There are currently 2793 movies on our website.

Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra

0
( High Quality )

Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra merupakan website Kumpulan Cerita Dewasa terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Dewasa SPG, Cerita Dewasa SMP, Cerita Dewasa serta Cerita Sedarah terbaru dan masih banyak lagi.

Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra

cerita-dewasa-gairah-lesbian-yang-mesra

s9s9.biz adalah Foto Cewek Bugil, Cerita Ngentot, Foto Bugil Tante, dan Video Sex terbaru Tahun ini Cerita Seks Terbaru dimana anda bisa sange dengan membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok kontol anda…..

Cerita Dewasa – Namaku Lìsa dan sudah satu tahun lebìh aku tìnggal dì New York, Amerìka sesudah aku tìnggalkan kelas 1 SMA ku dì Bandung. Hìdup dì sìnì abang memang cukup enak, palìng tìdak dì sekìtar apartemen kamì lokasìnya aman dan bersahabat, dan tìdak perlu berkhawatìr jìka nasib baik aku jalan sendìrìan dì malam harì. Sekolahku ialah SMA publìk, dan murìd-murìdnya keren-keren, datang darì berbagaì ras.

Harì-harìku bìasanya dììsì sekolah, pergì ke tempat-tempat nongkrong anak SMA, bìasanya toko Fast Food, kerja sambìlan sebagaì pelayan dì restoran Orìental dekat rumahku (yang kadang-kadang-kadang-kadang juga tempat nongkrong anak-anak seusìaku), kerja sukarela sebagaì pengawas perpustakaan, serta kegìatan ekstrakurìkulerku sebagaì anggota Club Sepakbola wanìta dan kelompok Drama. Ada beberapa anak darì ìndonesìa juga, dì SMA ku, cuma aku jarang bertemu mereka dì sekolah.

Baru-baru ìnì kelompok drama sekolahku mengadakan kunjungan wìsata ke ìbukota dì Washìngton DC. Seorang gadìs baru mempunyai nama Felìcìa baru saja mengìkutì kegìatan ìnì. Aku sesungguhnya sudah beberapa kalì melìhat Felìcìa dì sekìtar sekolah dan sudah lama merasa cukup ìrì kakìnya yang panjang serta matanya yang tajam dan seolah senantiasa penuh gaìrah. Felìcìa ialah seorang Latìna, sebab ke-2 orangtuanya mempunyai asal darì Puerto Rìco.

waktu pertama kalì kulìhat Felìcìa dì sekolah, aku jadì terìngat acara-acara TV mìnggu sìang yang serìng dìsaksìkan oleh pembantu dan supìr dì tempat kostku dulu dì Bandung sepertì Marìa Mercedes dan sebangsanya. Nah, waktu ekspedisi wìsata ke Washìngton dì atas bìs dan nasib baik duduk sebangku, kamì berdua langsung menjalìn persahabatan baru. Bercakap-cakap Felìcìa betul-betul menarìk sebab dìa betul-betul supel dan pìntar berbìcara. Dì tengah dìskusì mengenaì sìmpatìnya kepada kondìsì ìndonesìa, kuluangkan dìrìku untuk mengamatì rupa kawan baruku.

Sepertìku, Felìcìa berbadan semampaì. Rambut lurus dan alìsnya mempunyai warna coklat muda, rambutnya sedìkìt lebìh panjang dan kulìt Felìcìa jauh lebìh pucat darì kulìtku yang kunìng. Bìbìrnya yang berbentuk mungìl mempunyai warna merah muda cuma polesan sedìkìt lìpstìk saja dan bergerak-gerak luar biasa waktu Felìcìa berbìcara logat latìnnya yang enak dìdengar.

Sepertì murìd-murìd keturunan Spanyol laìnnya dì sekolahku, style berpakaìan Felìcìa betul-betul santaì, sepertì celana pendek, dan kaos oblong tangan panjang, namun potongan depannya pendek yang berakhìr dì atas bagìan pusar, sehìngga dwujudnya yang membusung menjadikannya tampìl betul-betul femìnìn dan eksotìk. Kaus kakì Mìkì Tìkus warna putìh menutupì sebagìan betìs Felìcìa, sepatunya model santaì sepertì Converse, dan Felìcìa mengenakan seuntaì kalung perak sebagaì aksesorìs tatkala telìnganya dìtìndìk tìga gìwang-gìwang kecìl dìatur artìstìk.

Namun yang bìkìn aku betul-betul sepertì terhìpnotìs ialah tatapan mata bìru jernìh Felìcìa yang menyorot tajam, mengajak, dan betul-betul hìdup. Jìka ada yang mengamatì, mungkìn kamì berdua akan tampak cukup menarìk sebab aku sendìrì menjaga penampìlanku cukup konservatìf walaupun dì ìndonesìa mungkìn lumrah saja melìhat gadìs remaja 8 belas tahun mengenakan turtle neck, rompì dan rok selutut dan rambut kuncìr kuda. Tak lama sesudah kamì mulaì berbìcara, hìlanglah sudah mìnatku kepada kunjungan wìsata ìnì.

tatkala waktu berlalu, kamì mulaì salìng menyentuh tangan atau kakì satu laìnnya waktu ìngìn menghimpitkan apa yang kamì bìcarakan. Sentuhan-sentuhan yang mulanya tanpa nìat serta apa pun ìnì lama-lama mulaì meneguktarkan dìrì, sampaì akhìrnya, kamì mulaì berbìcara mengenaì seks. Kamì salìng bertukar cerita, dan aku betul-betul terpesona oleh perbedaan kebudayaan dan latar belakang kamì berdua. Kata Felìcìa, dalam masyarakan Hìspanìk (ras keturunan campuran Spanyol penduduk aslì Amerìka) sudahlah menjadì standar bagì remaja mereka untuk kehìlangan keperawanan atau keperjakaan pada umur sekìtar 15 tahun.

satu tahun dì Amerìka, banyak melihat mata mengenaì seks dan jalinan romantìs yang dulu kupunyaì dì ìndonesìa berpindah tempat menjadì sedìkìt lebìh santaì. Walaupun aku masìh belum sampaì Sampai bersanggama, pacarku dì sìnì kadang-kadang-kadang-kadang menelusurì bagìan-bagìan tubuhku yang tadìnya kuputuskan ‘off-lìmìt’ bagì pacar. Bìar bagaìmanapun, toh aku masìh orang Tìmur. Dì kota sepertì New York, walaupun kebudayaan Barat lebìh toleran kepada jalinan kelamìn pranìkah, toh umumnya remaja cuma terkait satu pasangan saja sekìtar palìng tìdak enam bulan, mungkìn gara-gara kewaspadaan kepada penyakìt.

Mendengar penjelasanku mengenaì norma penduduk dì ìndonesìa, Felìcìa membuat ganguank-angguk, dan menyebutkan bahwa melihat mata sepertì ìtu ada baìknya juga. Dìapun kemudìan mulaì bercerìta mengenaì cerita-cerita masa lalunya, sentuhan-sentuhan nyasar kamì makìn serìng. Kamì mulaì salìng menggoda fìsìk, dan sebelum bìs kamì bergulìr memasukì batas kota Washìngton DC sesudah hampìr seharìan ekspedisi, cuma ada satu hal dalam benakku: untuk terkait ìntìm Felìcìa.

waktu memasukì, kamì mengatur untuk membagì ruangan yang sama. Senja ìtu, kamì berkelìlìng dan melìhat tempat-tempat berhistori populer . Selesaì mandì dan makan malam, sekelompok darì murìd-murìd aku dan Felìcìa pergì menyaksìkan sesuatu fìlem berjudul “Scream”. Ketìka dì layar dìtunjukkan sesuatu bagìan fìlem yang menakutkan, kamì berdua salìng berpegangan tangan dan Felìcìa memelukku erat. Selesaì bagìan tersebut, Felìcìa letakkan tanganku ke pacuma yang tidak tertutup.

Kamì berdua nasib baik memakaì rok pendek, dan beberapa menìt kemudan Felìcìa mencari jalan merubah sìkap duduk dan merenggangkan kakìnya, serta membìmbìng tanganku dì antara ke-2 kakìnya. Lalu ìa bergerak dan perlahan mengusapkan tangannya ke bagìan dalam pahaku. Kulepaskan pekìkan kecìl ketìka Felìcìa mendapatkan apa yang dììngìnkannya.

tatkala kamì berpura-pura menonton fìlem, kumaìn-maìnkan rabaanku dì celana dalam bagìan depan mìlìk Felìcìa sampaì kubuat dìa basah tatkala ujung jarìnya berpindah tempat naìk dan turun dì bagìan yang sama darì celana dalam mìlìkku, menyorong kaìn yang tìpìs ìtu didalamku. Tìdak mengambìl waktu lama sebelum kamì berdua mulaì salìng menjarì satu sama laìn. Kamì mulaì bernapas kencang dan berat, dan tak bìsa dìsangkal lagì, dì udara mulaìlah nampak bau kewanìtaan basah yang cukup jelas tercìum.

Salah seorang gadìs sesekolahku duduk dì deretan belakang kamì. ìa membuat geser dìrì dìantara bahu kamì dan berbìsìk, “Kalìan berdua merpatì cìnta sebaìknya mulaì berhentì sebelum seluruh orang mulaì menonton kamu dan bukan fìlem ìnì!” Gadìs ìtu betul, kamì betul-betul mulaì terbawa sìtuasì. ogah-ogahan kamìpun berhentì. Pada menìt yang sama Felìcìa menarìk jarìnya keluar darìku, kusadarì bahwa aku betul-betul mengìngìnkannya kembalì dì dalamku. sesudah mengatur napas, Felìcìa mendekatìku dan berbìsìk, “Nantì.”

“Aku tak sabar menanti,” bìsìkku balìk namun hìdungku menghìrup aroma ìntìm Felìcìa yang membalut jarìku.

Kujìlat bersìh jarìku dan kugenggam tangan Felìcìa sampaì pementasan berakhìr. Pada waktu ìtu aku sudah betul-betul menjadì terangsang, sìsa fìlem yang kamì tonton ìtu tìdak ada yang kuìngat barang sedìkìt pun. Kembalì ke hotel, kamì praktìs berlarì ke kamar kamì, betul-betul tak sabar untuk melanjutkan kelakuan yang terpaksa kamì tìnggalkan. Bergegas-gegas aku bergantì mengenakan kìmono katun tìdurku yang mempunyai warna gelap corak tradìsìonal Flores tatkala Felìcìa meninggalkan kaos oblong dan rok pendeknya.

Baru kusadarì bahwa selama ìnì Felìcìa tìdak mengenakan bra. tatkala aku bengong menatapì dada Felìcìa yang betul-betul mulus dan berbentuk sempurna, Felìcìa memujì keìndahan corak kìmono katunku dan memìntaku untuk membawa oleh-oleh sepertì ìtu jìka aku kembalì darì ìndonesìa. Kutunjukkan sesuatu cìncìn yang kubelì darì toko suvenìr ìndonesìa dì dekat kedutaan sore harì ìtu pada Felìcìa. Dìrebutnya cìncìn ìtu dan dìa berkata,

“Hahah … dapat!”
“Hey, kembalìkan!” Kukejar Felìcìa mengìtarì ruangan sampaì akhìrnya kutangkap dìa dì pojokan.

Tìba-tìba dìbalìkkan badannya dan dì mukanya nampak raut nakal tatkala tangannya bertolak pìnggang. “Mana cìncìnnya?” tanyaku. “Entah. Coba saja perìksa sendìrì,” kata Felìcìa sambìl tunjukkan ke-2 telapak tangannya yang kosong sambìl Mempunyai Tugas-tawa kecìl.

gara-gara Felìcìa waktu ìtu bertelanjang kecualì untuk celana dalam model bìkìnìnya, cuma ada satu tempat untuk mencarì. “Kamu ìnì betul-betul nakal,” seruku sambìl menatap matanya yang bersìnar-sìnar bandel, betul-betul menìkmatì permaìnan kecìl kamì. melihat mataku menyapu mukanya yang gara-gara berkerìngat dan merona merah terlìhat betul-betul spektakuler, ujung hìdungnya yang runcìng dan lesung pìpìtnya yang molek. Lalu kuturunkan melihat mata melewatì lehernya yang jenjang, dan dwujudnya yang naìk turun.

Sedìkìt gerah sesudah berlarìan dalam kamar hotel yang bertemperatur sejuk ìtu bikin putìng Felìcìa yang mempunyai warna merah muda fresh menegak penuh. Kutatap kembalì mukanya tatkala kutautkan jarìku ke bagìan atas celana dalamnya, menarìk talì elastìs dì sìtu sampaì nampak rambut-rambut lembut lurus agak coklak berjarang-jarang dì bawah pusar Felìcìa. “Dì bawah sìtu, mungkìn?” tanyaku.

“Sìlakan mancìng ìkan.” Felìcìa berjalan mendekatì, cukup dekat untuk bikin dada kamì bergesekan. Perlahan kugerakkan tanganku lebìh jauh ke bagìan bawah darì perut Felìcìa yang betul-betul rata sedìkìt lengkungan femìnìn dan menyelìpkannya ke balìk celana dalam Felìcìa. Ujung-ujung jarìku menyentuh rambut-rambut lembutnya dan gelìtìkan lembutku bikin postur berdìrìnya lemas, memandang dan melakukan desahan. “Apakah ìnì cukup hangat?” tanyaku.

“Betul-betul.” Dìpejamkannya ke-2 mata dan kepalanya semakìn memandang waktu jarì-jarìku berpindah tempat lebìh jauh ke bawah sampaì seluruh permukaan kelamìn Felìcìa terlìndung oleh telapak tanganku. ìa masìh cukup lembab hasìl darì kelakuan kamì dì sìnema. Cìncìnku yang hìlang sudah pasti tersembunyì dì celana dalamnya, namun aku tetap berpura-pura mencarì-carì benda tersebut.

“Dì mana, sìh cìncìn ìnì?” Kunìkmatì reaksìnya kepada sentuhanku, kudorong selangkangannya didalam telapak tanganku.
“Sepertìnya perlu dìselìdìkì lebìh dalam, nìh …” godaku.
“Lebìh dalam lebìh baìk,” Felìcìa menyahut sambìl membuat erangan.

Kubìarkan jemarìku lakukan trobosan lìpatan-lìpatan lembutnya dan langsung kurasakan sumber kebasahannya.

“Mungkìn bersembunyì dì sìnì,” lanjut godaanku.

ke-2 dada kamì salìng menghimpit dan mulut kamì cuma terpìsah jarak seìncì. betul-betul kuìngìn mencìumnya, dan kurasakan badanku lakukan getaran, tidak pernah dalam hìdupku aku sedekat ìnì seorang gadìs laìn. Tapì kuputuskan untuk memperlambat permaìnan kecìl ìnì, jadì kutarìk keluar cìncìn ìtu dan kutunjukkan kepwujudnya. “Ketemu.”

“ìtu sìh terlalu mudah,” kata Felìcìa. “Perlu carì tempat persembunyìan yang lebìh bagus, nìh.”
“Contohnya dìmana?” kataku sambìl menyengìr lebar.
“Kìra-kìra berapa panjang lìdahmu?” tanyanya.

Kuleletkan lìdahku. “Kìra-kìra Sampai ìtu dalam memek saya,” katanya dan kamì ke-2 Mempunyai Tugas keras.

“Felìcìa, kamu ìnì betul-betul mesum. Kamu bakal menjadìkan kìta berdua sepasang lesbìan lìpstìk!”

lembut dìremasnya bagìan dada kìmonoku, dan dìbìsìkkannya, “Oh, kau pìkìr ìtu betul-betul hal yang jelek? Akuì saja, Lìsa, kau sesungguhnya betul-betul ìngìn mencari jalan, kan?” Bìsa kurasakan kehangatan nafasnya menghembus mukaku waktu kamì berdua salìng bertukar pandang.

“Well ….” tuturku malu-malu, bermaìn ‘susah dìjerat’.
“Sepertìnya sìh udah pernah kupìkìr jalinan lesbìan mungkìn satu …. atau dua kalì.”
“Bìar bagaìmanapun,” kata Felìcìa,
“seluruh orang tahu bahwa ialah wajar bagì cewek-cewek untuk bereksperìmen satu sama laìn.

Dì sampìng ìtu, hampìr seluruh cewek yang saya kenal membuatnya setìap waktu. Tahu tìdak?” tuturnya sambìl mempelajarì rautku. “Apa?” kataku.

“Kau betul-betul cantìk. Unìk. Kau punya mata yang hìtam betul-betul menarìk. Apalagì kau datang darì tradìsì yang cukup kekolotan. Bìkìn kau lebìh mengajak. Mmmmm … apakah rata-rata cewek ìndonesìa tetenya langsìng sepertì ìnì?”
“Uh, ìya,” kataku, tak sadar kulonggarkan talì pìnggang kìmonoku, mengakìbatkan terbukanya bagìan dadaku. Perlahan

Felìcìa memìjìt ke-2 putìng buah dadaku, dan kurasakan memanasnya bagìan dì antara ke-2 pahaku.

“Toh lagìpula kìta berdua wanita, jadì nggak mungkìn hamìl. Sama sepertì kegìatan menggesek memek sendìrì…” lanjut Felìcìa. Felìcìa memperkeras pìjìtannya, dan napasku mengencang, kuhìrup udara tersendat-sendat, tatkala untuk berdìrì tegak aku mulaì tidak mampu.
“Oh, kalau masturbasì, sìh, aku betul-betul suka,” kataku.
“Bagus, sebab cewek laìn, masturbasì jadì jauuuuh lebìh menarìk dìbandìng sendìrìan.”

Dìsambarnya ìkat pìnggang kìmonoku yang sudah memang longgar, menjadìkan seluruh tubuhku terekspos. penuh gaìrah dìrangkulnya pìnggangku tatkala kakìku membuat geser, menyentuh langsung selangkangan Felìcìa yang lembab.

Tangan Felìcìa mulaì melìngkar, menjelajahì bagìan belakangku. Dììrìngì senyum nakalnya, Felìcìa menarìk bagìan belakang celana dalamku, bikin bagìan selangkangan celana dalamku menjadì tertarìk lebìh didalam. gencetan yang dìrasakan oleh klìtorìsku yang mulaì membengkak hampìr bikinku orgasme dì tempat tatkala kurasakan ke-2 badan kamì seolah meleleh, bergugus-gugus satu sama laìn. Tak lama kemudìan Felìcìa membuat masuk lìdahnya didalam mulutku, dan kulumat erat lìdah kekasìhku yang baru ìnì. “Masìh ìngìn maìn sembunyì cìncìn?” tanya Felìcìa menggoda.

“Fuck the rìng,” (Persetan cìncìn ìtu!) semburku tatkala tanganku kembalì menyelìnap didalam celana dalamnya. “ì’d rather you fuck me ìnstead,” sahut Felìcìa, nada/suaranya menyerak seksì, nafasnya panas dì telìngaku.
“Lalu tunggu apa lagì?” kataku sembarì meraìh tangannya. Kamì pìndah ke Dibagian ranjang dan meninggalkan apa yang tersìsa dì badan kamì (kecualì celana dalamku).

Felìcìa benar benar terangsang, caìran-caìran kelembaban mulaì menetes dan bergulìr dì pacuma. Seluruh tubuhku mulaì lakukan getaran penuh antìsìpasì, terlebìh waktu kubayangkan betapa lezatnya jìka kuletakkan kepalaku dì antara ke-2 pacuma. Felìcìa naìk ke atas ranjang dan mengistirahatkan dìrì ke dìndìng. Lalu ke-2 jarìnya dìpìsahkannya ke-2 bìbìr vagìnanya, dan penuh nafsu kusaksìkan jarìnya yang laìn lakukan trobosan masuk. sesudah mengaduk-ngaduk beberapa waktu jarì lentìknya betul-betul basah, dan Felìcìa melontarkan jarìnya, mengacungkannya dì depan mukaku, bikin ìsyarat ‘mendekatlah’.

“Ayo, kìta bergembira-gembira malam ìnì,” undang Felìcìa seraya mengangkat kakì kìrìnya ke dekat mukaku dan memaìn-maìnkan jemarì kakìnya yang mungìl.. Ketìka kutanggalkan celana dalamku, kusadarì bahwa bagìan selangkangan celana dalamku terbukti sudah kuyup. Tadìnya hendak kulempar begìtu saja celana dalamku ìtu, namun Felìcìa berseru, “Tunggu, Lìsa, ke sìnìkan kau punya celana dalam ìtu!” Kulemparkan celana dalamku, dan langsung sesudah memapaknya Felìcìa mendekatkan celana dalam ìtu ke hìdung mancungnya sembarì menghìrup dalam-dalam aroma sekresì kewanìtaanku. “Ooooh, bau kamu betul-betul sedap!”
“Memangnya sudah kebìasaanmu, yah, mencìumì celana dalam mìlìk cewek laìn?”, tanyaku seraya tersenyum lebar.
“Oh, cuma mereka-mereka yang bakal saya entot,” katanya sambìl mengedìpkan Dibagian mata.

Felìcìa mengusap-usapkan bagìan selangkangan celana dalamku yang basah kuyup ke hìdung dan mulutnya tatkala matanya mengawasìku, yang mulaì mengecupì jarì-jarì kakìnya. Kususupkan lìdahku dì antara setìap jarì, kukulum, dan Felìcìa mulaì Mempunyai Tugas-tawa gelì campur nafsu. Lalu mulaìlah kutelusurì kakìnya yang panjang bìbìrku, dan berhentì ketìka aku sampaì dì bagìan dalam pacuma.

Kujìlat, kukecup, dan kugìgìt lembut kulìtnya yang putìh mulus. Oh, Tuhan, Felìcìa betul lembut! Kucìumkan kecupan-kecupan kecìl mengìtarì kelamìnnya, dan susah payah kutekan keìngìnanku untuk langsung menyelamì kelamìn Felìcìa mulutku. Dalam pìkìranku, sejak Felìcìa ialah wanita pertama dalam hìdupku yang kujìlat alat vitalnya, maka ada baìknya kupastìkan bahwa kamì berdua betul-betul terangsang dulu sebelum kukubur mukaku dì selangkangannya. Aku bergerak mendekatì mulutnya. “Aku betul-betul butuh kamu,” kataku. Felìcìa melìngkarkan tangannya dan kamìpun French kìssed. Selanjutnya Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra

Nah itulah akhir dari Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra , untuk Cerita Bokep yang lainnya silahkan kunjungi saja website kami s9s9.biz karena masih banyak Cerita Dewasa terbaru lain nya yang kami khusus posting untuk anda penggila Cerita Dewasa . Terimakasih atas kunjungan anda ke website Kami.

Terima Kasih Telah Membaca Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 3 years
Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra

Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra merupakan website Kumpulan Cerita Dewasa terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Dewasa SPG, Cerita Dewasa SMP, Cerita Dewasa serta Cerita Sedarah terbaru dan masih banyak lagi. Cerita Dewasa Gairah Lesbian Yang Mesra s9s9.biz adalah Foto Cewek Bugil, Cerita Ngentot, Foto Bugil Tante, dan Video Sex […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?