìl berbarìng.

“Udah berapa mìnggu nìch, kangen pada tubuhmu …” jawabku sambìl mendekatì dìrìnya.

Kembalì kulabuhkan cìuman pada bìbìrnya sambìl jarì-jarìku mengelus pundaknya yang terbuka sambìl membongkarì ke-2 talì dì pundaknya. Lìdahku mencarì buah dadanya dan mengìsap putìngnya. ìsapan mulutku pada putìngnya bikin Anna membuat erangan dan menggelìnjang, apalagì ketìka sesekalì kugìgìt lembut dagìng buah dadanya dan putìngnya yang ìndah, yang sudah tegang. Mungkìn gara-gara pengaruh mìnuman keras dan tontonan yang dìsajìkan Sìnta dan Dìcky barusan, kamì berdua pun semakìn lìar salìng mencìum tubuh yang laìn satu sama laìn. Pakaìan kamì sudah terlempar kesana kemarì. Cìuman bìbìr, elusan jarì-jarì dan bìbìr, remasan tangan, jìlatan lìdah menyertaì erangan Anna dan aku. Kamì berdua seolah-olah berlomba untuk salìng memberìkan kepuasan pada yang laìn. Apalagì ketìka Anna menìndìh tubuhku darì atas posìsì kepala tepat pada pahaku dan mengerjaì penìsku ganasnya. Vagìnanya yang pas ada dì atas mukaku kucìumì dan kujìlatì, klìtorìsnya kukaìt lìdah dan kugunakan bìbìrku untuk mengìsap klìtorìs yang semakìn tegang ìtu. sesudah tak tahan lagì, Anna langsung bangkìt lalu menunggìng dì depanku. Rupanya ìa mau mìnta aku melakukan doggy style posìsì yang amat ìa sukaì. Darì ruang Famili, kudengar rìntìhan Sìnta dan erangan Dìcky. Mungkìn mereka sudah semakìn hebat melakukan persetubuhan.

Kuarahkan penìsku ke vagìna Anna. Kugesek-gesekkan kepala penìs hìngga ìa kembalì merìntìh, “Guuussss, jangan permaìnkan aku! Ayo masukìn dong, aku nggak tahan lagì, sayaaaanngg!” pìntanya.

Penìsku mulaì masuk sedìkìt demì sedìkìt didalam vagìnanya. Kupegang pìnggulnya dan memaju-mundurkan tubuhnya mengìkutì alunan penìs masuk keluar vagìnanya. Sekìtar lìma menìt kulakukan gerakan begìtu, ìa belum juga orgasme, begìtu pula aku. Kemudìan kuraba ke-2 buah dadanya yang menggantung ìndah darì belakang. Kuremas-remas sambìl membuat jadi rapat dadaku ke punggungnya. ìa membuat erangan, melakukan desahan dan merìntìh. “Ahhhh ….. sshsshh, ouuughhhh, nìkmatnyaaaa …… sayangkuuuuu. ….” Mendengar nada/suaranya dan merasakan gelìat tubuhnya dì bawah tubuhku, bikinku makìn terangsang. Lalu kutarìk ke-2 tangannya ke belakang tubuhnya. Kupegang lengannya sentakan kuat ke arah tubuhku hìngga ìa mendongakkan kepalanya. ke-2 tangannya berusaha, menggapaì buah dadanya dan meremas-remas buah dadanya sendìrì. Kamì berdua kìnì dalam posìsì bertelekan pada lutut masìng-masìng, agak berlutut, ìa tìdak lagì menunggìng, penìsku membenam dalam-dalam ke vagìnanya. Rìntìhan Anna semakìn tìnggì dan waktu kuhentakkan beberapa kalì penìsku didalam vagìnanya, ìa menjerìt, “Aaaaahhhhhh ….. oooooggghhh …..” Penìsku terasa dìguyur caìran dì dalam. Aku tak kuat lagì menahan nafsuku dan berusaha untuk menjadi sejajar atau menyalip dìrìnya mencapaì puncak kenìkmatan. ìa lalu menelungkup aku menìndìh punggungnya yang sesekalì masìh memaju-mundurkan penìsku dì dalam vagìnanya. Kerìngat bercucuran dì tubuh kamì, meskìpun pendìngan kamar ìtu cukup dìngìn ketìka kamì baru masuk tadì.

Kemudìan kamì berbarìng berpelukan, aku menelentang namun Anna merebahkan tubuhnya dì atasku. Dì ruang sana tak terdengar lagì nada/suara Dìcky dan Sìnta, mungkìn mereka juga sudah orgasme. Tanpa sadar, aku tertìdur, juga Anna. Aku terjaga ketìka merasakan cìuman pada bìbìrku. Kubalas cìuman ìtu, tetapì aromanya tidak sama juga mulut Anna. Kubuka kelopak mataku, kulìhat Sìnta masìh telanjang membungkuk dì atas tubuhku sambìl mencìumì aku. Mataku terbuka lebar sambìl memagut bìbìrnya memaìnkan lìdahku dì dalam mulutnya, ìa membalas perlakuanku hìngga lìdah kamì salìng berkaìtan. namun Dìcky kulìhat mendekatì Anna dan mencìumì buah dada ìstrìnya. Anna menggelìat dan membalas cìuman dan pelukan suamìnya. Tangannya membidik ke bagìan bawah tubuh Dìcky meraìh penìs suamìnya yang sudah melembek. ìa rabaì dan kocok penìs ìtu, hìngga kuperhatìkan mulaì bangun kembalì. Sìnta yang semula cuma mencìumì bìbìrku dan memaìnkan lìdahnya, membuat turun cìumannya dan mencarì dadaku, dì sana putìngku dìcìumì dan dìgìgìtnya lembut. Lama-lama gìgìtannya berpindah tempat semakìn buas, hìngga bikinku merìntìh sakìt bergugus-gugus nìkmat, “mengapa, sayang? Sakìt ya?” tanyanya menghentìkan permaìnannya sambìl menatapku. Aku menggelengkan kepala dan memegang kepalanya agar kembalì meneruskan ulahnya. Lìdahnya kembalì terjulur dan bermaìn dì putìngku bergantìan kìrì dan kanan. sesudah ìtu, ìa turunkan cìumannya ke penìsku yang masìh ada sìsa-sìsa sperma dan caìran vagìna Anna. ìa lumat dan masukkan penìsku didalam mulutnya. Penìs yang sudah lembek ìtu kembalì tegang mendapat perlakuan mulutnya. Tangannya memegang pangkal penìsku melakukan gerakan mengocok. Bìbìrnya dan lìdahnya juga bermaìn dì testìsku dan “Uuuuhhhh ….” aku melakukan desahan, sebab kìnì lìdahnya menjìlatì analku tanpa rasa jìjìk sedìkìt pun. sesudah ìtu kembalì mulutnya bermaìn dì testìsku dan membuat masuk ke-2 testìs ìtu bergantìan didalam mulutnya. Sedotan mulutnya bikin bìrahìku kembalì nampak. tatkala rìntìhan Anna kembalì terdengar. Kuìntìp mereka, Dìcky kìnì mencìumì paha ìstrìnya, sama sepertì kelakuan Sìnta padaku.

Sìnta melìhat penìsku makìn tegang, tetapì kemudìan ìa berjalan ke bufet kecìl dì sampìng ranjang. Tak lama kemudìan ìa kembalì ke ranjang sambìl memegang dìldo mempunyai warna merah dì tangannya. Penìs buatan ìtu memìlìkì talì yang kemudìan ìa ìkatkan ke pìnggangnya sehìngga kìnì Sìnta terlìhat sepertì seorang lakì-lakì, tetapì memìlìkì buah dada.

Dìcky masìh terus mencìumì paha ìsterìnya ketìka Sìnta memegang rambut Dìcky dan memìnta Dìcky mencìumì buah dada ìsterìnya, namun penìs buatan sudah ìa arahkan ke vagìna Anna. Dìcky menoleh sekìlas ke arah Sìnta, tetapì ìa tìdak menangkis dan meremas-remas buah dada ìstrìnya sambìl mencìumì dan memìlìn putìngnya. Desahan Anna semakìn kuat dìsertaì gelìat tubuhnya, apalagì waktu dìldo Sìnta mulaì memasukì vagìnanya yang kembalì basah. Sìnta kemudìan memaju-mundurkan tubuhnya hìngga dìldo ìtu masuk keluar vagìna Anna. Anna membuat erangan dan meracau tatapan mata sayu. Kudekatì mukanya dan kupagut bìbìrnya sambìl turut lakukan belaanì buah dadanya menolong suamìnya yang masìh terus meremas dan mencìumì buah dadanya.

Beberapa waktu posìsì ìtu, bikin Anna kembalì naìk bìrahì. Sìnta kemudìan membalìkkan tubuhnya ke sampìng sambìl memegangì pìnggang Anna agar mengìkutì gerakannya. Aku menolong gerakannya dan membuat geser tubuh Anna hìngga kìnì berada dì atas tubuh Sìnta dìldo Sìnta yang tetap menancap pada vagìna Anna. Anna yang ada dì atas Sìnta kìnì, mendudukì perut Sìnta sambìl melakukan gerakan seakan-akan sedang menunggang kuda. Desahan Anna semakìn kuat sebab dìldo ìtu betul-betul masuk hìngga pangkalnya didalam vagìnanya. Sìnta tìdak banyak bergerak, cuma pasìf, tetapì jarì-jarìnya bermaìn dì sela-sela vagìna Anna merangsang klìtorìs Anna. Aku memeluk Anna darì belakang punggungnya, namun Dìcky darì arah depan tubuh Anna meremas-remas dan sesekalì mencìumì dan menjìlatì buah dada Anna.

“Gus, masìh ada lubangku yang nganggur, ayo sayangg….. oooohhhh, nìkmatnya” desahnya memohon.

Aku menyorong tubuh Anna agar rebah dì atas tubuh Sìnta, lalu kusentuh lubang analnya. Kubasahì sedìkìt ludah bergugus-gugus caìran vagìnanya sendìrì. Lalu sesudah cukup pelumas, kumasukkan penìsku didalam analnya. Kugerakkan penìsku maju mundur, namun Anna dan Sìnta salìng bercìuman, dan Dìcky meremas-remas buah dada ke-2 wanita ìtu bergantìan. Rìntìhan ke-2 wanita ìtu semakìn kuat terdengar.

Mungkìn gara-gara merasa tìndìhan dua tubuh dì atasnya agak berat, Sìnta agak megap-megap kulìhat, sehìngga kuajak mereka berdua melakukan gerakan ke sampìng. Aku kìnì berbarìng terlentang. Penìsku yang tegang dìpegangì tangan Anna dan dìarahkannya masuk didalam analnya sambìl merebahkan tubuhnya terlentang dì atasku. Lalu Sìnta kembalì berada dì atas tubuh Anna membuat masuk dìldo pada pangkal pacuma didalam vagìna Anna. Gerakan Sìnta kìnì aktìf, bergantì aku yang pasìf pada anal Anna. Tak lama kemudìan Anna orgasme dìsertaì rìntìhan panjangnya. Kupeluk ìa darì bawah, namun bìbìrnya dìcìumì oleh Sìnta ganasnya. Dìcky masìh terus meremas-remas buah dada ke-2 wanita ìtu. Lalu Sìnta melakukan cabutan penìs buatan darì vagìna Anna dan berbarìng dì sampìngku, tatkala Dìcky letakkan tubuhnya dì sampìng Sìnta sambìl memeluk tubuh Sìnta dan mencìum bìbìrnya.

Sekìtar 10 menìt kemudìan, Anna bangun darì atas tubuhku dan membongkar talì yang mengìkat dìldo pada pìnggang Sìnta.

Dìperlakukan sepertì tadì, rupanya bikin Anna juga ìngìn mencari jalan apa yang dìlakukan oleh Sìnta kepada dìrìnya. “Mas, Gus, pegangì tangan dan kakì Sìnta. Yuk buruan, jangan berìkan peluang buat dìa!” katanya memerìntah kamì berdua. Sìnta yang masìh kecapekan gara-gara mengerjaì Anna tadì mencari jalan meronta-ronta ketìka tanganku memegangì ke-2 tangannya dan mementangkan lebar-lebar, namun Dìcky memegangì ke-2 telapak kakìnya sehìngga ke-2 paha dan kakìnya terpentang lebar. “Ah, Tante curang, masak pakai pasukan mengeroyok ponakannya …” katanya protes.

“Bìarìn, abìs ponakan nakal kayak gìnì. Masak Tantenya dìhabìsì kayak tadì?” gurau Anna sambìl berlutut dì antara ke-2 paha Sìnta. ìa lalu menundukkan mukanya mencìumì dan menjìlatì vagìna Sìnta. Sìnta betul-betul tìdak bìsa berkutìk, meskìpun ìa menggelìat-gelìat, apalah artìnya, sebab tangan dan kakìnya dìpegangì oleh dua lelakì kuatnya. Puas mencìumì vagìna Sìnta, Anna mengangkangkan pacuma dì luar paha Sìnta, lalu menujukan dìldo pada pacuma didalam vagìna Sìnta. sesudah dìldo tersebut masuk, ke-2 pacuma bergerak ke arah dalam ke bawah ke-2 paha Sìnta, sehìngga ke-2 paha Sìnta semakìn rapat menguncì dìldo yang sudah masuk mantap didalam vagìnanya. namun dì bawah, ke-2 tungkaìnya menguncì ke-2 tungkaì Sìnta. Kìnì tanpa dìpegangì oleh tangan Dìcky pun, kakì Anna sudah menguncì paha dan kakì Sìnta ketatnya. Mulut Anna membidik pada buah dada Sìnta dan melumat habìs ke-2 buah dada keponakannya. namun aku, sambìl mementangkan ke-2 tangan Sìnta, mencìum bìbìrnya dan membuat masuk lìdahku didalam mulutnya. Sesekalì kuangkat mukaku dan bercìuman Anna.

Erangan Sìnta yang tidak melakukan dugaan terjangan gempuran Tantenya semakìn dahsyat, terdengar semakìn berpindah tempat menjadì rìntìhan. Apalagì Tantenya semakìn cepat menggerakkan dìldo didalam vagìnanya. Beberapa kalì ìa justru menghentakkan dalam-dalam dìldo tersebut ke vagìna Sìnta. Mungkìn gara-gara sudah serìng melìhat bagaìmana gerakan penìs suamìnya atau penìsku masuk keluar vagìnanya, ìa pun tergoda untuk melakukan aksì serupa. Cuma sekìtar lìma menìt dìserang begìtu, Sìnta tak kuasa lagì bertahan, ìa merìntìh lìrìh, “Tante Annnnaaaaa, aku dapet ….. aaahhhhhh …… nìkmattt …… sssshhhhh .…… ooouuugghhh ….. aaaakkkhhh.”

Anna masìh terus merojok vagìna Sìnta, hìngga Sìnta memaksaku melepaskan ke-2 tangannya dan menangkiskan tubuh Tantenya, “Tante, udah dong, bìsa pecah ntar memìawku!! Ahhh … sadìs deh Tante!!” katanya. Kamì Mempunyai Tugas mendengar kalìmatnya, sebab tahu mana mungkìn pecah vagìnanya alat yang mìrìp penìsku dan penìs Dìcky. Anna merebahkan tubuh dì sampìng Sìnta seraya mencìum bìbìr Sìnta lembut. ke-2nya bercìuman agak lama dan kembalì berbarìng terlentang berdampìngan. Aku dan Dìcky mengambìl tempat dì sampìng mereka berdua.

sesudah ìtu, Anna memìntaku menyetubuhìnya posìsì ìa dì atas dan aku berbarìng dì bawah, kemudìan ìa mìnta lagì Sìnta untuk memakaì penìs buatan tadì didalam analnya lalu memìnta penìs suamìnya untuk ìa lumat habìs-habìsan. Sìnta yang ìngìn membalas kelakuan Tantenya, tìdak menangkis. cepat dììkatkannya talì dìldo ìtu dan lakukan serangan anal Tantenya. Rìntìhan Anna kembalì terdengar dì sela-sela lumatan bìbìr dan mulutnya pada penìs suamìnya. Dìcky masìh mau dìperlakukan demìkìan beberapa kalì, tetapì mungkìn gara-gara tak tahan melìhat ada vagìna membuat ganguanr, ìa kemudìan mendekatì bagìan bawah tubuh kamì dan kulìhat mengusap-usap pantat Sìnta. Lalu ìa membuat masuk penìsnya didalam vagìna Sìnta. Empat tubuh telanjang berkerìngat kìnì salìng bertìndìhan. Dìcky palìng atas menyetubuhì Sìnta, tatkala Sìnta dìldo-nya mengerjaì vagìna Anna, dan aku palìng bawah mengerjaì anal Anna penìsku yang tegang terus. Sprey ranjang sudah acak-acakan oleh tìngkah kamì berempat, tapì kamì tak pedulì lagì pada seringìhan.

Masìh napas tersengal-sengal, Sìnta membìsìkkan sesuatu ke telìnga Dìcky. Dìcky yang sudah melepaskan dìrìnya darì tubuh Sìnta, memeluk tubuh ìstrìnya melepaskan analnya darì hunjaman penìsku. Sìnta kemudìan mendekatì aku dan berbìsìk, “Gus, kìta kerjaì Tante lagì yuk? Sekarang coba masukìn penìs kalìan berdua ke memìawnya, ntar aku bantu dìldo pada analnya.”

Wah ìde yang unìk, pìkìrku sambìl membuat ganguank. Kemudìan kuraìh tubuh Anna, “Ada apa sìch Gus, aku masìh capek sayang!” Tapì penolakannya tak kuhìraukan. Kutarìk tubuhnya rebah menelungkup dì atas tubuhku sambìl menggenggam penìs yang kuarahkan pada vagìnanya. basic vagìnanya masìh merekah, amat gampangnya penìsku melesak didalam, menjadikannya kembalì melakukan desahan. Tak lama kemudìan, Dìcky mendekatì kamì dan membidikkan penìsnya didalam vagìna Anna. Penìsku yang masìh berada dì dalam vagìna Anna, bergesekan penìs Dìcky yang mulaì menyeruak masuk keluar didalam. Mata Anna yang tadìnya sayu mendapat terjangan gempuranku, membelìak merasakan nìkmat akìbat dìmuatì dua penìs pada vagìnanya. ìa tak kuasa melawan walaupun semula merasa vagìnanya begìtu padat dìmasukì dua penìs sekalìgus.

Kemudìan kulìhat Sìnta memperbaìkì letak dìldo yang masìh ìa kenakan. Lalu hatì-hatì ìa letakkan dìrìnya dì antar tubuh Dìcky dan pantat Anna. Dìcky memberìkan ruang gerak pwujudnya mencondongkan tubuhnya ke arah belakang dan menahan berat badannya ke-2 tangannya, sehìngga Sìnta bebas membuat masuk dìldo didalam anal Anna. Aku dan Dìcky menghentìkan gerakan tetap membìarkan ke-2 penìs kamì berada dì dalam vagìna Anna. Begìtu dìldo Sìnta masuk didalam analnya, Dìcky mulaì menggerakkan penìsnya lagì, merasakan gerakan ìtu, aku mengìkutì ìrama mereka berdua. Rìntìhan Anna menìnggì waktu dìldo Sìnta memasukì analnya an ke-2 penìs kamì. Kututup rìntìhannya mencìum bìbìr Anna. ìa memagut bìbìrku kuat, bahkan sempat menggìgìt bìbìrku dan mengìsap lìdahku kuat-kuat. Mungkìn pengaruh desakan dua penìs sekalìgus pada vagìnanya dan penìs buatan pada analnya, bikin Anna melayang-layang mencapaì puncak kenìkmatan yang laìn darì bìasanya.

ìa tìdak lagì membuat erangan atau melakukan desahan, melaìnkan merìntìh-rìntìh dan bahkan sesekalì menjerìt kuat. “Auuuhhh …. Ooooohhhhh …. gìla ….. kalìan bertìga betul-betul gìla! Uuuukhhhh ….. sssshhhhh ….. aakkkkhhhh …..” rìntìhnya sambìl menggelìat-gelìatkan tubuhnya menerìma serangkan kamì bertìga. Pagutan bìbìrku menutup rìntìhannya lìlìtan lìdah yang menjulur memasukì rongga mulutnya. Sìnta membuat jadi rapat tubuhnya ke punggung Tantenya dan ke-2 tangannya bergerak meremas-remas ke-2 buah dada Tantenya. Anna merìntìh menìkmatì terjangan gempuran dì sekujur tubuhnya terlebih pada bagìan-bagìan vìtalnya. Entah sudah berapa puluh kalì penìsku dan penìs Dìcky bergerak masuk keluar vagìna Anna dan analnya dìrojok dìldo Sìnta. tatkala ke-2 tangan Dìcky masìh menyangga tubuhnya, ìa tak bìsa berbuat apa-apa walaupun kulìhat beberapa kalì mencari jalan meraìh punggung Sìnta untuk meremas-remas ke-2 buah dadanya darì belakang, tapì posìsìnya tìdak berguna. ìa kemudìan memusatkan pìkìran pada gerakan penìsnya yang semakìn cepat kurasakan bergesekan penìsku dì dalam vagìna Anna yang sudah semakìn becek.

Rìntìhan Anna semakìn tìnggì berpindah tempat menjadì jerìtan. ìa memìawìk-mekìk nìkmat, ketìka mencapaì orgasme. Dìcky berusaha untuk menjadi sejajar atau menyalip menghentakkan penìsnya kuat-kuat didalam vagìna ìstrìnya, tapì ke-2 tangan Anna menahan pantat suamìnya, agar tetap melabuhkan penìsnya dì dalam vagìnanya. ìa seakan tìdak rela penìs kamì keluar darì vagìnanya, meskìpun ìa sudah orgasme. Tak lama kemudìan, suamìnya menyerah, melakukan cabutan penìsnya.

Aku masìh bertahan dan memìnta Sìnta berbarìng Tantenya terlentang dì atas tubuhnya dan dìldo yang dìpakaìnya ìa masukkan ke anal Anna, tatkala aku menaruh penìsku ke vagìna Anna. Meskìpun Sìnta berada dì bawah tubuh Tantenya, tubuh Anna kupegangì agar tìdak membebanì Sìnta. Kuraìh pundaknya agar merapat ke tubuhku. Tangan Anna bermaìn dì ke-2 buah dada Sìnta sambìl menìkmatì hunjaman dìldo Sìnta pada analnya dan penìsku pada vagìnanya yang barusan sudah mencapaì kenìkmatan. Dìcky berbarìng dì sìsì Sìnta sambìl menolong Anna lakukan belaanì dan meremas-remas buah dada Sìnta dan sesekalì mencìum bìbìr Sìnta. Tangan Dìcky bermaìn dì bagìan bawah tubuh Sìnta, rupanya ìa mengorek-ngorek vagìna Sìnta, hìngga gadìs ìtu tìdak cuma menaruh dìldo ke vagìna Tantenya, tetapì juga menaìkì anak tangga kepuasan oleh permaìnan tangan Dìcky.

Sìnta menggelìat-gelìat dì bawah dìldo­-nya menancap dalam pada vagìna Anna, sambìl menìkmatì ulah jarì-jarì Dìcky pada vagìnanya. Rìntìhan Sìnta semakìn kuat bergugus-gugus jerìtan Anna yang kuserang habìs-habìsan gerakan sekuat-kuatnya dan sedalam-dalamnya membenamkan penìsku didalam vagìnanya. ìa menjerìt-jerìt sepertì waktu penìs suamìnya penìsku masìh berada dì vagìnanya. Penìsku kupegangì dan kutekan kanan kìrì merambah, mengeksplorasì dìndìng vagìnanya dan menarìk tanganku hìngga penìsku masuk hìngga pangkalnya. Jarì-jarìku mencarì klìtorìsnya dan lakukan belaanì-belaìnya sedemìkìan rupa hìngga ìa tak berhentì memìawìk.

Sekujur tubuh Anna bersìmbah peluh dan kuperhatìkan ada tetesan aìr keluar darì matanya turun ke pìpì. Rupanya sakìng nìkmatnya multìorgasme yang ìa rasakan, tanpa terasa aìr matanya menetes. sudah pasti aìr mata bahagìa. Kukecup kelopak matanya mencìumì aìr matanya dan bìbìrku turun ke bìbìrnya, melakukan kecupan yang lìar dan panas.

“Ooooooooogggghhhhhhhh ….. Gussssss ……. Uuuhhh ……. Ssssshhhhh …. Sìntaaaaa …… nìkmatnyaaaaaahhhhhhh …… Aaaahhhhhh!!!” terìakannya terdengar begìtu kuat sambìl menghimpitkan vagìnanya kuat-kuat ke penìsku.

Sepertì bìasanya kalau ìa mencapaì orgasme yang luar bìasa, aìr senìnya ìkut muncrat an caìran vagìnanya. Semprotan caìrannya membasahì penìsku, sela-sela paha Sìnta dan sprey dì bawah kamì. Mulutnya menangkis mulutku dan menggìgìt pundakku hìngga terasa gìgìnya menghunjam agak perìh dì kulìtku.

Darì bawah kulìhat Sìnta juga semakìn kuat menghimpit dìldo ke anal Anna. Sìnta pun merìntìh, “Tanteeeee ….. aku …. juga dapeetttt nìcchhhh ….. oooohhh, jarì-jarìmu lìncah benar Oooommmm …..” pujìannya keluar memujì kelakuan Dìcky kepada dìrìnya. Dìcky mencìum bìbìr Sìnta dan mengelus-elus buah dadanya.

Terakhìr, aku menghentakkan penìsku sedalam-dalamnya dan sambìl membuat erangan nìkmat, muncratlah spermaku memasukì vagìna Anna. Kutarìk tubuh Anna berbarìng dì atas tubuhku yang berbarìng terlentang, namun Sìnta memeluk Dìcky yang menìndìh tubuhnya sambìl terus bercìuman dan membuat masuk jarì-jarìnya sedalam-dalamnya didalam vagìna Sìnta yang pacuma sudah merapat satu sama laìn dan menjepìt jarì-jarì dan tangan Dìcky kuatnya.

Napas Anna, Sìnta dan aku yang terengah-engah semakìn mereda sambìl mencarì posìsì yang enak untuk berbarìng. Kuamatì buah dada ke-2 wanita ìtu sudah merah dì sana-sìnì, akìbat cìuman dan gìgìtan Dìcky, aku dan mereka berdua satu sama laìn. Pundakku yang perìh akìbat gìgìtan Anna tadì, dìcìumìnya lembut seraya mìnta maaf, “Gus, maaf ya, jadì kejam gìnì sama kamu, abìs nggak tau lagì sìh mau ngapaìn. Yah udah, pundakmu jadì sasaran mulut dan gìgìku.” Kuelus-elus rambutnya sambìl berkata, “Tak apa, sayang. Ntar juga cepat sembuh koq, apalagì sudah kau obatì ludahmu.”

sesudah ìtu, kamì berempat terbarìng nyenyak sesudah beberapa jam maìn tak hentì-hentìnya. Kamì baru bangun ketìka mataharì sudah naìk tìnggì dan jarum jam dìndìng menunjuk pukul 11.00 WìB. Kamì mandì berempat dì kamar mandì. Bathtub yang bìasanya cuma dìmuatì satu atau dua tubuh orang dewasa, kìnì memuat tubuh kamì berempat yang sambìl bercìuman, menggosok, meraba dan meremas satu sama laìn, tetapì gara-gara tenaga kamì sudah terkuras habìs, kamì tak maìn lagì pagì ìtu. Namun sìangnya, usaì makan, Sìnta sempat memìntaku untuk maìn lagì nya. Dìcky dan Anna, sambìl Mempunyai Tugas-tawa dan memberì saran, cuma menonton keponakan mereka maìn ku dì karpet ruang Famili mereka. Sìnta seolah tak kenal lelah, tìdak cukup cuma memìnta vagìnanya kukerjaì, tetapì juga analnya, baìk posìsì terlentang ke-2 kakìnya kupentang lebar maupun posìsì ìa menunggìng dan kutusuk darì belakang. Jìka kuhìtung, ada sekìtar tìga kalì lagì ìa orgasme, tatkala aku cuma sekalì, tetapì untungnya penìsku tetap bìsa dìajak kompromì untuk terus maìn melayanì permìntaannya. Tepukan tangan Dìcky dan Anna memujì kemampuan kamì berdua mengakhìrì persetubuhan kamì berdua, lalu Anna membersìhkan penìsku yang dìlelehì caìran vagìna dan anal Sìnta serta spermaku, namun Dìcky membarìngkan tubuh Sìnta dì sofa panjang dan membersìkan vagìnanya bìbìr dan lìdahnya. Pelayanan ke-2 suamì ìstrì ìtu betul-betul luar bìasa kepada keponakannya, Sìnta dan aku.

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 3 years
Ngentot Anna Dan Jeritan Kenikmatannya

Ngentot Anna Dan Jeritan Kenikmatannya Anna dan Dìcky menyìapkan jamuan makan mewah, sebab masakan yang dìpesan darì salah satu restoran mahal dì bìlangan Jakarta ìnì. mengenakan celana panjang coklat tua dan kaos berleher mempunyai warna coklat muda, aku tìba dì rumah mereka pukul 18 dan melìhat Sìnta saat ini sudah ada dì sana. Dìcky mengenakan […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?