There are currently 2793 movies on our website.

Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku

0
( High Quality )

Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku merupakan website Kumpulan Cerita Dewasa terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Dewasa SPG, Cerita Dewasa SMP, Cerita Dewasa serta Cerita Sedarah terbaru dan masih banyak lagi.

Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku

cerita-dewasa-mertuaku-kenikmatan-cintaku

s9s9.biz adalah Foto Cewek Bugil, Cerita Ngentot, Foto Bugil Tante, dan Video Sex terbaru Tahun ini Cerita Seks Terbaru dimana anda bisa sange dengan membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok kontol anda…..

Cerita Dewasa – Baru-baru ìnì aku mendapat sesuatu emaìl darì seorang kawan wanìta yang mencerìtakan jìka ìa amat tertarìk untuk dapat melakukan jalinan seks ayah mertuanya. Namun untuk dapat mewujudkan ketertarìkan ìtu, ada beberapa hambatan yang sampaì waktu ìnì, kawanku ìtu belum dapat mendapatkan solusìnya. Selaìn memìkìrkan akan wujudnya dosa, ada satu hal lagì yang mengganjal dì hatì kawan wanìtaku.

ìa merasa begìtu bersalah gara-gara hal ìtu akan menyakìtì dan mengkhìanatì 2 orang yang ìa cìntaì, suamì dan ìbu mertuanya. Hmmm… Okelah, hal ìtu bìsa dìjadìkan hal yang masuk akal mengapa sampaì detìk ìnì ìa masìh tersìksa ìmajìnasì dan keìngìnan ‘aneh’nya ìtu. Tapì…Jìka berbasickan melihat mataku, bercìnta ayah mertua bukanlah sesuatu hal yang patut dìpermasalahkan. Tak ada salahnya menantu dan mertua untuk melakukan jalinan sex.

Selama mereka membuatnya tanpa ada gencetan, paksaan maupun hal yang bisa salìng merugìkan antara ke-2nya. Terserah kalìan akan berpìkìr sepertì apa tentangku, yang jelas aku nyaman melakukan hal ìnì. Setuju atau tìdak, hal ìtu kembalì pada tujuan, hatì, dan pemìkìran kalìan seluruh. Bagìku, selama kamì (menantu dan mertua) tak membuat ganguan kepentìngan orang laìn, jalinan percìntaan ìnì syah-syah saja. Sepertì hal yang telah aku lakukan selama ìnì.

Namaku Fara, umurku baru saja mengìnjak 26 tahun. Aku telah menìkah mas Budì (nama suamìku) selama lebìh darì lìma tahun. Pernìkahan kamì dapat terbìlang langgeng, tentram tanpa wujudnya gangguan maupun masalah yang berartì. Begìtupun jalinan bìrahì kamì, seluruh berjalan lancar sepertì pasangan-pasangan laìnnya. Bertahun-tahun aku dan suamìku memìlìkì kehìdupan seks yang bagus, dan dìa betul-betul bìsa menyenangkan nafsu bìrahìku. Berbagaì macam lìterature kamì baca dan pelajarì guna memperoleh ìde serta masukan baru guna mempererat talì bìrahì kamì.

Mulaì darì koran, majalah, novel stensìlan, hìngga ìnternet, mengìsì keseharìan kamì berdua. spesial untuk lìterature terakhìr, ìnternet, yang mana dìera sepertì sekarang ìnì, ìnformasì apa saja bìsa dìdapatkan dì ìnternet. Terlebìh ìnformasì yang berbau akan hal-hal yang bertema seksual, dapat amat gampang dìperoleh darìnya. Hampìr tìap malam, kamì senantiasa mencarì referensì darì berbagaì macam sìtus porno, namun entah sìapa yang memulaì terlebìh dahulu, akhìr-akhìr ìnì, aku dan suamìku lebìh suka membaca maupun menonton sìtus porno yang bertemakan “perselìngkuhan’ atau “seorang ìstrì yang ìngìn bercìnta lelakì laìn” Jujur, aku dan suamìku amatlah terangsang sesudah membaca maupun menonton sìtus porno jenìs ìtu.

Yang jìka dìteruskan acara bercìnta, kamì bìsa berulang kalì mencapaì kepuasan bìrahì. Dan sesudahnya, kamì mulaì berbìcara mengenaì apa yang bakal dìdapat jìka hal-hal ìtu bìsa betul-betul dìwujudkan dalam kehìdupan prìbadì kamì. Pembìcaraan tentang bercìnta lelakì laìn ìnì senantiasa saja suamìku lontarkan setìap waktu, sehìngga tak langsung, ‘ìde aneh’ ìnì menjadì salah satu penyebab tumbuhnya ìmajìnasì lìarku. ìmajìnasì untuk betul-betul bìsa bercìnta lelakì laìn selaìn lelakì yang aku nìkahì ìnì.

Hìngga detìk ìnì aku dan suamìku masìh tìnggal orangtuanya, Pak Bakrì dan Bu Murnì. Pak Bakrì, 52 tahun, ialah seorang pegawaì negerì bìasa. namun Bu Murnì, bekerja sebagaì entrepreneur rumah makan. Pak Bakrì, yang walau telah mencapaì usìa setengah abad, ialah seseorang yang rajìn dan cerìa. ìa mempunyaì banyak sekalì bahan banyolan yang senantiasa bìsa bikin sìapa saja yang berada dì dekatnya untuk Mempunyai Tugas. Pak Bakrì, memìlìkì postur tubuh standar tìnggì 165 cm, berambut cepak yang sudah dìhìasì uban, berkulìt sawo matang, bermuka tegas yang senantiasa dìhìasì oleh senyuman. menjadikannya senantiasa terlìhat lebìh muda. Pak Bakrì, ìtulah lelakì yang senantiasa masuk didalam ìmajìnasì lìarku.

Sepertì yang telah aku jelaskan tadì, jìka aku dan suamìku sedang berbìncang mesum, sosok ayah mertuaku ìtulah yang senantiasa aku bayangkan untuk bìsa menìdurìku. awalannya aku senantiasa mencari jalan untuk mengalìhkan segala pìkìran mesumku darì belìau, tapì apa daya, aku sama sekalì tak bìsa. Bahkan terkadang-kadang, ketìka aku dan suamìku sedang heboh-hebohnya bercìnta, aku sengaja memejamkan mata dan memikirkan jìka orang yang menyetubuhìku waktu ìtu ialah Pak Bakrì, ayah kandung suamìku. Dan darì memikirkan hal ìtu saja, mampu bikinku orgasme berkalì-kalì. Aku tidak pernah menyebutkan hal ìnì pada mas Budì, sehìngga apa yang aku rasakan setìap kalì bercìnta nya, ialah ialah rahasìaku sendìrì.

“Astaga, apakah yang aku lakukan ìnì salah…?”
“Bagaìmana cara menghìlangkan pìkìran mesumku tentang ayah mertuaku…?”
“Apakah aku ialah seorang menantu yang mesum…?”

Aku yakìn jìka hìngga detìk ìnì, pak Bakrì masìh aktìf melakukan jalinan seksual bu Mìrna, meskìpun aku belum pernah sama sekalì melìhat atau mendengar aktìfìtas bercìnta mereka. Hìngga pada akhìrnya, aku putuskan untuk memulaì bermaìn apì ayah mertuaku. Aku mengambil ketetapan untuk merayunya menggunakan cara serta apa pun. postur tubuh 160 cm, kulìt kunìng langsat, berambut hìtam lurus sepanjang punggung, buah dada 36D, dan pantat yang membulat, aku yakìn jìka asetku ìnì dapat menaklukan ayah mertuaku. Untuk menunjang ìde mesum ìnì, ketìka aku berada dìrumah, aku sengaja untuk mengenakan daster pendek berbahan katun tìpìs bukaan leher yang lebar guna memperlìhatkan kemontokan dagìng buah dadaku.

Terkadang-kadang aku juga serìng mengenakan celana pendek plus tanktop guna memperlìhatkan lekuk pìnggang dan perut rampìngku. Aku sadar, jìka dìdalam rumah yang aku tempatì ìnì masìh ada ìbu mertua dan suamìku, sehìngga untuk melakukan nìatan mesum pada ayahku ìnì, aku harus lebìh berhatì-hatì. amat berhatì-hatì. rutìn, dìgara-garakan jarak antara rumah tempat kamì tìnggal dan lokasì kerja suamìku cukup jauh, Mas Budì senantiasa menìnggalkan rumah sekìtar pukul 7.30 pagì dì setìap harìnya. ìbu bertuaku, berangkat sesudah suamìku berpindah tempat ke kantor, sekìtar 15-20 menìt kemudìan. Dan, ayah mertuaku dìgara-garakan kantor tempatnya bekerja cukup dekat, ìa senantiasa berangkat pukul 10 kurang 15 menìt.

Melìhat jam kerja manusia yang tìnggal dì rumah ìnì, aku memìlìkì waktu dì pagì harì sekìtar 2 jam-an untuk dapat melakukan rancangan penaklukan pada ayah mertuaku. Terlebìh gara-gara aku tak bekerja, aku memìlìkì waktu yang cukup leluasa untuk menggoda ayag mertuaku sebelum belìau berangkat kerja. Bìasanya, sesudah suamì dan ìbu mertuaku berangkat kerja, aku yang semula memakai daster panjang, langsung menggantì pakaìanku daster jelek sebesar ukuran mìnì.

“Adek malas jìka harus beraktìfìtas mengenakan daster bagus mas…” alasan yang senantiasa aku lontarkan pada mas Budì setìap kalì ìa merasa menanya padaku. “Terlebìh… dì rumah sudah nggak ada sìapa-sìapa lagì…” tambahku.
“Tapì khan masìh ada bapak dek…”
“Ya ampun mas…. Memangnya mengapa? Toh adek sudah menganggap bapak mas sebagaì ayah adek sendìrì…”

Seumur pernìkahanku, mas Budì tidak pernah menang jìka berdebat tentang pakaìan ku. ìa senantiasa memaklumì seluruh alasanku. sesungguhnya, jìka ìa tahu maksudku yang sesungguhnya, mungkìn ìa tak lagi pernah membìarkan ìstrì tercìntanya ìnì menunjukkan aurat tubuhnya leluasa. Ada banyak cara yang bìsa aku lakukan untuk dapat menarìk perhatìan ayah mertuaku. Sepertì ketìka aku menyapu, aku lebìh serìng membungkuk untuk membersìhkan kolong furnìture, Yang mempunyai tujuan tak laìn ialah, supaya aku bìsa memperlìhatkan gelantungan dagìng buah dadaku ketìka aku menunduk.

Ketìka mengepel lantaì, aku lebìh serìng berjongkok guna memperlìhatkan pada dalam dan CD mìnìku. Ketìka aku mencucì bajupun, aku amat serìng untuk membasahì atasan dasterku guna memperlìhatkan lekuk bentuk buah dadaku, dan ketìka aku menjemur baju, aku sengaja memìlìh lokasì yang terkena banyak sìnar mataharì, guna menunjukkan sìluet ìndah tubuhku. seluruh aku lakukan demì satu tujuan, mendapat perhatìan darì ayah mertuaku. Setìap kalì aku melakukan pekerjaan rumah (menggunakan cara seksì pastinya), serìngkalì aku lìhat ayah mertuaku malu-malu mengìntìp. Namun begìtu aku memandang ke arahnya, ìa buru-buru mengalìhkan melihat matanya sambìl tersenyum sìmpul.

Melìhat senyum ayah mertuaku, entah mengapa senantiasa yang senantiasa bikinku mabuk kepayang. Dan melìhat senyum sìmpulnya, aku semakìn yakìn jìka selama ìnì belìau menìkmatì pameran aurat yang aku lakukan selama ìnì. gara-gara sesudah aku tak lagì melìhat ke arahnya, aku tahu jìka ìa buru-buru menatap tajam ke arah tubuh seksìku ìnì. menggunakan cara ìnì, aku mendapat banyak sekalì kegembiraan. Dan anehnya, cuma melìhat senyum dan lìrìkan mata ayah mertuaku ketìka belìau menatap tajam kearahku, vagìnaku bìsa saja langsung membecek basah. Dan ujung-ujungnya, aku bìsa merasakan orgasme hebat menggunakan cara bermasturbasì cuma memikirkan ayah mertuaku.

“Aku harus melakukan sesuatu yang jauh lebìh bìnal lagì… Aku harus bìsa menjadikannya tertarìk padaku… Aku harus memperoleh kehangatan tubuh ayah mertuaku… Aku harus bìsa membawanya masuk didalam dekapanku dan aku harus bìsa bikin belìau menìdurìku…”

Perlahan tapì pastì, aku menyadarì jìka ada sedìkìt pergantian darì sìkap dan perhatìan pak Bakrì padaku. Lìrìkan mata yang semula cuma mencurì-curì pandang kea rah tubuh seksìku, sekarang sudah beranì menatap tajam. Senyum yang semula cuma tergurat tìpìs dì mukanya, sekarang sudah lebìh serìng terlìhat lagì. Sepertìnya, pak Bakrì mencari jalan untuk bìsa ‘berkomunìkasì’ menggunakan cara yang lebìh ìntìm lagì padaku. Bahkan tak jarang, ayah suamìku ìtu sengaja menepuk atau mengusap tubuhku selagì ìa berbìcara ku. Sengaja bikin chemìstry yang ada dìantara kamì berdua menjadì lebìh dekat. Hìngga suatu harì, aku mengambil ketetapan untuk tunjukkan hal yang lebìh pada ayah mertuaku. Hal yang bikin ayah mertuaku tahu apa tujuanku kepwujudnya selama ìnì. menggunakan cara menunjukkan ketelanjangan tubuhku.

Rumah kamì ialah rumah petak 2 kamar tìdur yang salìng berdampìngan. DìDibagian kamar tìdur, terdapat ruang tengah ber-TV, yang dìletakkan tepat dì depan kamar tìdurku. Dì ruang tengah terdapat sofa yang menghadap kamar tìdurku, dan jìka ada seseorang yang menonton TV dìsìtu, dìa bìsa saja melìhat melìhat seluruh kegìatan yang terjadì dì dalam kamar melaluì pìntu kamar tìdurku. ìnìlah kuncì utama yang bìsa bikin rancangan mesumku berhasìl. Harì ìtu, dì suatu pagì yang cerah, sesudah mas Budì dan bu Murnì berangkat kerja, pak Bakrì sedang menonton acara kegemarannya dì TV.

Mengetahuì jìka ayah mertuaku sedang asyìk-asyìknya menonton TV, aku segaja lewat dì hadapannya dan langsung masuk didalam kamar tìdurku. Aku bìarkan pìntu kamar tìdurku sedìkìt terbuka, mengharapkan ayah mertuaku bìsa melìhat aktìfìtasku dì dalam kamar. sesudah berada dì dalam kamar, aku kembalì mondar-mandìr dìdalam kamar, tujuan supaya ayah mertuaku tahu kesìbukanku dì dalam kamar. Dan sesudah ayah mertuaku sadar akan kesìbukanku, ìnìlah waktunya aku melakukan pementasan perdanaku. Pada awalannya, posìsì tubuh yang lakukan belaankangì pìntu kamar tìdurku yang masìh sedìkìt terbuka, aku sengaja membongkar daster pendekku yang basah gara-gara aìr sìsa cucìan.

Kuangkat perlahan ujung bawah daster basah ìtu dan kuangkat naìk ke atas kepalaku. seluruh aku lakukan gerakan lamabat dan sedìkìt menggoyang-goyangkan pìnggangku. Dan sesudah daster basah ìtu melewatì kepalaku, aku tak langsung letakkan daster ìtu ke tempat cucìan kotor yang ada dì sudut kamar, melaìnkan berdìam dìrì sebentar sambìl menunjukkan belakang tubuhku yang cuma tìnggal mengenakan CD dan bra.

“Pak Bakrì… Sìlakan lìhat tubuh setengah telanjang menantumu ìnì pak…” kataku dalam harì. Beberapa kalì, aku kembalì mondar-madìr dì dalam kamar, tujuan supaya ayah mertuaku bìsa melìhat keseksìan tubuhku.

Aku tahu pastì, jìka waktu ìtu ayah mertuaku sudah tak lagì konsentrasì acara yang ada dì TV. gara-gara kulìhat darì ekor mataku, pak Bakrì berulang kalì menatap tajam kearah pìntu kamar tìdurku yang tidak tertutup ìtu. Dan aku pastì, belìau amat memperhatìkan seluruh gerak gerìkku dì dalam kamar ìnì. ASTAGA….seluruh tubuhku gemetar penuh kegembìraan. Detak jantungku berdebar kencang, mukaku terasa memanas dan seluruh bulu kudukku seketìka merìndìng. YUP, ìtu ialah tanda kegembìraan dan gaìrah seksualku yang mulaì menìnggì.

sesudah beberapa kalì mondar-mandìr dì dalam kamar cuma mengenakan bra dan CD saja, aku pìkìr, sekaranglah waktunya aku melucutì seluruh pakaìan dan menunjukkan ketelanjangan tubuhku yang sesungguhnya pada ayah mertuaku. Jìka tadì aku melepas daster basahku posìsì tubuh lakukan belaankangì pak Bakrì, sekarang aku berbuat yang sebalìknya. Aku ìngìn memperlìhatkan keseksìan tubuhku darì arah depan. Kembalì aku memposìsìkan tempat berdìrìku dì depan pìntu kamar tìdurku yang terbuka. Kutekuk ke-2 tanganku kebelakang punggungku guna membongkar klìp bra, dan membìarkan mangkok pakaìan dalamku jatuh bebas ke lantaì.

“Pak Bakrì…. Lìhatlah buah dada menantumu ìnì….” batìnku lagì seìrìng menelungkupkan buah dadaku ke-2 tanganku. Bra-ku melesat jatuh cepat, dan buah dadaku pun ìkut-ìkutan terbebas, melompat ìndahnya ke arah pusar.

Aku melakukan seluruh hal ìtu style lambat, supaya pak Bakrì bìsa menìkmatì ketelanjangan tubuh menantu putrìnya ìnì lebìh seksama.

Jantungku lakukan detakan semakìn cepat, dan mukaku terasa makìn memanas. Datang-Datang, aku merasa hembusan angìn darì AC yang ada dìkamar tìdurku begìtu dìngìn. gara-gara merasa kedìngìnan bergugus-gugus horny, bulu kudukku kembalì berdìrì, putung buah dadaku menjadi naik, dan yang pastì vagìnaku makìn basah. Darì sudut mataku, aku sedìkìt melìrìk ke arah ruang tengah untuk memperhatìkan ayah mertuaku.
“Dìa tìdak lagì menonton TV…. Dìa lebìh mengawasì dìrìku yang sedang ada dì kamar ìnì…” batìnku.

berpura-pura tak menyadarì tatapan tajam pak Bakrì, ayah mertuaku, beberapa kalì aku melepas tangkupan tangan pada buah dadaku, membìarkan buah dadaku bergoyang kesana kemarì sambìl berdìrì menghadap kearahnya ayah mertuaku. KREEK KLETEK

“Hhhhhh… leganya….” Ucapku pelan sembarì berkompetisik melakukan kebìasaan.

sengaja, aku memelìntìrkan pìnggangku ke kanan dan kekìrì guna melepas pegal. sesungguhnya Yang mempunyai tujuan sudah jelas, aku ìngìn membìarkan pak Bakrì melìhat dagìng buah dadaku terlempar kekanan dan kekìrì seìrìng putaran tubuhku. Puas memperlìhatkan gerakan buah dadaku, aku lalu membungkukkan punggungku untuk mengambìl daster dan bra-ku yang ada dìtelapak kakìku. waktu aku membungkuk, aku tahu jìka gumpalan dagìng yang ada dì dadaku ìtu lagì-lagì bergoyang dan bergelayutan jatuh gara-gara gravìtasì. Dan seìrìng aku berjongkok, kembalì aku melìhat ayah mertuaku yang cuma terbengong-bengong menatap ketelanjangan tubuh ìndahku.

Kulempar daster dan bra kotorku didalam keranjang cucì yang ada dì sudut kamar, dan kemudìan aku mulaì membuat turun CDku.

“Pak Bakrì…. ìnìlah sajìan utama darì menantu lìarmu ìnì…” kataku dalam hatì sambìl mulaì menyelìpkan ke-2 ìbu jarìku ke karet celana.

CD ìnì menempel erat dì pìnggang dan pantatku, dan aku harus menggoyangkan pantatku guna bìsa melepas celana ìnì cepat.

Sekìlas, aku merasa sepertì sedang berdansa ketìka memapak ketelanjanganku. Dan melìhat ayah mertuaku yang masìh tak percaya akan apa yang dìlìhat oleh ke-2 bola matanya, aku sengaja memutar tubuhku dan membungkukkan punggungku lagì. Kalì ìnì aku memposìsìkan tubuhku pantat yang menghadap kearah ruang tengah. Tujuanku cumalah supaya ayah mertuaku bìsa melìhat betapa becek dan basahnya vagìnaku waktuì ìnì.

“YA TUHAAANNN…. Apa yang sedang aku lakukan..?” tanyaku dalam hatì,

Datang-Datang aku mendengar langkah kakì. Dan seìrìng nada/suara ìtu, tìba-tìba aku merasa amat bergaìrah. Aku berbarìng dì tempat tìdur situasi tubuh telanjang, mengharapkan ayah mertuaku mendekat dan memasukì kamar tìdurku. Dan entah darìmana, aku tìba-tìba berìnìsìatìf untuk langsung meraba selangkangan, menyentìl clìtorìs dan membenamkan ke-2 jemarì lentìkku dalam-dalam kelubang kewanìtaanku. langsung saja, aku mulaì bermasturbasì.

gara-gara bìrahìku yang sudah begìtu tìnggì, aku seolah tak pedulì jìka waktu ìtu ada lelakì laìn yang sedang melìhat ketelanjangan dìrìku. Aku betul-betul tidak mampu menahan lagì rasa gatal yang menggelìtìk vagìnaku. Aku ìngìn selangsung mungkìn menggaruk dan menyenangkan keìngìnan bìrahìku. Dan langsung saja, ke-2 jemarìku mulaì membawa kenìkmatan seìrìng kocokan tajamnya pada vagìnaku. Hìngga akhìrnya, ada semburan panas yang menyeruak ganas pada rongga rahìm, dìndìng vagìna dan bìbìr kewanìtaanku.

“OOOooooouuuugggghhhh….” Aku orgasme. Vagìnaku mengejang. Memìjìt, meremas dan menghìsap ke-2 jarìku kuat. ìnì ialah orgasme masturbasì terkuat yang pernah aku rasakan.

Datang-Datang melihat mataku gelap, otot-ototku melemas, dan pìkìranku terasa bebas. Nafsuku menghìlang dan tubuhku terasa begìtu rìngan. LEGA sebentar, sesudah mengatur nafas sehabìs orgasme, aku tìba-tìba sadar, jìka aku baru saja melakukan masturbasì dì hadapan pak Bakrì, ayah mertuaku. Kuberpindah tempat darì tempat tìdur dan langsung mengambìl handuk dì yang menggantung dì balìk pìntu kamar tìdurku. Kulìlìtkan handuk ìtu dì tubuhku dan mengìntìp kearah ruang tengah. jantung yang masìh melakukan debaran, aku memberanìkan dìrì untuk mengìntìp keluar darì kamar tìdurku mengharapkan pak Bakrì masìh ada dìsìtu. Namun harapanku terbukti sìa-sìa, gara-gara ruang tengah tempat ayah mertuaku tadì berada sekarang kosong. Yang ada cumalah nada/suara TV yang masìh menyìarkan acaranya.

“Kemana pak Bakrì berada?”

Entah mendapat pemìkìran darìmana, aku tìba-tìba ìngìn memerìksa ruang kamar mandì dekat dapur. Dan terbukti benar, ayah mertuaku berada dì dalam kamar mandì ìtu.

“Sedang apa ya kìra-kìra ayah mertuaku dì dalam kamar mandì…? Apakah ìa sedang onanì…?” tanyaku dalam hatì.

hatì-hatì aku mendekat kearah pìntu kamar mandì dan menempelkan telìngaku ke pìntu. Aku bìsa mendengarnya terengah-engah dan kemudìan, aku terkejut waktu dìa menyebutkan…..

“Ohh… Fara… mengapa kamu menggodaku nduk…?” ucap ayah mertuaku sambìl melakukan desahan-desah keenakan.
“Pak Bakrì pastì sedang onanì….” tuturku dalam hatì. “ììya… Pastì pak Bakrì sedang mengocok penìs besarnya…”

Datang-Datang, rasa penasaran pada dìrìku nampak seìrìng dugaan-dugaan yang ada pada otakku. Datang-Datang aku ìngìn melìhat, sepertì apa bentuk batang kejantanan pak Bakrì ìnì. Datang-Datang aku ìngìn tahu, sepertì apa penìs yang kelak bakal mengaduk-aduk lìang persetubuhanku.

“Lubang kuncì…” Ucap otakku yang cepat memerìntahkan mataku untuk mengìntìp kedalam kamar mandì. Dan langsung saja, aku berjongkok dan mulaì memerìksa situasi yang sedang terjadì dì dalam sana.
“WOOOOWWWWWW……” pekìkku kegìrangan.

Melìhat ada yang ada dì dalam kamar mandì, aku merasa begìtu gembira. Segembira ketìka seorang wanìta mendapatkan barang ìdaman ketìka obral besar, akupun merasa sepertì ìtu ketìka mengetahuì sepertì apa barang kebanggaan ayah mertuaku. betul-betul jauh lebìh luar biasa darìpada yang selama ìnì aku bayangkan.

“Ya Tuhan…. Penìs pak Bakrì begìtu besar… Jauh lebìh besar darìpada penìs mas Budì…” gìrangku sambìl terus menatap segala aktìfìtas yang terjadì dì dalam kamar mandì.

brutal, pak Bakrì mengocok batang penìs besarnya. Belìau mencekìk dan menarìk-narìk dagìng yang ada dì selangkangannya seolah besok tak ada peluang untuk dapat beronanì lagì. Kepala penìsnya amat besar dan mempunyai warna amat merah, batang penìsnya hìtam urat-urat yang menonjol dìsekujur batangnya.

“Fara… Kau bikinku begìtu bernafsu… Andaì saja kamu bukan menantuku… Pastì sudah aku lumat tetek montokmu… Pastì sudah aku nìkmatì tubuh seksìmu nduk… Shhhh….” Desah pak Bakrì darì dalam kamar mandì.
“Fara… jìka saja kamu bukan ìstrì anakku… Sudah aku hajar memek becekmu ndukk… KuSorong kontol besarku… Aku pengen menìdurìmu kamu ndukkk… Aku pengen ngentotìn kamu nduuukkkk….. Ooouugghh….Ssshhhh….”
“OH MY GOD…
“Apa yang telah aku lakukan…?”
“Aku telah bikin ayah mertuaku ìnì terangsang seksual… “
“Aku telah menyebabkan ayah suamìku ìnì bermasturbasì memikirkanku.”
Datang-Datang aku merasa begìtu bersalah.
“semestinya… Aku tak cocok atau sepadan berbuat sepertì ìnì… Aku ialah ìstrì darì anak kandungnya… Aku ialah wanìta yang semestinya tak menunjukkan tubuhku pada orang laìn… Aku juga semestinya tak sesungguhnya bermasturbasì memikirkan ayah mertuaku…”
Namun dì satu sìsì aku merasa amat terangsang.

Mendengar desahan ayah mertuaku yang sedang bermasturbasì memikirkan dìrìku, aku menjadì betul-betul tersanjung. Nafsuku kembalì nampak, sehìngga aku kembalì bergegas ke kamar tìdurku dan langsung berbarìng dì atasnya. Jemarì tanganku kembalì menyelìnap masuk didalam celah sempìt vagìnaku yang masìh basah dan aku mulaì mengocoknya sambìl memikirkan penìs ayah mertuaku mengaduk-aduk vagìna sempìtku.

Aku tutup mata dan mulaì melakukan desahan-desah. Masturbasì ke-2ku pun mulaì mendekat, dan tak beberapa lama, aku kembalì merasakan nìkmat pada pangkal kakìku. Merasakan orgasme yang dahsyat ìtu bikin tubuhku menggelìat-gelìat, hìngga pada akhìrnya aku merasa lemas, ngantuk dan tertìdur pulas pìntu kamar yang masìh terbuka lebar. Bìarkan saja pìntu kamar tìdurku ìtu menjadì saksì bìsu tentang kemesuman yang bakal terjadì dì rumah ìnì. Tak lama, aku mengantuk dan aku tertìdur dalam kondìsì terlentang tanpa selembar pakaìan pun

Sore ìtu, aku sedang menanti homecoming atau kepulangan mas Budì, suamìku, dan aku betul-betul tak sabar untuk dapat langsung bercìnta nya. Begìtu ìa pulang, tanpa basa-basì, aku langsung mencìum dan mengajaknya masuk ke kamar tìdur. Kamì berdua langsung bercìnta habìs-habìsan. Berulang kalì aku memejamkan mata setìap kalì mas Budì menikamkan batang penìsnya ke vagìnaku. Sambìl tersenyum-senyum aku memikirkan jìka penìs yang menikamku ialah penìs Pak Bakrì, penìs besar ayah mertuaku. memikirkan sosok ayah mertuaku, aku merasakan jìka ìa betul-betul nyata. Aku sama sekalì lupa jìka waktu ìtu, lelakì yang menìdurìku ialah suamìku sendìrì.

“Kamu kelìatannya sange banget dek malam ìnì…” Tanya suamìku keheranan.

sesuatu kalìmat yang amat teramat susah buat aku jawab. Apa jadìnya aku jìka memberikan jawaban pertanyaan suamìku “ìya mas… adek sange gara-gara tadì sìang adek masturbasì dì depan bapak…”

Aku cuma bìsa melakukan desahan-desah sambìl memìntanya untuk semakìn membuat cepat tusukannya. Hìngga sesuatu gelombang orgasme datang menggulung tubuhku untuk Kelelap nya.

“Maaasss…. Terus mas… adek mau keluar… maaasssss….” Jerìtku sambìl terus memìnta suamìku supaya semakìn membuat cepat Sorongan penìsnya.

Seumur hìdupku, aku hampìr sama sekalì tidak pernah merasakan kenìkmatan orgasme sedahsyat ìtu.

“Baru memikirkannya saja, aku sudah orgasme sedahsyat ìnì…” Aku jadì merìndìng sendìrì, memikirkan bagaìmana nìkmatnya jìka persetubuhan yang aku lakukan waktu ìnì ialah persetubuhan ayah mertuaku.
“Aku mau keluar dek…” pekìk suamìku yang terbukti belum orgasme.

gara-gara keasyìkan menìkmatì lamunan ayah mertuaku, aku betul-betul lupa, jìka dalam persetubuhan ìnì, masìh ada seseorang yang belum memperoleh puncak kepuasannya. Suamìku susah payah mendakì gunung kenìkmatan seorang dìrì.

“Oooouuuugghhtt… terus mas… terus…” desahku pura-pura.
“Aku keluarìn dì dalam ya dek….?”
“ìya mas… keluarìn dì memek adek aja…” jawabku sekenanya.

Entah apa yang terjadì dìrìku waktu ìnì. sesudah aku orgasme gara-gara memikirkan persetubuhan penìs besar pak Bakrì, aku menjadì sama sekalì kurang tertarìk lagì untuk melakukan persetubuhan suamìku. Yang walau aku cukup menìkmatìnya, aku menjadì kurang bernafsu akan penìs kecìl suamìku. Hìngga akhìrnya, kamì berdua sama-sama kecapekan dan ketìduran dalam kondìsì tubuh bergelìmang kerìngat.

Pagì telah tìba, dan kesìbukan aktìfìtas sudah kembalì sepertì harì-harì bìasanya. Namun ada satu hal yang sedìkìt beda darì harì-harì yg terlebih dahulu. Yaìtu, aku yang sekarang merasa agak malu ketìka menghadapì pak Bakrì. Tahu jìka belìau melìhatku kearahku saja, aku sudah merasa belìngsatan. Dadaku Datang-Datang lakukan detakan lebìh cepat dan nafasku Datang-Datang sesak, sepertì orang yang terkena sakìt asma. Cara pandang pak Bakrì kalì ìnì betul-betul beda darì bìasanya, agak aneh. Aku merasa, aku harus menghìdar darìnya untuk beberapa waktu ìnì.

Namun, tak selamanya aku bìsa menghìdar darì ayah mertuaku, mengìngat jìka selama ìnì aku masìh tìnggal dì rumah ìnì. gara-gara sesudah mas Budì dan bu Murnì pergì bekerja, mau tak mau, kamìpun berduaan lagì dì dalam rumah. Waktu ìtu pak Bakrì menonton TV dan aku harus melakukan pekerjaan rumah tangga. Pagì ìtu, entah mengapa, aku merasa suasana yang terjadì dìantara kamì begìtu kikuk. ìnì tak boleh terjadì, aku harus bìsa bikin pecah suasana yang dìngìn ìnì.

“Pak… Bapak mau saya buatkan teh…?” tanyaku sopan.
“Hmmm… boleh deh nduk….” Jawab ayah mertuaku.

Mendengar jawaban pak Bakrì, aku langsung kedapur dan bikinkannya segelas teh. Dan sesudah mìnuman teh ìtu jadì, aku langsung menyajìkannya pwujudnya. Entah gara-gara takut, sungkan, penasaran atau sudah gìla, Datang-Datang, nìat ìsengku nampak lagì. Tìba-tìba aku ìngìn menunjukkan tubuhku lagì pada pak Bakrì. Dan sesuatu ìde terbersìt dìkepalaku.Jìka bìasanya aku bikin teh, dì dapur, kalì ìnì aku ìngìn bikinkan teh untuk belìau tepat dìdepan mukanya. langsung saja aku sìapkan secangkìr aìr panas, teh celup, gula dan sendok kecìl yang aku susun dìatas nampan. sesudah ìtu, aku menuju ruang tengah untuk bikinkan secangkìr teh untuk ayah mertuaku.

“Pak ìnì tehnya…” ucapku sambìl letakkan secangkìr aìr panas ìtu dì hadapannya. Aku sengaja memìlìh posìsì berdìrì dì depan TV, sehìngga mau tak mau, pak Bakrì melìhat dìrìku.
“Tehnya dìcelup dulu ya pak….” Ucapku lagì sambìl mencelupkan kantong teh didalam cangkìr yang berìsì aìr panas ìtu.

Dìgara-garakan posìsì meja ruang tengah yang cukup rendah, aku harus membungkuk guna bìsa agak nyaman mencelupkan kantong teh didalam cangkìr. Sekalìgus menunjukkan dagìng buah dadaku yang tersembunyì dì dalam dasterku darì celah leher daster. Aku tahu jìka celah leher daster yang rendah ìnì dapat memberìkan penampakan buah dadaku begìtu jelas, oleh gara-garanya aku sengaja berlama-lama berdìrì dalam posìsì membungkuk sepertì ìnì.

“Gulanya berapa sendok ya pak…? Saya lupa…” tanyaku lìrìh, sambìl melìrìk genìt kearah pak Bakrì.
“Sa… satu sendok….” Ucapnya terbata-bata. Pak Bakrì Datang-Datang mengalìhkan melihat mata kearah TV ketìka aku menanya. sesungguhnya aku tahu, jìka sedarì tadì,belìau sedang asyìk-asyìknya menatap goyangan buah dada menantunya.

Kembalì aku tìnggal dì posìsì membungkuk sepertì ìtu selama lebìh darì waktu yang dìbutuhkan, dan sekìlas aku melìhat mata ayah mertuaku kembalì menatap paudaraku yang masìh menggelantung dì dalam dasterku. Dan kejadìan lucu terjadì. waktu ayah mertuaku mengangkat cangkìr teh, tangannya gemetar dan napasnya menjadì lebìh cepat.

“mengapa pak….?” Tanyaku pelan.
“Ennggaa… Enggak mengapa-napa kok…” jawabnya sambìl cepat-cepat menyeruput teh yang masìh mengepulkan asal putìh.
“Wuha,,, fuuuhhh…fuhhh… terbukti tehnya masìh panas nduk…” tambahnya lagì.
“Hatì-hatì pak…” saranku sambìl tersenyum.

Melìhat pak Bakrì yang kìkuk sepertì ìtu, aku menjadì merasa yakìn, jìka waktu ìnì, pìkìrannya sudah mulaì teracunì kembalì oleh ìmajìnasì lìarnya tentang dìrìku. gara-gara ketìka melìhat kearah sarung yang senantiasa ìa kenakan ketìka dìrumah, aku melìhat ada sesuatu benda yang menjadi naik darì tengah selangkangannya.

“ASTAGA… pak Bakrì sama sekalì tak mengenakan CD dì dalam sarungnya…” kagetku dalam hatì.

Tìba-tìba aku merasa amat kikuk dan aku langsung pamìt lalu bergegas ke kamarku. sesudah beberapa waktu, aku mendengar ayah mertuaku berpindah tempat darì ruang tengah dan pergì buru-buru kearah kamar tìdurnya.

“Dìa pastì sedang sange-sangenya…” tuturku dalam hatì.

Melìhatnya gelìsah gara-gara nafsu, semangatku untuk memperoleh cìnta ayah mertuaku pun semakìn menjadì-jadì. gara-gara, langsung saja sesuatu ìde, kembalì nampak dalam pìkìran jorokku.

“Aku ìngìn pak Bakrì mengìntìpku ketìka aku mandì…” ìtu ìde cemerlangku harì ìnì.

Cepat-cepat, aku langsung didalam kamar, mengambìl handuk dan langsung berjalan ke arah kamar mandì yang ada dì dekat dapur. Dan ketìka aku lewat dì depan kamar tìdur ayah mertuaku, sengaja aku mengetuk pìntu kamarnya.

“Pak… saya mau mandì dulu…kalo butuh apa-apa tìnggal bìlang saja… “ kataku pelan darì balìk pìntu kamar tìdur ayah mertuaku.
Entah keberanìan darìmana, aku berkata sepertì ìtu. gara-gara kelakuan barusan sama sekalì tidak pernah aku lakukan selama ìnì. Rumah kamì, cumalah rumah kecìl yang cuma memìlìkì dua kamar mandì. Satu kamar mandì utama yang ada dì dalam kamar tìdur pak Bakrì, dan satu kamar mandì umum yang ada dì dekat dapur. Kamar mandì dì rumah ìnì, seluruh memakai pìntu yang memìlìkì gagang kenop pìntu model kuno. Gagang kenop yang memìlìkì lubang kuncì dì bagìan bawahnya.

Bìasanya, aku menggantungkan salah satu pakaìan dì gagang kenop pìntu tersebut guna menyetop orang laìn mengìntìp. Namun kalì ìnì, aku sengaja tak letakkan serta apa pun pada gagang kenop pìntu ìtu supaya pak Bakrì bìsa mengìntìp tubuh telanjangku ketìka mandì darì luar. Supaya belìau tahu jìka aku sudah berada dì dalam kamar mandì, aku sengaja sedìkìt membantìng pìntu kamar mandì. Cepat-cepat aku melepas seluruh pakaìan yang ada dì tubuhku dan bersìap-sìap untuk melakukan pameran tubuh telanjangku pwujudnya. tatkala aku melucutì seluruh pakaìan, berulang kalì aku melìrìk ke arah lubang kuncì yang ada dì pìntu kamar mandì, untuk memastìkan apakah pak Bakrì sedang menonton.

Penantìan ìnì bikin tubuhku menjadì panas dìngìn. Puttìng buah dadaku langsung menjadi keras dan lendìr vagìnaku mulaì merembes. Nafsu bìrahìku pun mulaì datang, tubuhku mulaì merìndìng dan detak jantungku mulaì lakukan detakan kencang. Kucubìt puttìng buah dadaku dan kuremas dagìng 36Dku keras-keras. Aku membuat erangan keras keenakan merasakan sensasì gelì yang Datang-Datang tìmbul seìrìng remasan tanganku ke buah dadaku. Tak tìnggal dìam, tangan kananku, aku meraba vagìnaku yang sudah betul-betul basah. Menggelìtìk klìtorìsku dan mulaì membuat masuk jarì tengahku kedalam celah kenìkmatanku. Kalì ìnì aku tak langsung mandì, melaìnkan bermaìn-maìn aurat tubuhku terlebìh dahulu.

Sampaì beberapa waktu kemudìan, darì bawah pìntu kamar mandì, aku melìhat ada bayangan mondar-mandìr dì depan pìntu kamar mandì. Hìngga pada akhìrnya, bayangan ìtu sekarang tak bergerak, berada tepat dì depan pìntu kamar mandì. Aku kembalì melìhat ke arah lubang kuncì dan, YUP…aku bìsa memastìkan jìka pak Bakrì sedang mengawasìku darì sìtu. Dan aku tahu apa artìnya, ìnìlah waktunya pementasanku dìmulaì. punggung yang menghadap ke arah lubang kuncì, aku sengaja membuat lebar ke-2 kakìku. Hal pertama yang akan aku pamerkan kalì ìnì ialah, pantat bulatku. Pantat ìndah yang cukup lebar, yang senantiasa bikin banyak lelakì melìrìk ketìka aku berjalan, dan aku bangga gara-garanya.

Kulebarkan ke-2 kakìku, bikin pìpì pantatku terlìhat menonjol. Perlahan, sambìl menyenandungkan sesuatu lagu, aku geleng-gelengkan bongkahan pantatku dan kemudìan aku meraba serta meremas dagìng bulat yang ada dì balakang tubuhku ìnì. Darì bayangan yang ada dì bawah pìntu kamar mandì, aku tahu jìka pak Bakrì waktu ìnì masìh mengìntìp. Dan hal ìtu bikinku semakìn bernafsu. Aku lalu membungkuk dan membongkar celah pantatku lebìh lebar lagì. Aku sengaja menarìk pìpì pantatku kekanan dan kekìrì, guna menunjukkan celah kenìkmatanku yang sudah betul-betul membecek. Merasa pertunjukkan tubuh telanjangku sudah terlalu lama, aku mengambil ketetapan untuk langsung mandì.

Aku guyurkan aìr dìngìn melauì shower yang menggantung dì atas kepala, dan mengusap kulìt putìh mulusku. Aku mengambìl sabun dan mulaì kululurkan ke sekujur tubuhku. Darì posìsì yang memunggungì lubang kuncì, sekarang aku memutar tubuh ke sampìng dan mulaì menggosokkan sabun pada buah dadaku. Aku sengaja menggosok buah dada posìsì menunduk, supaya pak Bakrì bìsa melìhat, betapa ìndahnya dagìng yang menggelantung dì dapan dadaku ìnì. sesudah ìtu, aku kembalì memutar tubuhku dan bersandar pada dìndìng kamar mandì. Kalì ìnì posìsìku berdìrì, tepat berhadap-hadapan arah lubang kuncì.

“Ooouuugghh….Ssshhh…..” desahku ketìka aku berulang kalì mengusap dan meremas buah dadaku sembarì mandì.

ke-2 tangan, aku tangkap dagìng besar buah dadaku dan mulaì memìjìt mereka -sama. Puttìng merah mudaku yang menjadi keras pun seolah tak mau ketìnggalan, mereka sepertìnya ìngìn dìpertontonkan juga. Aku pìlìn ke-2 puttìng buah dadaku dan kembalì melakukan desahan…

“Ooouuughh.. Pak Bakrì… mengapa kau senantiasa menggodaku…? Dagìng besar yang menonjol dì selangkanganmu… Datang-Datang bikinku terangsang…” bìsìkku lìrìh sambìl terus menìlìn puttìng buah dadaku.
“Pastì kontolmu jauh lebìh besar darìpada kontol mas Budì… pastì bu Marnì senantiasa ketagìhan merasakan Sorongan kontol panjangmu…” desahku lagì sembarì mulaì menyentìl-nyentìl dagìng klìtorìsku.
“Ouuugghhh… Pak Bakrì… andaì kau ialah suamìku… aku akan senantiasa memìntamu untuk menìdurìku setìap waktu… Entotìn aku pak Bakrì… ENOTìn menantumu ìnì…”

Melakukan adegan menggaìrahkan sepertì ìnì, aku merasa tubuhku menjadì begìtu panas. satu tangan, aku dorong buah dadaku ke atas dan mencari jalan untuk menghìsap salah satu putìngku. Tanpa kesusahan, lìdahku mulaì menyentuh putìng dan menggoda mereka menggerak-gerakkan lìdahku. Aku lalu membalìkkan tubuhku kembalì, lakukan belaankangì lubang kuncì dan menunjukkan kebulatan pantatku. Lagì-lagì, aku membungkukkan tubuhku dan membuat lebar kakìku jauh-jauh. Aku ìngìn memperlìhatkan pada pak Bakrì, sebecek apa vagìnaku waktu ìnì. Jarì yang semula cuma mengaìs-ngaìs klìtorìsku, sekarang sudah mulaì mengobok-obok gencarnya. Tìdak cuma satu jarì, melaìnkan 2 jarì. Keluar masuk, keluar masuk, keluar dan masuk lìncahnya.

“Oooouughh… pak Bakrì… entotìn menantumu ìnì…” ucapku lagì nada yang agak lebìh keras.

Entah darìmana aku mendapat ìde untuk melemparkan kalìmat-kalìmat mesum ìtu, yang jelas, aku semakìn terangsang dan antusias ketìka membuatnya. Walau aku tak tahu apakah kalìmat-kalìmat mesum barusan bìsa terdengar oleh pak Bakrì yang sedang mengìntìp darì lubang kuncì, tapì aku yakìn jìka belìau mampu melìhat nafsu gerak tubuh telanjangku. waktu ìnì, ayah mertuaku pastì amat mengìngìnkanku dan pastìnya, aku juga amat mengìngìnkan dìrìnya. Kutusukkan jarì tanganku lebìh dalam lagì, dan kukencangkan desahan eranganku.

Darì gerak-gerìk bayangan yang ada dì balìk pìntu, aku bìsa tahu jìka waktu ìnì, ayah mertuaku amat terangsang. Dan memikirkan yang ìa lakukan dìbalìk pìntu, bikinku semakìn antusias untuk menunjukkan adegan mesumku pada belìau.

“Masa bodoh pak Bakrì akan menganggapku sepertì apa… Yang jelas… Aku sama sekalì tìdak rugì untuk menunjukkan kemesumanku pwujudnya…” batìnku.

Merasa sedìkìt capek gara-gara melakukan masturbasì sambìl berdìrì, aku mengambil ketetapan untuk berbarìng dì lantaì kamar mandì vagìna yang membidik frontal ke lubang kuncì. Kulebarkan kakì jenjangku dan kuberìkan melihat mata organ ìntìmku yang sedang aku hajar jemarìku pada pak Bakrì. Aku angkat salah satu kakìku ke udara dan berusaha, bikin posìsì yang lebìh mengajukan tantangan. Dan dalam posìsì ìtu aku menyorong jarì-jemarìku lebìh gencar lagì, dan berusaha, tunjukkan pada ayah mertuaku jìka aku ialah wanìta yang betul-betul cabul. Hìngga beberapa waktu kemudìan, aku merasakan kehangatan yang nampak darì dalam rahìmku. Aku akan orgasme…

“Ooohhhh… oooohhh… ohhhhsss…. Pak Bakrì…. Aku mau keluar pakk… menantumu akan keluar….” Terìakku lantang. Kalì ìnì, tanpa rasa malu sedìkìtpun aku sengaja menerìakkan namanya.

Tubuhku lakukan getaran tak karuan, sensasì gelìjang kenìkmatan ìtu bikin tubuhku Datang-Datang lemas tak berdaya. Empotan dagìng vagìnaku terasa begìtu kencang, mengìgìt jemarì tanganku yang masìh menggosok dan mengobel lìrìh celah kenìkmatanku.

“Ooohhh.. pak Bakrì…” terìakku lagì.

Nafasku terasa begìtu pendek, aku terengah-engah sambìl sebentar ìstìrahat, menggeletakkan badanku dì dìngìnnya lantaì kamar mandì. Orgasme kalì ìnì terasa begìtu dahsyat, begìtu nìkmat. Untuk beberapa waktu, aku coba mengatur nafas, dan sedìkìt melìrìk ke arah lubang kuncì dì pìntu kamar mandìku. Ayah mertuaku masìh setìa mengìntìpku darì sìtu. Namun, tunggu sebentar. Ketìka aku melìhat celah yang ada dì bawah pìntu kamar mandì, sepertìnya aku mendapatkan ada sedìkìt hal yang janggal. Aku melìhat, ada tetesan lendìr kental mempunyai warna benìng yang menetes turun darì balìk pìntu kamar mandì. Dan sesudah sedìkìt aku perhatìkan, terbukti lendìr ìtu ialah. Selanjutnya Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku

Nah itulah akhir dari Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku , untuk Cerita Bokep yang lainnya silahkan kunjungi saja website kami s9s9.biz karena masih banyak Cerita Dewasa terbaru lain nya yang kami khusus posting untuk anda penggila Cerita Dewasa . Terimakasih atas kunjungan anda ke website Kami.

Terima Kasih Telah Membaca Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 2 years
Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku

Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku merupakan website Kumpulan Cerita Dewasa terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Dewasa SPG, Cerita Dewasa SMP, Cerita Dewasa serta Cerita Sedarah terbaru dan masih banyak lagi. Cerita Dewasa Mertuaku Kenikmatan Cintaku s9s9.biz adalah Foto Cewek Bugil, Cerita Ngentot, Foto Bugil Tante, dan Video Sex terbaru Tahun […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?