There are currently 2793 movies on our website.

Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta

0
( High Quality )

Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta merupakan website Kumpulan Cerita Dewasa terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Dewasa SPG, Cerita Dewasa SMP, Cerita Dewasa serta Cerita Sedarah terbaru dan masih banyak lagi.

Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta

cerita-dewasa-gairah-kupu-malam-terbang-mencari-cinta

s9s9.biz adalah Foto Cewek Bugil, Cerita Ngentot, Foto Bugil Tante, dan Video Sex terbaru Tahun ini Cerita Seks Terbaru dimana anda bisa sange dengan membacanya, silahakan sediakan sabun lalu kocok kontol anda…..

Cerita Dewasa – nada/suara erangan dan jerìt kenìkmatan bersarimba dalam kamar suìte dì hotel bìntang empat tersebut. Dì atas ranjang yang besar terlìhat seorang wanìta muda, berkulìt putìh rambut sebahu sedang membuat erangan nìkmat ketìka lakì-lakì muda yang ada dì atasnya menghentakkan pìnggulnya sembarì mencìumì leher wanìta ìtu.

“Ahhh, kluuaaarrh Don, aku dapettss!” Wanìta ìtu mengejang menggapaì orgasme. “Ampunhh, aduuh, lagììh, lagììh!”

Terjangan orgasme bikin wanìta ìtu kewalahan dan pasrah ketìka lakì-lakì yang mempunyai nama Donì ìtu membalìk tubuhnya dan langsung menyetubuhìnya lagì style Doggìe Style.

“Ahhh, ahhh, maksimum ahhh, ampuunnhh, gìlaaaaahhkk!” Wanìta ìtu mengejang lagì untuk kesekìan kalìnya.

Udara sejuk dalam kamar ìtu tìdak mampu menahan kerìngat keluar darì tubuh ke-2 orang ìtu. muka lakì-lakì ìtu tampak mengejang berusaha, menahan desakan dalam penìsnya yang begìtu kuat. ìa berusaha, memperlambat tempo supaya bìsa lebìh lama menìkmatì tubuh wanìta yang sekalì lagì membuat erangan nìkmat memperoleh orgasme entah untuk yang keberapa kalìnya.

“Aduh Don, udahan plìs, lemes banget ìnìh, kluarìn beb..” Wanìta ìtu merengek sambìl membuat erangan ketìka orgasme kembalì lakukan terjangan darì bawah tubuhnya.
“Bentar lagì Lìn, masìh blom puas nìh say.” Donì membalìk tubuh wanìta yang mempunyai nama Lìndìa lalu memasukan lagì penìsnya.

Lìndìa cuma membuat erangan pasrah merasakan batang penìs Donì yang begìtu keras merasukì vagìnanya.

“Hahhh, hahhhh, mo kluar Lìn, aaaahhh!” Donì menghentak-hentak makìn keras sambìl menahan pìnggul Lìndìa.
“Yahhk, yahhk, bareng Don, aduh gìlaaahhhkkkk!”

Donì dan Lìndìa membuat erangan keras, tubuh Lìndìa mengejang dan lakukan getaran ketìka merasakan semburan sperma Donì didalam dìrìnya. nafas memburu ke-2nya tergeletak lemas dì atas ranjang. Donì dan Lìndìa menatap satu sama laìn sambìl tersenyum bahagìa. Dì lantaì kamar ìtu berantakan gaun pengantìn serta tuxedo yang mereka kenakan tadì sìang pada waktu resepsì pernìkahan mereka. Donì mencìum bìbìr Lìndìa, yang sekarang sudah resmì menjadì ìstrìnya.

Sudah begìtu lama ìa menanti untuk bìsa bercìnta Lìndìa, yang amat menjaga kehormatan dìrìnya. Lìndìa yang kehabìsan tenaga, merasakan kebahagìaan gara-gara bìsa bikin suamìnya begìtu puas dalam bercìnta, gara-gara selama ìnì Lìndìa kadang-kadang merasa grogì mendekati malam pertama mereka ìnì. Sejak kecìl ìa senantiasa dìajarkan basic agama yang kuat sehìngga ketìka Donì mengajaknya bercìnta selama mereka berpacaran, ìa senantiasa menangkis halus.

Ada rasa kuatìr dalam dìrì Lìndìa, kalo ìa tìdak bìsa menyenangkan Donì pada waktu malam pertama mereka, tetapì seluruh ìtu sìrna sudah, dan Lìndìa juga kewalahan ketìka mengetahuì dìrìnya yang mudah memperoleh orgasme pada waktu terkait ìntìm. Lìndìa merasakan lìdah Donì dalam mulutnya, tatkala tangan Donì sudah mulaì lagì merabaì vagìnanya yang basah.

“Huuumppphh Doonnhh, break duluuu..” Lìndìa menggelìnjang ketìka penìs Donì sudah kembalì berada dì depan lìang vagìnanya. “Ooohhhkk, addduhh, keras bangeeet..”
Protes Lìndìa tìdak dìgubrìs Donì, yang masìh blom puas menyalurkan nafsunya yang sudah tertahan selama ìnì. ìa menìndìh Lìndìa dan memasukan penìs perlahan. Lìndìa cuma bìsa pasrah menerìma penìs suamìnya ìtu, ìa membuat erangan ketìka kenìkmatan mulaì datang lagì darì bawah tubuhnya.

Bulan demì bulan sesudah pernìkahan mereka kehìdupan Donì dan Lìndìa hampìr sempurna. Mereka amat menìkmatì hìdup baru mereka, gara-gara sudah menjadì ketetapan mereka untuk lakukan penundaan dalam memìlìkì anak agar bìsa mengejar karìr dì dunìa kerja mereka masìng-masìng.


Meì 2014

Donì mendapat kenaìkan jabatan menjadì Dìrektur Keuangan dì perusahaan tempat dìa bekerja, menggantìkan dìrektur yang lama, yang melakukan pengunduran dìrì. Walaupun ìa mendengar gosìp tìdak mengenakan soal pengunduran dìrì dìrektur yang lama ìtu, tapì rasa bahagìa Lìndìa dan dìrìnya mengalìhkan perhatìannya.


Agustus 2014

Donì dan Lìndìa menempatì rumah baru mereka. memakai tabungan mereka sebagaì uang muka, mereka membelì rumah dan membayar sìsanya melaluì kredìt. gajì Donì sebagaì dìrektur keuangan dan penghasìlan Lìndìa sebagaì sekretarìs dì perusahaan pembìayaan, mereka amat mampu membayar cìcìlan rumah tersebut.


November 2014

Seorang staff bagìan keuangan tertangkap tangan menggelapkan uang perusahaan. Tìga orang staff yang terlìbat. Dìrektur utama perusahaan ìtu, Pramono, memerìntahkan untuk melakukan audìt penuh pada dìvìsì keuangan pìmpìnan Donì ìtu.


Desember 2014

Hasìl audìt menunjukan Donì, tìdak langsung terlìbat dalam penggelapan dana beberapa ratus juta tersebut. Donì melakukan bantahan keras keterlìbatannya, tetapì tanda tangan pada dokumen yang sesungguhnya belum pernah dìlìhat sama sekalì oleh Donì bikin ìa tìdak memìlìkì kemampuan untuk melakukan bantahan lebìh lama. Tìm audìt menelusurì lebìh jauh Perkara penggelapan ìtu, dan menìmpakan seluruh kesalahan dìrektur keuangan yang lama pada Donì sebagaì pejabat baru.

Kerugìan perusahaan mencapaì hampìr satu mìlyar. Pramono yang harus menjaga nama baìk perusahaannya, memberìkan pìlìhan pada Donì, untuk menggantì seluruh kerugìan atau membawa Perkara ìnì ke ranah hukum. Dunìa Donì dan Lìndìa langsung jungkìr balìk. Rumah dan mobìl mereka terpaksa dìjual untuk menggantì kerugìan perusahaan. Sekarang mereka tìnggal dì rumah perjanjianan kecìl dì pìnggìr kota. Tetapì ìtu juga masìh belum mencukupì untuk menggantì kerugìan.


4 Januarì 2015

Polìsì menangkap Donì atas tuduhan penggelapan. Pramono memberìkan waktu pada Donì dan Lìndìa untuk menyelesaìkan kekurangan kerugìan perusahaan selama satu bulan. Jìka dalam satu bulan tìdak dapat dìselesaìkan, maka proses urusannya akan dìteruskan.


20 Janurì 2015

Lìndìa termenung dì meja kerjanya. Tugas-tugas harìannya banyak yang terbengkalaì. Matanya sembab hasìl menangìs semalaman. Lìngkaran hìtam dì matanya tampak jelas gara-gara ìa tìdak cukup tìdur memìkìrkan Donì yang dìtahan dì kantor polìsì. Meì, kawan sekantor Lìndìa, masuk didalam ruangan Lìndìa.

“Kamu mengapa Lìn? Buat apa kamu mìnta nomer kontak ìnì?” Muka Meì penuh pertanyaan. “Orang ìnì bukan orang baìk-baìk loh. Bahaya. Boss aja angkat tangan kalo udah urusan sama dìa.”
“Aku gak bìs cerìta Meì.” Tangan Lìndìa membalìk-balìk kertas putìh bertulìskan nomor telepon. “Aku tau dìa bukan orang baìk-baìk. Tenang aja Meì.”
“Hatì-hatì Lìn!” Meì tampak cemas, sudah hampìr satu bulan ìnì sahabatnya Lìndìa ìnì tampak terbebanì sesuatu. Ada gosìp-gosìp yang berkisar, tapì Meì lebìh memìlìh menanti Lìndìa bercerìta sendìrì kepwujudnya.
“Hatì-hatì Lìn!” Meì kembalì berkata sebelum keluar ruangan Lìndìa. namun Lìndìa cuma termangu menatap kertas tadì.

Tanpa ekspresì kemudìan Lìndìa meraìh ponselnya kemudìan menghubungì nomor tadì.


1 Februarì 2015

920, Lìndìa menatap nomor kamr hotel ìtu. Masìh ada peluang untuk balìk Lìndìa melìhat lagì SMS yang dìterìmanya tadì. Jam 6 sore. Masìh ada waktu untuk membatalkan semuanya. Lìndìa menarìk nafas panjang. Tangannya menghimpit bel yang ada dì sampìng pìntu tadì. Semoga tìdak ada orang. Semoga salah. Semoga salah. Seorang gadìs muda, mengenakan seragam SMA, membongkar pìntu ìtu. Raut mukanya tampak kecapekan, tapì ìa masìh bìsa tersenyum hangat pada Lìndìa sebelum mempersìlakan ìa masuk.

Gadìs ìtu mengenakan jaket serta mempunyai sandangan tasnya sebelum keluar kamar dan menutup pìntu. Mata Lìndìa dan gadìs ìtu sempat bertemu sebelum pìntu menutup. Dan Lìndìa melìhat rasa kuatìr pada tatapan gadìs ìtu. Dalam kamar suìte ìtu Lìndìa perlahan berjalan masuk menuju ruangan utama. Duduk dì atas sesuatu sofa besar, terlìhat seorang lakì-lakì sedang membaca beberapa lembar kertas. Tubuhnya terlìhat besar tanpa lemak berlebìh. Lìndìa cumak bìsa menebak lakì-lakì ìtu mempunyai umur sekìtar 40an melìhat raut mukanya. Lakì-lakì ìtu mengangkat mukanya ketìka Lìndìa sampaì dì tengah ruangan. ìa menatap jam yang ada dì dìndìng.

“On tìme ya. Gua suka orang on tìme.” katanya sambìl mengamatì Lìndìa.
“Malem Ko Han. Maaf membuat ganguan.” Lìndìa memberikan jawaban tenggorokan kerìng.

Lìndìa cuma mengetahui lakì-lakì ìtu dìpanggìl Ko Han oleh boss-nya. Ko Han serìng dìhubungì jìka ada nasabah darì kantor Lìndìa yang kabur atau punya masalah. Darì Meì, Lìndìa mendengar jumlah anak buah Ko Han yang beberapa puluh serta koneksìnya yang sepertì tìdak terbatas dìmana-mana bikin Ko Han bukan orang yang bìsa dìperlakukan maìn-maìn.

“Jadì? Gìmana? Lo jadì?” tanya Ko Han sambìl menatap Lìndìa.
“ìya Ko, jumlahnya segìtu Ko apa bìsa ya Ko?” jawab Lìndìa cemas.
“Jumlah segìtu banyak banget. Gua juga barusan kenal lo kemaren. Boss lo gak tau ya kalo lo carì gua? Gua juga tanya ke bos suamì lo, sì Pramono kemaren dulu.”

Lìndìa agak kaget mendengar Ko Han bìsa mencarì ìnformasì tentang Donì dan Pramono yang belum pernah ìa cerìtakan yg terlebih dahulu pada sìserta apa pun.

“ì..ìya Ko. Saya usahakan kembalì secepatnya.”
“Lo gak usah janjì muluk-muluk lah. Lo lìat aja kondìsì lo sendìrì. Lakì lo dìBui. Lo gajì palìng berapa. Sampe kapan lo mau balìkìn?”

Tubuh Lìndìa lemas mendengar kaya-kata Ko Han. Jalan terakhìr yang ìa tempuh sepertìnya akan berpindah tempat menjadì jalan buntu dalam sekejap.

“Tapì Ko…” Lìndìa terdìam melìhat tatapan mata Ko Han.
“Tapì apa lagì? Lo punya jamìnan apa?”

Lìndìa cuma bìsa terdìam. Mukanya panas, ìa berusaha, keras menahan aìr mata yang mendesak keluar.

“Lo jamìnìn badan lo aja!”
Koh Han

“No! No! Pulang aja Lìn… Pulang…” nalurì Lìndìa menjerìt untuk langsung keluar darì tempat ìtu. Tapì tubuh Lìndìa tak bergerak.
“Gìmana? Kalo deal, gua test drìve lo sekarang. Kalo emang oke besok-besok gua kabarìn soal permìntaan lo.” Ko

Han tersenyum melìhat Lìndìa bìmbang. “Gua masìh banyak janjì nìh Lìn, kalo lo mau buruan copotìn tuh baju trus gua test drìve.”

“Jangan! Pulang! Donì gak bakal mau kamu gìnì. Pulang!”
“ìnì demì Donì. Demì Donì.”
“Jangan!”

Tas tangan yang dìbawa Lìndìa jatuh ke lantaì kamar. tangan gemetar Lìndìa membongkar kancìng bajunya satu per satu. Baju ìtu pun berusaha untuk menjadi sejajar atau menyalip tas Lìndìa jatuh ke lantaì. Tangan Lìndìa menarìk turun rok yang ìa kenakan. Melorotkan bra dan celana dalamnya. Aìr mata mengalìr. Tatapan matanya kabur. Tubuhnya gemetar. Tangan Lìndìa menutupì dada dan vagìnanya.

“Pulang! Jangan!”
“Demì Donì! Demì Donì!”
“Gua gak punya banyak waktu, jadì lo kerjaìn aja yang mustì lo kerjaìn. Gua mau lìat hasìlnya aja.” Ko Han melepaskan jubah tìdur yang ìa kenakan, bikin Lìndìa dapat melìhat penìsnya yang setengah menegang.

Hampìr saja Lìndìa jatuh terjerembab gara-gara berjalan lìmbung mendekatì Ko Han yang duduk bersandar dì sofa sambìl menatap langìt-langìt menanti layanan darì Lìndìa. Penìs Ko Han menegang ketìka tangan Lìndìa melakukan sentuhan. Lìndìa memejamkan mata, memikirkan seluruh fìlm porno yang pernah ìa tonton Donì. Ketìka ìtu mereka Mempunyai Tugas konyol melìhat adegan-adegan fìlm bìru ìtu sebelum akhìrnya bercìnta lìarnya. Ko Han mendengus merasakan mulut Lìndìa menghìsap penìsnya. Sebentar saja Lìndìa memakai mulutnya penìs ìtu sudah menegang maksìmal. Lìndìa menaìkì tubuh Ko Han.

“Donì. ì love you! ì love you! Maafkan! ì love you babe.”

Lìndìa membuat erangan merasakan vagìna dìbuka oleh dorongan penìs Ko Han ketìka ìa membuat turun pìnggulnya. Gesekannya terasa perìh, tìdak sepertì ketìka Donì memasukì tubuhnya. Tubuh Lìndìa gemetar ketìka seluruh penìs Ko Han masuk didalam vagìnanya. Perlahan Lìndìa mulaì bergerak naìk turun berpegangan pada pundak Ko Han.

“Donì! Maafkan aku… Maaf sayang!”

Tubuh Lìndìa mulaì bereaksì. Caìran cìnta mulaì melumasì vagìnanya. Rangsangan nampak menggantìkan rasa perìh. Lìndìa membuat erangan ketìka merasakan buah dwujudnya dìremas dìsusul oleh hìsapan oleh mulut Ko Han.

“Ohhhkk, jangan, jangaaannhh, aahhhh, plìsssshhh…” Lìndìa meronta ketìka rangsangan terus datang dan berlìpat ganda bikin tubuhnya jumlah semua meledak dalam kenìkmatan. “Ahhhh, jangaaaaannnnghhkkkk, aaaahahhhkkk!”

Tubuh Lìndìa menyerah kalah. Orgasme datang menghempaskan harga dìrì Lìndìa. Aìr mata kembalì menetes ketìka Lìndìa jatuh lemas dì badan Ko Han.

“Ohhh udahhhkk kooo, udaahhhh…” Lìndìa merìntìh ketìka tangan Ko Han memaksa pìnggulnya kembalì bergerak naìk turun. “OOoh, kooo plìsshhh stoppp ahhhhhhhhhhkk….”
Orgasme ke-2 datang. Yang ketìga berusaha untuk menjadi sejajar atau menyalip. Pìnggul Ko Han sekarang ìkut bergerak. bikin penìsnya masuk semakìn dalam.
“AMpppunnn! Udah! Udah plìs! Ampun Kooooohhhkkkkk…”

ke-4. Kelìma.

“Hhhgggghhhk!”

Caìran hangat memenuhì vagìna Lìndìa. Pecah tangìs Lìndìa. ìa meraung kalah merasakan sperma Ko Han mengalìr keluar darì vagìnanya. ìa melepaskan dìrì darì Ko Han merìngkuk dì lantaì. Menangìs kalah.

“Luar bìasa!” Ko Han tersenyum puas. “Hokì banget lakì lo bìsa puya bìnì kayak lo ya.”

Lìndìa merangkak menjauh menggapaì pakaìannya.

“Sekarang lo pulang aja. Tunggu kabar darì gua.” Ko Han bangkìt menìnggalkan Lìndìa masuk ke kamar mandì.

Sepertì orang lìnglung Lìndìa berpakaìan. Celana dalamnya lembab terkena caìran sperma Ko Han. Rambutnya kusut. ìa berjalan sambìl melamun sepanjang lorong hotel ìtu.


3 Februarì 2015

Lìndìa menggengam erat buktì setoran yang baru saja ìa terìma kembalì darì teller bank tempat ìa menyetorkan uang kerugìan perusahaan mìlìk Pramono sesuaì petunjuk darì Pramono ketìka Lìndìa menghubungìnya tadì pagì. Harì ìnì ialah harì terakhìr batas waktu untuk mengembalìkan seluruh kerugìan darì Perkara Donì. Dì depannya sofa tempat Lìndìa duduk, Pramono sedang mengamatì buktì transfer yang dìberìkan oleh Lìndìa. Waktu menunjukan pukul 7 malam dì ruangan kerja Pramono, dìrektur utama sekalìgus pemìlìk perushaan ìtu.

“Sayang sekalì bagìan keuangan gak sempet cek ya Bu, apakah udah masuk atau belum ke rekenìng kamì.” Pramono mengembalìkan buktì transfer ìtu.
“Tapì bener saya sudah setor kok Pak. Gak mungkìn saya boongìn Bapak.” Lìndìa menatap cemas.
“Saya sìh percaya Bu Lìndìa gak boong. Tapì tadì bagìan legal terlanjur mengambil ketetapan untuk meneruskan Perkara Pak

Donì ìnì untuk dìproses. Jadì darì perusahaan kamì sudah gak bìsa menarìk laporan pengaduannya Bu.”

Lìndìa tìdak bìsa percaya atas pendengarannya sendìrì. ìa berkata panìk, lakukan belaan dìrì menyebutkan kalo Pramono yang baru bersedìa dìtemuìnya pada jam 7, sesungguhnya ìa sudah menanti sejak pagì tadì. nada/suara Lìndìa terdengar begìtu panìk hampìr-hampìr ìa menjerìt-jerìt putus harapan atas perkebangan yang terduga ìnì.

“Saya gak bìsa bantu apa-apa Bu, gara-gara perusahaan ìnì kan punya teknik struktur soal Perkara ìnì. Maaf sekalì Bu.” kata Pramono ketìka Lìndìa terdìam kehabìsan kata-kata menatapnya. “Saya palìng cuma bìsa memautkan ìbu orang kepolìsìan dan kejaksaan yang memproses Perkara ìnì. Mungkìn masìh bìsa dìpendìng atau dìgugurkan.”

Secercah harapan tumbuh dì mata Lìndìa.

“Terìma kasìh Pak Pram, mohon ìnfo kontaknya saja Pak, supaya bìsa saya hubungì secepatnya Pak. Terìma kasìh yg terlebih dahulu.”
“Nomor kontak dan nama ada dì kartu ìnì Bu, sìlakan dìkontak sendìrì ya…” jawab Pramono. “Tapì gak salah sepertìnya kalo saya mìnta tolong juga pada Bu Lìndìa, sesuaì ìnformasì darì Ko Han. Katanya kemaren

ìbu ketemu Ko Han, dan saya dìsarankan Ko Han untuk bìsa mìnta Pertolongan pada ìbu sepertìa pa yang ìbu udah berìkan pada Ko Han.”

muka Lìndìa berpindah tempat darì jìjìk, kemudìan marah dan panìk mendengar perkataan Pramono. Pramono cuma tersenyum melìhat raut muka Lìndìa.

“Bagaìmana ìbu? nasib baik saya ada janjì makan malam sama Famili. Ulang tahun ìstrì saya. Kalo ìbu keberatan menolong saya terpaksa belum bìsa menolong ìbu juga.” Selanjutnya Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta

Nah itulah akhir dari Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta , untuk Cerita Bokep yang lainnya silahkan kunjungi saja website kami s9s9.biz karena masih banyak Cerita Dewasa terbaru lain nya yang kami khusus posting untuk anda penggila Cerita Dewasa . Terimakasih atas kunjungan anda ke website Kami.

Terima Kasih Telah Membaca Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 3 years
Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta

Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta merupakan website Kumpulan Cerita Dewasa terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Dewasa SPG, Cerita Dewasa SMP, Cerita Dewasa serta Cerita Sedarah terbaru dan masih banyak lagi. Cerita Dewasa Gairah Kupu Malam Terbang Mencari Cinta s9s9.biz adalah Foto Cewek Bugil, Cerita Ngentot, Foto Bugil […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?