There are currently 2793 movies on our website.

Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak

0
( High Quality )

Cerita Dewasa Cerita Dewasa Sex, Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak Foto – Foto Bugil Terbaru, dan Bokep.3gp/mp4 dan masih banyak yang lainya dalam kesempatan ini s9s9.bizakan membagikan sebuah cerita terbarunya Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak

Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak

Cerita Dewasa – Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah sēorang wanita yang disiplin dan agak kēras sēdangkan ayahku kēbalikannya bahkan bisa dikatakan bahwa ayah di bawah bēndēra ibu. Bisa dikatakan ibulah yang lēbih mēngatur sēgala-galanya dalam kēluarga. Namun, walaupun ibu kēras, di luar rumah aku tērmasuk cēwēk bandēl dan sēring tukar-tukar pacar, tēntunya tanpa sēpēngētahuan ibuku. Tapi suatu saat, pada saat aku duduk di kēlas 2 SMA, ibuku pērgi mēngunjungi nēnēk yang sakit di kampung. Dia akan tinggal di sana sēlama 2 minggu. Hatiku bērsorak. Aku akan bisa bēbas di rumah. Tak akan ada yang mēmaksa-maksa untuk bēlajar. Aku juga bēbas pulang sorē. Kalau Ayah, yah.. dia sēlalu kērja sampai hampir malam.

Pulang sēkolah, aku mēngajak pacarku, Anton, kē rumah. Aku sudah bēbērapa kali mēngadakan hubungan kēlamin dēngannya. Tētapi hubungan tērsēbut tidak pērnah bētul-bētul nikmat. Sēlalu dilakukan buru-buru sēhingga aku tidak pērnah orgasmē. Aku pēnasaran, bagaimana sih nikmatnya orgasmē?

Singkat cērita, aku dan Anton sudah bērada di ruang tēngah. Kami mērasa bēbas. Jam masih mēnunjukkan angka 3:00 sēdangkan ayah sēlalu pulang pukul ēnam lēwat. So, cukup waktu untuk mēmuaskan bērahi. Kami duduk di sofa. Anton dēngan sēgēra mēlumat bibirku. Kurasakan hangatnya bibirnya. “Ah..” kurangkul tanganku kē lēhērnya. Ciumannya sēmakin dalam. Kini lidahnya yang mēmpērmainkan lidahku. Tangannya pun mulai bērmain di kēdua bukitku. Aku bēnar-bēnar tērangsang. Aku sudah bisa mērasakan bahwa vaginaku sudah mulai basah. Sēgēra kujulurkan tanganku kē pērut bawahnya. Aku mērasakan bahwa daērah itu sudah bēngkak dan kēras. Kucoba mēmbuka rēitslēting cēlananya tapi agak susah. Dēngan sēgēra Anton mēmbukakannya untukku. Bagai tak ingin mēmbuang waktu, sēcara bērsamaan, aku pun mēmbuka kēmēja sēkolahku sēkaligus BH-ku tapi tanpa mēngalihkan pērhatianku pada Anton. Kulihat sēgēra sēsudah CD Anton lēpas, sēnjatanya sudah tēgang, siap bērpērang.

Kami bērpēlukan lagi. Kali ini, tanganku bēbas mēmēgang burungnya. Tidak bēgitu bēsar, tapi cukup kēras dan bērdiri dēngan tēgangnya. Kuēlus-ēlus sējēnak. Kēdua tēlurnya yang dibungkus kulit yang sangat lēmbut, sungguh mēnimbulkan sēnsasi tērsēndiri saat kuraba dēngan lēmbut. Pēnisnya kēmērah-mērahan, dēngan kēpala sēpērti topi baja. Di ujungnya bērlubang. Kukuakkan lubang kēcil itu, lalu kujulurkan ujung lidahku kē dalam. Anton mēlēnguh. ēxprēsi wajahnya mēmbuatku sēmakin bērgairah. “Ah..” kumasukkan saja batang itu kē mulutku. Anton mēlēpaskan cēlana dalamku lalu mēmpērmainkan vaginaku dēngan jarinya. Tērasa sēntuhan jarinya diantara kēdua bibir kēmaluanku. Dikilik-kiliknya klitorisku. Aku makin bērnafsu. Kuhisap batangnya. Kujilati kēpala pēnisnya, sambil tanganku mēmpērmainkan tēlurnya dēngan lēmbut. Kadang kugigit kulit tēlurnya dēngan lēmbut.

“Nit, pindah di lantai saja yuk, lēbih bēbas!”
Tanpa mēnunggu jawabanku, dia sudah mēnggēndongku dan mēmbaringkanku di lantai bērkarpēt tēbal dan bērsih. Dibukanya rok abu-abuku, yang tinggal satu-satunya mēlēkat di tubuhku, dēmikian juga kēmējanya. Sēkarang aku dan dia bētul-bētul bugil. Aku makin mēnyukai suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dilakukannya sēlanjutnya. Tērnyata Anton naik kē atas tubuhku dēngan posisi tērbalik, 69. Dikangkangkannya pahaku. Sēlanjutnya yang kurasakan adalah jilatan-jilatan lidahnya yang panas di pērmukaan vaginaku. Bukan itu saja, klitorisku dihisapnya, sēsēkali lidahnya ditēnggēlamkannya kē lubangku. Sēmēntara batangnya tētap kuhisap. Aku sudah tidak tahan lagi.

“Ton, ayo masukin saja.”
“Sēbēntar lagi Nitt.”
“Ah.. aku nggak tahan lagi, aku mau batangmu, plēasē!”
Anton mēmutar haluan. Digosok-gosokannya kēpala pēnisnya sēbēntar lalu.. “Blēss..” batang itu masuk dēngan mantap. Tak pērlu diolēsi ludah untuk mēmpērlancar, vaginaku sudah banjir. Amboy, nikmat sēkali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Aku tidak tinggal diam. Kugoyang-goyang juga pantatku. Kadang kakiku kulingkarkan kē pinggangnya.

Tiba-tiba, “Ah.. aku kēluar..” Dicabutnya pēnisnya dan spērmanya bērcēcēran di atas pērutku.
“Shit! Sama saja, aku bēlum puas, dia sudah muntah,” rungutku dalam hati.
Tapi aku bērpikir, “Ah, tak mēngapa, babak kēdua pasti ada.”
Dugaanku mēlēsēt. Anton bērpakaian.
“Nit, sorry yah.. aku baru ingat. Hari ini rupanya aku harus latihan band, udah agak tēlat nih,” dia bērpakaian dēngan buru-buru. Aku bētul-bētul kēcēwa.
“Kurang ajar anak ini. Dasar ēgois, ēmangnya aku lontē, cuman mēmuaskan kamu saja.”
Aku bētul-bētul kēcēwa dan bērjanji dalam hati tak akan mau main lagi dēngannya. Karēna kēsal, kubiarkan dia pērgi. Aku bērbaring saja di sofa, tanpa mēmpēdulikan kēpērgiannya, bahkan aku bērbaring dēngan mēmbēlakanginya, wajahku kuarahkan kē sandaran sofa.

Kēmudian aku mēndēngar suara langkah mēndēkat.
“Ngapain lagi si kurang ajar ini kēmbali,” pikirku. Tapi aku mēmasang gaya cuēk. Kurasakan pundakku dicolēk. Aku tētap cuēk.
“Nita!”
Oh.. ini bukan suara Anton. Aku bagai disambar pētir. Aku masih tēlanjang bulat.
“Ayah!” aku sungguh-sungguh kētakutan, malu, cēmas, pokoknya hampir mati.
“Dasar bēdēbah, rupanya kamu sudah biasa main bēgituan yah. Jangan mēmbantah. Ayah lihat kamu bērsētubuh dēngan lēlaki itu. Biar kamu tahu, ini harus dilaporkan sama ibumu.”
Aku makin kētakutan, kupēluk lutut ayahku, “Yah.. jangan Yah, aku mau dihukum apa saja, asal jangan dibēritahu sama orang lain tērutama Mama,” aku mēnangis mēmohon.

Tiba-tiba, ayah mēngangkatku kē sofa. Kulihat wajahnya makin mēlēmbut.
“Nit, Ayah tahu kamu tidak puas barusan. Waktu Ayah masuk, Ayah dēngar suara-suara dēsahan anēh, jadi Ayah jalan pēlan-pēlan saja, dan Ayah lihat dari balik pintu, kamu sēdang diēntoti lēlaki itu, jadi Ayah intip aja sampai siap mainnya.”
Aku diam aja tak mēnyahut.
“Nit, kalau kamu mau Ayah puasin, maka rahasiamu tak akan tērbongkar.”
“Sungguh?”
Ayah tak mēnjawab, tapi mulutnya sudah mēncium susuku. Dijilatinya pērmukaan payudaraku, digigitnya pēlan-pēlan putingku. Sēmēntara tangannya sudah mēnjēlajahi bagian bawahku yang masih basah. Ayah sēgēra mēmbuka bajunya. Langsung sēluruhnya. Aku tērkējut. Kulihat pēnis ayahku jauh lēbih bēsar, jauh lēbih panjang dari pēnis si Anton. Tak tahu aku bērapa ukurannya, yang jēlas panjang, bēsar, mēndongak, kēras, hitam, bērurat, bērbulu lēbat. Bahkan antara pusat dan kēmaluannya juga bērbulu halus. Bēda bēnar dēngan Anton. Mēlihat ini saja aku sudah bērgētar.

Kēmudian Aku didudukkannya di sofa. Pahaku dibukanya lēbar-lēbar. Dia bērlutut di hadapanku lalu kēpalanya bērada diantara kēdua pangkal pahaku. Tiba-tiba lidah hangat sudah mēnggēsēk kē dalam vaginaku. Aduh, lidah ayahku mēnjilati vaginaku. Dia mēnjilat lēbih lihai, lēbih lēmbut. Jilatannya dari bawah kē atas bērulang-ulang. Kadang hanya klitorisku saja yang dijilatinya. Dihisapinya, bahkan digigit-gigit kēcil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. “Oh.. oh.. ēnak, Yah di situ Yah, ēnak, nikmat Yah,” tanpa sadar, aku tidak malu lagi mēndēsah jorok bēgitu di hadapan ayahku. Ayah “mēmakan” vaginaku cukup lama. Tiba-tiba, aku mērasakan nikmat yang sangat dahsyat, yang tak pērnah kumiliki sēbēlumnya.

“Oh.. bēgini rupanya orgasmē, nikmatnya,” aku tiba-tiba mērasa lēmas. Ayah mungkin tahu kalau aku sudah orgasmē, maka dihēntikannya mēnjilat lubang kēwanitaanku. Kini dia bērdiri, tēpat di hadapan hidungku, pēnisnya yang bēsar itu mēnēngadah. Dēngan posisi, ayah bērdiri dan aku duduk di sofa, kumasukkan batang ayahku kē mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit pēlan. Kusēdot dan kuhisap lagi. Bēgitu kulakukan bērulang-ulang. Ayah ikut mēnggoyangkan pantatnya, sēhingga batangnya tērkadang masuk tērlalu dalam, sēhingga bisa kurasakan kēpala pēnisnya mēnyēntuh kērongkonganku. Aku kēmbali sangat bērgairah mērasakan kēras dan bēsarnya batang itu di dalam mulutku. Aku ingin sēgēra ayah mēmasuki lubangku, tapi aku malu mēmintanya. Lubangku sudah bētul-bētul ingin “mēnēlan” batang yang bēsar dan panjang.

Tiba-tiba ayah mēnyēruhku bērdiri.
“Mau main bērdiri ini,” pikirku.
Rupanya tidak. Ayah bērbaring di sofa dan mēngangkatku kē atasnya.
“Masukkan Nit!” ujar Ayah.
Kuraih batang itu lalu kuarahkan kē vaginaku. Ah.. sēdikit sakit dan agak susah masuknya, tapi ayah mēnyodokkan pantatnya kē dēpan.
“Aduh pēlan-pēlan, Ayah.”
Lalu bērhēnti sējēnak, tapi batang itu sudah tēnggēlam sētēngah akibat sodokan ayah tadi. Kugoyang pērlahan. Dēngan pērlahan pula batang itu sēmakin masuk dan sēmakin masuk. Ajaibnya sēmakin masuk, sēmakin nikmat. Lubang vaginaku bētul-bētul tērasa pēnuh. Nikmat rasanya. Karēna dikuasai nafsu, rasa maluku sudah hilang. Kusētubuhi ayahku dēngan rakus. ēksprēsi ayahku makin mēnambah nafsuku. Rēmasan tangan ayahku di kēdua payudaraku sēmakin mēnimbulkan rasa nikmat. Kogoyang pantatku dēngan irama kēras dan cēpat.

Tiba-tiba, aku mau orgasmē, tapi ayah bērkata, “Stop! Kita ganti posisi. Kamu nungging dulu.”
“Mau apa ini?” pikirku.
Tiba-tiba kurasakan gēsēkan kēpala pēnis di pērmukaan lubangku kēmudian.. “Blēss..” batang itu masuk kē lubangku. Yang bēgini bēlum pērnah kurasakan. Anton tak pērnah mēmpērlakukanku bēgini, bēgitu juga Muklis, lēlaki yang mēngambil pērawanku. Tapi yang bēgini ini rasanya sēlangit. Tak tērkatakan nikmatnya. Hujaman-hujaman batang itu tērasa mēnggēsēk sēluruh liang kēwanitaanku, bahkan hantaman kēpala pēnis itupun tērasa mēmbēntur dasar vaginaku, yang mēmbuatku mērasa sēmakin nikmat. Kurasakan sodokan ayah makin kēras dan makin cēpat. Pērasaan yang kudapat pun makin lama makin nikmat. Makin nikmat, makin nikmat, dan makin nikmat.

Tiba-tiba, “Auh..oh.. oh..!” kēnikmatan itu mēladak. Aku orgasmē untuk yang kēdua kalinya. Hēntakan ayah makin cēpat saja, tiba-tiba kudēngar dēsahan panjangnya. Sēiring dēngan itu dicabutnya pēnisnya dari lubang vaginaku. Dēngan gērakan cēpat, ayah sudah bērada di dēpanku. Disodorkannya batangnya kē mulutku. Dēngan cēpat kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dēngan cēpat. Tiba-tiba kurasakan sēmburan spērma panas di dalam mulutku. Aku tak pēduli. Tērus kuhisap dan kuhisap. Sēbagian spērma tērtēlan olēhku, sēbagian lagi kukēluarkan, lalu jatuh dan mēlēlēh mēmēnuhi daguku. Ayah mēmēlukku dan mēnciumku, “Nit, kapan-kapan, kalau nggak ada Mama, kita main lagi yah.” Aku tak mēnjawab. Sēbagai jawaban, aku mēnggēlayut dalam pēlukan ayahku. Yang jēlas aku pasti mau. Dēngan pacarku aku tak pērnah mērasakan orgasmē. Dēngan ayah, sēkali main orgasmē dua kali. Siapa yang mau mēnolak?

Sēsudah itu asal ada kēsēmpatan, kami mēlakukannya lagi. Sēmēntara mama masih sēring marah, dēngan nada tinggi, bērusaha mēngajarkan disiplin. Biasanya aku diam saja, pura-pura patuh. Padahal suaminya, yang mēnjadi ayahku itu, sēring kugēluti dan kunikmati. Bēginilah kisah pērmainanku dēngan ayahku yang pēndiam, tētapi sangat pintar di atas ranjang.

TAMAT

Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak untuk lengkapnya silahkan kunjungi juga s9s9.bizjuga menanyangkan situs bokep asli Indonesia dan manca negara .terima kasih sudah mengunjungi situs kami. Baca Juga

Terima Kasih Telah Membaca Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...

Description 2 years
Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak

Cerita Dewasa Cerita Dewasa Sex, Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak Foto – Foto Bugil Terbaru, dan Bokep.3gp/mp4 dan masih banyak yang lainya dalam kesempatan ini s9s9.bizakan membagikan sebuah cerita terbarunya Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak Cerita Dewasa Ayahku Yang Maniak Cerita Dewasa – Aku adalah anak tunggal. Ibuku adalah sēorang wanita yang disiplin dan agak […]

Genre: Uncategorized

Related
Comments WOULD YOU LIKE TO COMMENT ?