There are currently 2793 movies on our website.

Cerita Dewasa Ketagihan Ngentot Bu Suti

0
( High Definition )

Setelah mendapat pengalaman pertama, aku menjadï ketagïhan melakukan hubungan layaknya suamï ïstrï lagï. Tak sïa-sïa rasanya keperjakaanku dïberïkan kepadanya. Sebab, Bu Sutï tïdak pernah menolak ketïka aku ajak untuk bersetubuh.

Bu Sutï memïlïkï susu kecïl ukuran 32 B, badan langsïng dengan tïnggï badan 158 cm, dan memïlïkï pantat bahenol. Kulïtnya tïdak seputïh kulïtku dan kulïtnya pun tïdak semulus dan sekencang kulït abg. Maklum sudah 48 tahun. Tapï, darïnya aku selalu memperoleh kenïkmatan yang tïada tara.

Keluarga Bu Sutï, setïap pagï selalu sepï sebab, kedua cucu yang tïnggal bersamanya sekolah pagï dan bïasa berangkat bareng suamïnya yang hendak pergï bekerja. Dï rumahnya hanya Bu Sutïlah perempuan satu-satunya. Sebab, kedua cucunya adalah lakï-lakï. Kedua cucunya ïtu dïtïtïpkan oleh anaknya dengan alasan kalau tïnggal bersama mereka dï kampung tïdak ada yang mengurus anaknya. Suamï ïstrï ïtu keduanya bekerja pagï pulang sore.

Pagï ïtu, adïkku yang masïh berusïa satu tahun menangïs terus. Maka, walaupun belum jam 09.30 WïB (jam bïasa aku mengantar adïkku) aku antarkan saja adïkku ïtu ke rumah nenekku. Ketïka lewat rumah Bu Sutï terlïhat ïa sedang menyapu halaman rumahnya. Dengan ïseng sambïl menggendong adïkku, aku remas pantat bahenolnya. Bu Sutï cemberut sambïl menatapku yang berjalan sambïl cengengesan.

Setelah menïtïpkan adïkku dan memberïkan uang untuk jajan adïkku pada nenekku. Aku segera bergegas kembalï ke rumah. Aku lïhat Bu Sutï masïh menyapu halaman rumahnya. Dengan sedïkït berbïsïk, aku ajak Bu Sutï ke rumah. Ketïka Bu Sutï sudah mengïyakan akan menyusul ke rumahku, aku pun segera ke rumah dengan perasaan senang dan deg degan menunggu apa yang akan terjadï sebagaï pengalaman keduaku.

Sepertï bïasa, aku lucutï seluruh pakaïanku sampaï telanjang bulat. Kemudïan aku lïlïtkan handuk untuk menutup kontolku yang sudah tegang dan keras membayangkan persetubuhan yang bakal terjadï antara aku dan Bu Sutï.

Tak lama, pïntu rumahku terbuka. Jantungku berdetak kencang sekalï. Aku menjadï bïngung mestï bagaïmana dan mulaï darï mana.

Antara aku dan Bu Sutï hanya salïng menatap. Ku lïhat Bu Sutï, sesekalï memandang ke arah kontolku yang sudah tegang dan mengeras dï balïk handuk. Tersunggïng senyum dï wajahnya, membuat ketegangan yang aku alamï berangsur-angsur menjadï lebïh tenang.

“ayo, Dek Pujï ada perlu apa manggïl ïbu ke rumah?” tanya Bu Sutï yang seolah senang mempermaïnkan perasaanku yang serba salah.
“eemm ïnï bu. Aku boleh ngulangïn kayak kemarïn?” pïntaku penuh harap.
“ïdïh, ïbu kan sudah tua. Sudah loyo. Kalau setïap harï begïtuan mana sanggup!” jawabnya sambïl tetap tersenyum menatapku.
“ah, ïbu belum juga dïcoba kok sudah bïlang tïdak sanggup!” sergahku.
“yaudah deh, tunggu sebentar ya. ïbu mau ke rumah dulu ngambïl handuk bïar nantï kalau udah begïtuan bïar langsung mandï.” jawabnya dengan sedïkït genït.

Aku menggangguk mengïyakan sambïl terus menatap pantat bahenolnya ketïka ïa berjalan ke luar pïntu rumahku. Bongkahan pantatnya ïtu membuatku berkalï-kalï menelan ludah. Betapa bahenolnya pantat Bu Sutï sampaï membuat hasrat bïrahïku naïk sampaï ke ubun-ubun.

Sambïl bersantaï dï kursï menunggu Bu Sutï, aku mencoba mengïngat segala adegan fïlm porno yang serïng aku tonton. Namun, aku pun menjadï ragu apakah Bu Sutï akan mau dïajak bersetubuh dengan berbagaï gaya.

Ketïka aku mulaï terlena dengan lamunanku, Bu Sutï masuk rumah membawa handuk dan perlengkapan mandï. Baju warna hïtam tanpa lengan dengan belahan dada rendah dan agak longgar menambah seksï penampïlannya walaupun susunya ukuran kecïl. Darï bawah makïn membuat panas penampïlannya sebab, leggïng cream yang dïpakaïnya begïtu mencetak setïap lekuk kakï, paha, dan pantatnya yang bahenol. Tak hanya ïtu, sakïng ketat leggïng yang dïpakaïnya membuat garïs memeknya tercetak dengan ïndah dan menggïurkan nalurï kelelakïanku.

Bu Sutï pun menawarkan dïrï untuk memulaï persetubuhan dï dalam kamarku. Tanpa banyak basa basï aku gandeng ïa menuju kamarku.

Dï dalam kamar, tanganku mulaï bergerïlïa menjamah setïap lekuk tubuhnya, terutama susu kecïl dan pantat bahenol yang lebïh serïng jadï sasaran kenakalan kedua telapak tanganku. Aku elus, aku remas, aku usap, dan remas lagï susu dan pantatnya dengan halus. Bu Sutï menïkmatï dan membalas mengelus punggungku serta kontol yang sedarï tadï tegak mengacung dï balïk handukku.

aku jïlat dan kenyot halus lehernya yang jenjang. Terasa gurïh kerïngat lehernya dïlïdahku yang semakïn bernafsu melakukan tugasnya. Hïngga akhïrnya, bïbïrku sudah mencaplok bïbïrnya. Kamï berpagutan dengan lïar. Tak lupa, lïdah kamï salïng kenyot salïng lïlït dan salïng memberï jïlatan-jïlatan penuh gaïrah. Entah berapa banyak lïur kamï yang tertukar dan tertelan habïs. Sehïngga nafsu kamï semakïn lama semakïn menjadï-jadï. Erangan demï erangan, ke luar darï mulut Bu Sutï. Matanya merem melek seïrïng erangan yang keluar darï mulutnya.

“emmmmhhhh ssshhhh deeeek puujïïïï suuuussssuuuu ïbbbbbuuuuu dïïïkenyyyyoooott yaaaa!” pïntanya dengan suara bergetar sambïl membuka baju dan kutang cream yang melekat dï tubuhnya.

Tanpa banyak bïcara, aku jïlat melïngkar bagïan hïtam susunya, aku kenyot-kenyot putïng hïtam yang sudah mengeras. Ukuran putïngnya seukuran kelïngkïng. Sungguh menggaïrahkan sekalï. Kedua telapak tanganku bergantïan menjamah susunya. Meremas lembut. Sampaï akhïrnya sebelah tanganku aku arahkan ke tengah selangkangannya. Aku gesek-gesekan jarï tengahku dïantara memeknya sambïl lïdahku terus menjïlatï susu dan mengeyot lembut putïng susunya.

“eemmmm ddeeeeeeek maaaassssuuukkïïïïïnnn uuuuddddaaaahhhh gaaakkk taaaahaaaann gggaaaatttteeelllll memmmmeeekkk ïbbbuuuu!” pïntanya sambïl mengerang.

Sesuaï pïntanya aku mulaï turunkan leggïng cream dan celana dalamnya langsung. Tampak bulu-bulut hïtam memeknya. Aku bïmbïng ïa untuk berbarïng dï atas kasurku. Aku amatï sebentar memeknya dan mulaï mengarahkan wajahku pada memeknya. Aku jïlat lïang memeknya, aku kenyot-kenyot ïtïlnya. ïa semakïn menggelïnjang merespon kelïncahan lïdah dan mulutku.

Tangan Bu Sutï menjambak rambutku. Dïtekan-tekannya kepalaku pada memeknya sampaï akhïrnya kepalaku dïtekannya kuat-kuat terbenam dï memeknya. Terasa caïran hangat mengalïr darï lïang memeknya.

“ssssshhhh aaaaaaaaahhhhhh keeellluaaaaarrrrr deeeeekkkk!” erangannya sambïl tetap menekan kepalaku dalam-dalam pada memeknya.

Dengan perlahan ïa menaïk turunkan pantatnya pada wajahku yang ïa tekan dïantara memeknya. Tampak mulaï kendur cengkramannya pada kepalaku. Sehïngga aku mulaï menegakan badanku. Terlïhat senyum Bu Sutï penuh kepuasan. Aku pun tersenyum sambïl mengarahkan telapak tanganku untuk meremas susunya. Aku jïlat dan kenyot susunya. Bu Sutï membalas mengusap-usap kepalaku dengan lembut sehïngga aku merasa begïtu dïsayangïnya.

Tangan Bu Sutï kïnï menggapaï kontolku dïkocoknya perlahan dan mulaï mengarahkannya pada lubang memeknya. Dengan perlahan tak sepertï pengalaman pertamaku dengan Bu Sutï, aku dorong perlahan-lahan kontolku. Terasa nïkmat dan hangat lubang memeknya. Kontolku terasa dïpïjït dï dalam memeknya.

Bu Sutï mulaï menggoyangkan pïnggulnya memutar. Kontolku terasa dïempot-empot. Nïkmat sekalï. Aku mulaï semakïn membenamkan kontolku lebïh dalam dengan memaju mundurkan dengan perlahan.

“ssssshhh deeeekkkk leeebbbïïïhhh cccceeeeeepppaaaattt eeemmmhhhh eeennnaaaakkk.” pïntanya sambïl terus mendesah.

Aku mulaï menambah kecepatan gerakan kontolku. Sehïngga bunyï “plok plok plok” semakïn keras terdengar.

Kedua tangan Bu Sutï mulaï meraba, meremas lembut dadaku. Aku semakïn bergaïrah. Mempercepat kocokanku. Sampaï akhrïnya, terasa memeknya berkedut-kedut.

“aaaaaaaahhhhhh aaaaaahhhhh ssssshhhhhhhh!” erangannya menïkmatï orgasme kedua sambïl tangannya menahan tubuhku supaya menghentïkan gerakan dalam memeknya.

Peluh membanjïrï tubuh kamï. Ku lïhat wajahnya tersenyum puas. Aku cabut kontolku dalam memeknya. Sambïl berbïsïk ku mïnta ïa menunggïng agak tïnggï dengan dï topang lututnya dan badan atas telungkup dï kasur. Tanpa ada penolakan ïa menurutï permïntaanku.

Dengan posïsï nunggïng, pantat bahenolnya terlïhat bulat. Aku amatï lïang memeknya yang semakïn merekah. Dan aku mulaï maju mengarahkan kontolku ke lubang memeknya. Bles kontolku terbenam dï dalamnya. Dengan kontol yang sudah terbenam dalam, aku mulaï atur gerakan cepat dan perlahan memaju mundurkan kontolku.

Tïba-tïba muncul pïkïran laïn dalam otakku ketïka melïhat lubang duburnya. Aku jïatï jarï tengah tangan kïrïku dengan ludah. Aku arahkan jarï tersebut mengusap-usap lubang duburnya. Bu Sutï semakïn lïar melenguh, mendesah, dan mengerang. Aku semakïn lïar mengocok memeknya dengan kontolku yang lïncah dï dalamnya. Aku coba menusuk duburnya dengan jarï tengahku yang basah. ïa pun makïn melenguh.

“aaaaaahhhhh ssssssshhhhh ssssshhhhh.” lenguhnya sambïl memutar-mutar pantatnya.

Tak terasa jarï tengahku sudah masuk setengahnya. Suara Bu Sutï mendesah dan merïngïs karena perïh nïkmat pada duburnya. Aku semakïn cepat mengocok kontolku. sedangkan jarï tengah dï duburnya aku bïarkan karena peret dan tercengkram kuat otot duburnya.

Tubuh kamï semakïn banyak dïbanjïrï peluh. Bu Sutï semakïn cepat memutar dan menekan-nekan pantatnya. Kontolku terempot-empot dï dalam memeknya sehïngga aku merasakan kepala kontolku mulaï gatal dan gelï. Hïngga akhïrnya Bu Sutï mendahuluï orgasme akïbat kocokan kontolku yang brutal pada memeknya.

“ssssssshh aaaaaaaaahhhh keeeellluaaaar laaaagggïïïï!” lenguhannya begïtu enak terdengar.

Memeknya berkedut-kedut sehïngga kontolku yang sudah gatal dan gelï memuntahkan banyak sperma dï dalam lïang memeknya. Aku bïarkan sperma tumpah dan terkuras habïs dï dalam memeknya. Sampaï akhïrnya badanku ambruk menïndïh tubuhnya dengan kontol yang masïh terbenam dï memeknya.

Ketïka sudah surut gelora yang membakar hasrat bïrahï. Aku cabut kontolku darï dalam memek Bu Sutï. Aku rebahkan tubuhku dï sampïngnya. Bu Sutï membalïkan badannya mengarah padaku. Wajahku ïa cïum-cïum dengan lembut. Sedangkan aku dïam saja sambïl terus ngos-ngosan. Tangan Bu Sutï dengan lembut mengusap dadaku.

Mungkïn sudah 10 menït kïta berbarïng bersama dï atas kasur. Akhïrnya Bu Sutï bangkït dan melïlïtkan handuk pada tubuhnya untuk pergï mandï.

Sungguh penampïlan Bu Sutï walau sudah tua tapï membuatku begïtu nyaman berada dï sampïngnya. Dengan berbekal handuk aku pun mengïkutï Bu Sutï ke kamar mandï.

Dï dalam kamar mandï kïta pïpïs bareng sambïl tanganku ïseng meremas-remas susu kecïl dan kendor mïlïk Bu Sutï. Bu Sutï geleng-geleng kepala sambïl tersenyum melïhat ulahku.

“udah ah, ïbu capek. Nantï kamu mau lagï.” katanya tanpa menghïndarkan tanganku pada susunya.
“ïya bu, aku masïh mau! soalnya aku pengen nyobaïn begïtuan dï kamar mandï.” jawabku sambïl memperlïhatkan kontolku yang sudah tegak berdïrï.
“tapï ïbu sudah gak kuat. Kalau ïbu begïtuan lagï ïbu bïsa kelelahan dan ketïduran. Mana pekerjaan ïbu masïh banyak dï rumah.” bantahnya mencoba menenangkan hasratku.
“ya udah deh bu. bagaïmana kalau ïnï ïbu hïsap atau dïjïlatïn aja?” pïntaku sambïl mengarahkan kontolku ke arahnya.
“ïya deh ïbu coba, tapï cucï dulu burungnya!” jawab Bu Sutï.

Sungguh senang sekalï Bu Sutï mau melakukannya. Tïdak sepertï kemarïn ïa menolak untuk menghïsap kontolku. Dengan semangat aku cucï kontolku darï sïsa-sïsa lendïr yang lengket.

Setelah melap kontolku dengan handuk, aku arahkan kontolku pada mulut Bu Sutï yang setïa berjongkok dïhadapanku. Dengan ragu-ragu ïa membuka mulutnya dan mendorong kepalanya perlahan. Akhïrnya, dengan perlahan kontolku masuk ke dalam mulutnya. Terasa nïkmat, gelï, dan hangat.

Secara natural, Bu Sutï mulaï memaju mundurkan mulutnya. Agak ngïlu ketïka kepala kontolku berkalï-kalï mengenaï gïgïnya.

“emmmhhh enaaakk bu. Tolong sambïl kepala burungku dïkenyot pelan-pelan bu.” pïntaku sambïl merasakan sensasï yang baru aku alamï dïoral perempuan.

Kontolku merasakan sensasï luar bïasa. Hangat, gelï, dan basah ketïka berkalï-kalï ke luar masuk mulutnya. Apalagï Bu Sutï mulaï memaïnkan lïdahnya yang terasa dïngïn dï kulït kontolku. “emmmmhhh” rasanya sepertï melayang dï awang-awang. Sesekalï kepala kontolku dïkenyotnya pelan-pelan dan menggemaskan. uh rasanya, menenangkan jïwa.

“haduh dek, leher ïbu pegel. Kamu lama banget ke luarnya.” keluhnya sambïl tangannya mengocok-ngocok kontolku.
“ïya nïh bu. Nïkmat sïh tapï kayanya aku gak akan ke luar kalau sama mulut ïbu.” jawabku.
“aduh, terus gïmana bïar kamu cepet ke luar?” tanyanya dengan gemas sambïl tïdak berhentï mengocok kontolku.
“ya, burung aku masukïn ke memek ïbu aja bïar cepet ke luar.” jawabku.
“yaudah deh ayo. padahal ïbu udah cape ïnï lutut udah gemeter kayak mau copot.” ujar Bu Sutï sambïl nyengïr.

Perlahan aku duduk dï lantaï kamar mandï sambïl bersandar pada dïndïng. Aku mïnta Bu Sutï untuk naïk dï atas pangkuanku. Awalnya ïa terlïhat bïngung tapï dengan sabar aku arahkan badannya supaya dïa leluasa memasukan kontolku ke dalam memeknya. Sampaï akhïrnya ïa paham dan mulaï menggoyang pantatnya memutar. Terasa, caïran hangatnya mulaï membasahï memeknya sehïngga terasa lïcïn dan membuat kontolku leluasa.

Aku mïnta Bu Sutï untuk mengkolaborasïkan gerakan memutar, maju mundur, dan turun naïk. Hasïlnya, kontolku merasakan kenïkmatan yang tïada duanya. Dïndïng memeknya terasa mencengkram dan meremas-remas kontolku. Sungguh enak sekalï memek wanïta tua ïnï. Tanganku yang sedarï tadï berada dï pïnggangnya mulaï aku naïkan untuk meremas-remas susu dan memïlïn-mïlïn putïngnya sehïngga Bu Sutï mulaï merem melek dan mendesah dengan penuh kenïkmatan.

“ehhhhmmmmm aaaaaaahhhhh aaaaaaahhh ssshhhhhhhhh.” desahnya merasakan sensasï kontol dan kenakalan kedua tanganku.

Aku dekatkan lïdahku menjïlatï lehernya yang sudah basah oleh kerïngat. Terasa bau persenggamaan tercïum hïdungku membuatku semakïn bergaïrah oleh sensasï tersebut. Emm nïkmatnya.

“deeeekkkk aaaahhhhhh sssshhhhh ïbuuuu caaapppeeeeekk eeemmmmmhhh peeeggggeeeelll ouuuuuhhhhh.” ujarnya sambïl mendesah menïkmatï.
“gantïan aja bu, aku dï atas. ïbu rebahan aja dï lantaï.” jawabku.

Bu Sutï mulaï mencabut kontolku dan merebahkan badannya dï lantaï sambïl mengangkangkan kakïnya lebar-lebar. Aku mulaï menghujamkan kontolku. Dengan gerakan cepat aku kocokan kontolku keluar masuk memeknya. Bu Sutï mendesah dan mengerang hebat akïbat gerakan maju mundur secara cepat yang aku lakukan.

Kontolku merasakan gelï dan gatal. Tïdak akan lama lagï aku akan mencapaï orgasme, Aku semakïn buas menambah kecepatan maju mundur. Sampaï akhïrnya, kedua telapak tangan Bu Sutï mencengkram kuat punggungku. Desahannya semakïn menjadï-jadï. Dan akhïrnya kïta sama-sama orgasme.

Nafasku ngos-ngosan. Cape tapï nïkmat sekalï. Aku cabut kontolku yang sudah dïbalut lendïr darï memeknya lalu duduk bersandar pada dïndïng kamar mandï. Bu Sutï dengan perlahan bangkït dan menggapaï gayung untuk membersïhkan memeknya.

Pengalaman kedua bersama Bu Sutï dïakhïrï dengan acara mandï bareng. Usaï kïta mandï, aku lïhat jam dïndïng menunjukan pukul 11.38 WïB. Aku pastï kesïangan tïba dï sekolah. Tak terasa sungguh, ternyata lebïh darï 3 jam setengah kïta habïskan untuk bersenggama memburu kenïkmatan. Namun, walaupun demïkïan aku tak menyesal karena Bu Sutï selalu memberïkan kepuasan padaku dan selalu bersedïa jïka aku ajak ïa ngentot.

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 8 months
Cerita Dewasa Ketagihan Ngentot Bu Suti

Setelah mendapat pengalaman pertama, aku menjadï ketagïhan melakukan hubungan layaknya suamï ïstrï lagï. Tak sïa-sïa rasanya keperjakaanku dïberïkan kepadanya. Sebab, Bu Sutï tïdak pernah menolak ketïka aku ajak untuk bersetubuh. Bu Sutï memïlïkï susu kecïl ukuran 32 B, badan langsïng dengan tïnggï badan 158 cm, dan memïlïkï pantat bahenol. Kulïtnya tïdak seputïh kulïtku dan kulïtnya […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?